Home / Berita / Internasional / Afrika / Ikhwanul Muslimin Siap Berunding dengan Rezim Kudeta Mesir, Asal…

Ikhwanul Muslimin Siap Berunding dengan Rezim Kudeta Mesir, Asal…

Ibrahim Munir, Wakil Mursyid ‘Aam Jamaah Ikhwanul Muslimin. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Kairo. Jamaah Ikhwanul Muslimin menyatakan kesiapannya untuk berunding dengan rezim kudeta Mesir. Namun Ikhwan mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi Rezim agar perundingan benar terjadi.

Dilansir Aljazeera, Senin (30/04/2018), hal itu disampaikan oleh Ibrahim Munir, Wakil Mursyid ‘Aam Jamaah Ikhwan. Sebelumnya Kamal Helbawi, mantan petinggi Ikhwan, menyeru agar Jamaah melakukan rekonsiliasi dengan Rezim Mesir.

Munir yang diwawancara Aljazeera Mubasher menyebutkan, Ikhwan mengajukan tiga syarat kepada Rezim Mesir yang dipimpin Abdul Fatah As-Sisi. Jika ketiganya dipenuhi, maka Ikhwan siap menggelar perundingan.

Syarat pertama, kata Munir, perundingan harus dilakukan dengan pejabat yang bertanggung jawab, bukan perwakilan. Syarat kedua, perundingan harus melibatkan semua pihak yang menolak As-Sisi. Syarat ketiga, sebelum dilakukan perundingan pihak rezim harus membebaskan tahanan politik, termasuk Presiden Muhammad Mursi.

Sejauh ini pihak Rezim terus menyangkal adanya tahanan politik di ruang-ruang tahanannya. Mereka berdalih, semua tahanan sedang menunggu putusan pengadilan, atau dituntut dengan kasus kekerasan.

Lebih lanjut Munir juga mengungkapkan adanya pembicaraan antara Jamaah Ikhwan dengan Rezim pada 2014 dan 2016. Munir menyebutkan, pembicaraan saat itu dilakukan oleh seorang tokoh Rezim dan Youssef Nada, seorang pimpinan Ikhwan yang tinggal di Swiss.

Munir menjelaskan, Nada diminta untuk kembali ke Mesir atau bertemu dengan Dubes Mesir di Swiss. Inilah yang menghambat perundingan sejak awal, di samping pentingnya pengakuan kami terhadap legitimasi As-Sisi bagi mereka, imbuh Munir.

Selama lebih dari empat tahun, banyak pihak yang mengupayakan agar perpecahan sosial di Mesir segera berakhir. Namun upaya yang dilakukan sejumlah pemikir, diplomat dan politisi Mesir itu selalu menemui kegagalan.

Sementara itu, Abdul Fatah As-Sisi menyebut keputusan rekonsiliasi dengan Ikhwan ada di tangan rakyat.

Untuk diketahui, Rezim Kudeta Mesir memasukkan nama Jamaah Ikhwanul Muslimin ke dalam daftar teroris. Sejumlah besar anggota dan pimpinan Ikhwan juga telah dituntut dengan berbagai tuduhan yang diada-adakan. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Membaca Arah Hubungan Rusia dan Israel