Home / Berita / Internasional / Asia / Poros Jahat yang Terobsesi Mengubah Wajah Timur Tengah

Poros Jahat yang Terobsesi Mengubah Wajah Timur Tengah

Benyamin Netanyahu, Donald Trump dan Muhammad bin Salman. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Doha. Timur Tengah yang sudah rapuh tengah melangkah menuju sebuah peperangan baru. Begitulah peringatan dari pemimpin redaksi majalah Jeune Afrique berbahasa Prancis, Béchir Ben Yahmed.

Menurut Ben Yahmed, tiga artileri pertama dari perang tersebut telah ditembakkan. Ketiganya adalah serangan Israel kepada militer Iran di Suriah, pengakuan AS tentang status Al-Quds sebagai ibu kota Israel, serta penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir Iran.

Artikel Ben Yahmed diberi judul “Amerika, Israel, dan Saudi; Poros Jahat”. Ia menyebutkan, aliansi berbahaya ini dibentuk tahun lalu. Tujuannya adalah untuk mengubah wajah Timur Tengah.

Selain itu, poros ini juga bertujuan memaksakan keinginan tiga negara: Amerika dengan Donald Trump; Israel dengan Benyamin Netanyahu; serta Saudi dengan Muhammad Bin Salman.

Ben Yahmed melanjutkan, ada beberapa negara yang mengekor poros ini. Di antaranya ada Mesir, Uni Emirat Arab, dan negara lain yang kurang penting.

Menurut Ben Yahmed, pada abad ke-20 lalu juga terbentuk poros serupa di Timur Tengah. Dan kesemuanya berakhir dengan buruk.

Ia melanjutkan, poros Trump-Netanyahu-Bin Salman tidak dalam performa terbaik. “Ini akan mengakibatkan kehancuran di Kawasan, sebelum akhirnya luruh dan dibuang layaknya sampah sejarah,” lanjutnya.

Agenda

Terkait agenda dari poros jahat ini, Ben Yahmed menyebutnya dapat diungkap dari kelakukan mereka. Dalam hal ini dapat dilihat dari tiga poin, yaitu:

Pertama: Mengusir Iran dari Kawasan beserta pengaruhnya, hingga ke perbatasan. Namun Teheran tampak tidak akan menyerah dan perlu harga tinggi untuk mewujudkannya.

Kedua: Merancang, mengembangkan dan mengimplementasikan rencana rekonsiliasi Israel-Arab. Ini merupakan tugas yang dibebankan Trump kepada menantunya, Jared Kushner.

Namun begitu, tambah Ben Yahmed, sesungguhnya rencana ini benar-benar sudah ada, dan bukan sekedar rancangan.

Implementasi dari rencana tersebut juga telah benar-benar dimulai. Yaitu dengan pemindahan Kedubes AS ke Al-Quds, dan akan disusul dengan penggantian Mahmoud Abbas dengan sosok yang lebih masuk akal. Langkah selanjutnya adalah membentuk negara Palestina dengan kedaulatan terbatas.

Ketiga: Merupakan tugas yang dijalankan Bin Salman dan Netanyahu untuk Rusia. Tujuannya menjauhkan Moskow dari Teheran dan berupaya agar tidak ada bantuan kepada Rezim Iran. Sebagai imbalannya, Rusia akan dibiarkan memperluas pengaruh di Kawasan.

Selanjutnya, Ben Yahmed menyebut hal itu semua hanya akan menjadi angan-angan bagi ketiga orang tersebut.

Benar ketiganya punya kemampuan memicu api di Timur Tengah. Tapi mereka tidak punya sarana untuk memecahkan masalah masing-masing.

“Apakah mereka tidak menyadari bahwa itu tidak hanya menghina Bangsa Arab, melainkan juga Eropa, Rusia dan Cina? Tidakkah mereka melihat bahwa telah menyeret dunia ke dalam hutan dan menyebar kekacauan?” pungkas Ben Yahmed. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Saya Kenal Pembunuh Jamal Khashoggi

Organization