Home / Berita / Internasional / Asia / Di Balik Hubungan Strategis Turki dan Qatar

Di Balik Hubungan Strategis Turki dan Qatar

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan bersama dengan Emir Negara Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani. (@trpresidency)
dakwatuna.com – Doha. Turki dan Qatar terikat hubungan strategis dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi dan militer.

Tahun 2015 lalu, Turki dan Qatar membentuk Komite Strategis Tinggi untuk menjaga dan meningkatkan hubungan keduanya. Komite tersebut mengadakan pertemuan rutin antara pemimpin kedua negara.

Berikut ini merupakan bidang-bidang utama kolaborasi kedua negara, seperti dikutip dari Aljazeera.

Investasi Qatar

Pada Mei 2017, Ketua Kamar Dagang Qatar Muhammad bin Twar mengatakan, “Perusahaan Turki di Qatar menangani proyek senilai sekitar $ 11,6 miliar. Sebagian besarnya merupakan proyek untuk Piala Dunia 2022.”

“Investasi Qatar di Turki mencapai $ 20 miliar. Nilai kedua tertinggi dari negara lain ayng berinvestasi di Turki,” imbuh Twar.

Media Turki melaporkan, Qatar akan berinvestasi senilai lebih dari $ 19 miliar tahun 2018. $ 650 juta di antaranya dialokasikan ke sektor pertanian dan peternakan.

“Karena keuntungan investasi yang menarik dan kuatnya hubungan dengan Qatar,” kata Kamar Dagang Qatar mendorong para pengusaha berinvestasi di Turki.

Baru-baru ini, Emir Qatar Syaikh Tamim bin Hamad menggelontorkan dana investasi sebesar $ 15 miliar kepada Turki yang tengah berjuang menghadapi krisis mata uang.

“Kami bersama saudara-saudara di Turki yang selama ini mendukung isu-isu dunia Islam dan berdiri bersama Qatar,” kata Syaikh Tamim di Twitter, sesaat setelah bertemu Erdogan di Ankara.

Turki juga pengguna utama produk-produk eskpor non-minyak dari Qatar, menurut Kamar Dagang di Doha.

Hubungan Militer

Pada saat-saat genting di tanggal 07 Juni 2017 – dua hari setelah Krisis Teluk dimulai – Parlemen Turki segera meratifikasi dua perjanjian sekaligus. Pertama mengizinkan pasukan tambahan Turki dikerahkan di Qatar. Kedua lampu hijau terkait kerja sama pelatihan militer.

Kesepakatan itu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Qatar, mendukung upaya “kontra-teroris” dan menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut.

Tahap pertama pengerahan pasukan Turki tiba di pangkalan militer Tariq bin Ziyad pada tahun 2015. Pada 18 Juni 2017, kendaraan lapis baja f ive juga tiba di Doha. Pangkalan militer itu sendiri dapat menampung hingga 5.000 tentara.

Pada Januari 2018, Dubes Turki di Qatar menyebutkan bahwa negaranya juga akan mengerahkan pasukan laut dan udara ke Qatar.

Negara-negara pemboikot Qatar menuntut penutupan pangkalan militer Turki yang ada di Doha. Tuntutan itu satu dari 13 tuntutan yang hingga kini tidak digubris oleh Qatar.

Keamanan Pangan

Ketika Krisis Teluk meletus, Saudi menutup satu-satunya perbatasan darat dengan Qatar. Keputusan itu menghalangi masuknya produk-produk impor penting ke Qatar, termasuk bahan pangan. Untuk menghindari kekurangan pangan, dalam kurang dari 48 jam Turki telah mengirimkan pesawat kargo penuh dengan susu, yogurt dan unggas.

Ekspor Turki ke Qatar meningkat hingga 90 persen selama empat bulan pertama boikot, menurut laporan statistik Asosiasi Eksportir Aegean Turki.

Sebab rute impor yang lebih panjang, harga makanan dan minuman di Qatar melonjak hingga 4,2 persen pada Agustus. Dubes Turki di Qatar Fikret Ozer pada Senin mengatakan, “Kami membawa banyak produk ke sini, namun tidak ada daratan antara Turki dan Qatar. Tapi sekarang ada kerja sama Qatar-Iran-Turki, dan akan ada rute baru antara negara-negara ini.”

Qatar telah menginvestasikan $ 444 juta untuk fasilitas penyimpanan dan pemrosesan makanan seluas 530.000 meter persegi di Pelabuhan Hamad.

Turki berharap, hubungan perdagangan yang baik dengan Qatar akan menghilangkan dampak boikot. “Produk Turki (yang kami ekspor) memiliki kualitas tinggi. Bahkan jika boikot (di Qatar) berakhir, produk kami tetap akan jadi permanen di sana,” ujar Sinan Kiziltan, ketua Produk Perairan Aegea dan Serikat Eksportir Produk Hewan.

Sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Nasional, Qatar bertujuan untuk menghasilkan 70 persen dari kebutuhan makanannya pada tahun 2024. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Masjid di Makkah, Madinah hingga London Gelar Shalat Ghaib untuk Jamal Khashoggi