Home / Berita / Internasional / Afrika / Inisiatif Baru: Mursi Kembali Sementara hingga Meninjau Pemikiran Ikhwanul Muslimin

Inisiatif Baru: Mursi Kembali Sementara hingga Meninjau Pemikiran Ikhwanul Muslimin

Presiden Mursi (kanan) saat melantik Abdul Fattah As-Sisi sebelum kudeta. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Kairo. Jamaah Ikhwanul Muslimin mengajukan inisiatif baru yang terdiri dari 10 poin. Inisiatif ini disebut-sebut demi menyelesaikan polemik politik di Mesir berupa ‘terowongan gelap’ akibat ulah para pengkudeta.

Di antara poin penting dalam inisatif itu adalah melaksanakan pemilihan presiden baru, pengembalian presiden terkudeta Muhammad Mursi, kesiapan Ikhwan untuk meninjau kembali sikapnya di masalalu, dan dialog nasional komprehensif dengan kondusif.

Menurut pernyataan Ikhwan, satu-satunya jalan untuk mengakhiri kegelapan adalah mengembalikan Mursi ke tampuk kekuasaan. Mursi harus diberi kekuasaan untuk memimpin pemerintahan koalisi dari semua faksi dalam waktu singkat.

Selama masa terbatas tersebut, Mursi dituntut untuk mempersiapkan pemilihan umum yang bebas dan adil. Sebuah pemilu yang digelar dengan pengawasan badan independen, dan mendapat persetujuan dari semua pihak tanpa terkecuali.

Menurut para pegamat, untuk pertama kalinya Ikhwan menyatakan kesiapan untuk membicarakan kembalinya legitimasi penuh. Biasanya hal ini disuarakan dengan menyebut urgensi kembalinya Mursi untuk menyelesaikan tiga tahun sisa jabatannya.

Namun di saat yang sama, mereka juga meragukan efektivitas tawaran ini. hal itu mengingat kurangnya argumentasi yang mendukung inisiatif tersebut.

Menurut seorang pimpinan dalam tubuh Ikhwan, Muhammad Sudan, inisiatif ini memotong semua kemungkinan inisiatif lain.

Kepada Aljazeera.net, Sudan menyebut dengan inistaif ini Ikhwan seakan mundur dari prinsip mereka sebelumnya tentang mempertahankan legitimasi. Penawaran ini, menurutnya, membantah semua tuduhan yang menyebut Ikhwan enggan menyelesaikan krisis nasional.

Inisiatif Ikhwan diumumkan bertepatan dengan peringatan lima tahun tragedi Rabi’ah. Sudan mengatakan, pihaknya bertujuan mengingatkan masyarakat internasional tentang keterlibatan Ikhwan sebagai korban dar kejahatan tersebut.

Tidak Masuk Akal

Sementara itu, guru besar politik di Universitas Kairo Hasan Nafi’a menyebut persyaratan yang diajukan Ikhwan ‘tidak realistis’.

Akan lebih efektif, imbuh Nafi’a, memastika kesiapan untuk dialog nasional tanpa syarat apapun. Selain juga kesediaan untuk berkomitmen dengan hasil-hasil yang keluar dari dialog tersebut, apapun hasilnya.

Waktu pengumuman inisiatif – bertepatan dengan lima tahun tragedi Rabi’ai – itupun menjadi sorotan banyak pihak. Sebagian menyebut tidak tepat karena akan mengaburkan hak-hak para korban. Sementara yang lain menyebut langkah itu menunjukkan keseimbangan Jamaah dan dan menjauhi retorika populer. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kesaksian Warga Desa Kamboja Hempaskan Megaproyek Cina (Bagian 1)

Organization