Home / Berita / Internasional / Asia / Kemenangan Mahathir Mohamad di Malaysia Jadi Ketakutan Tersendiri Bagi UEA

Kemenangan Mahathir Mohamad di Malaysia Jadi Ketakutan Tersendiri Bagi UEA

Mahathir Mohamad, perdana menteri Malaysia di usia 92 tahun. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Abu Dhabi. Kemenangan Dr. Mahathir Mohamad, mantan sekaligus perdana menteri terpilih Malaysia, cukup menyita perhatian dunia. Energi positif dari kemenangan itu menular ke beberapa negara termasuk Republik Indonesia.

Namun ada yang menarik. Di tengah euforia atas kemenangan Mahathir tersebut menyisakan kedengkian bagi Uni Emirat Arab. Setidaknya, itu yang tergambar dalam cuitan Abdulkhaleq Abdullah, penasihat Putra Mahkota Abu Dhabi, Muhammad bin Zayed.

Menurut pantauan Aljazeera, Abdulkhaleq mengomentari kemenangan Mahathir dengan cukup sentimentil. Bahkan ia mempertanyakan bagaimana sosok yang berusia 92 tahun itu bisa terpilih untuk memimpin sebuah negara seperti Malaysia.

Abdulkhaleq mengatakan, “Apakah Malaysia kekurangan orang bijak, pemimpin, negarawan, dan pemuda, sehingga orang renta 92 tahun menang dalam pemilihan? Sosok yang membuat partai dan sekutunya berbalik, serta menjalin kesekapatan rahasia dengan lawan politik yang dulunya ia penjarakan. Itulah politik ketika menjadi kutukan, dan demokrasi menjadi kemarahan.”

Cuitan itu tampak aneh karena menyerang negara demokrasi. Terlebih yang ia serang adalah tokoh besar dalam kebangkitan Malaysia. Benarkah Abdulkhaleq hanya sentimen dengan faktor usia Mahathir? Atau ada faktor lain?

Tampaknya usia bukan faktor utama. Mengingat Emirat juga pernah mendukung sosok seusia Mahathir untuk memimpin negara, yaitu Presiden Tunisia Beji Caid el Sebsi. Terlebih sosok Mahathir masih lebih muda daripada Raja Salman di Saudi dan Presiden UEA Khalifah bin Zayed.

Pernyataan Abdulkhaleq Abdullah tampak sebagai gema dari lingkaran pengambil keputusan di Abu Dhabi setelah kemenangan tak terduga oposisi Malaysia. Terlebih UEA memberikan dukungan kepada PM Malaysia dan partainya dalam pemilu tersebut.

Hal ini disebut juga sebagai rangkaian dari kemunduran politik Putra Mahkota Abu Dhabi. Seperti dinilai banyak pihak, dalam beberapa bulan terakhir Abu Dhabi mengalami kemunduran strategi politik dari Laut Merah hingga Amerika Serikat.

Kemunduran ini tentu akan membuka skandal dana sovereign Malaysia, yang disebut-sebut UEA turut berperan dalam skandal tahun 2016 tersebut. Keterlibatan UEA diduga melalui beberapa tokoh yang berkolusi dengan mantan PM Malaysia. Seperti diketahui, Najib Abdul Razak yang kalah dari Mahathir, terancam akan diseret dalam skandal ini. Sementara nama UEA, juga dinilai akan mencuat dalam investigasi.

Pada Januari 2017 lalu, Wall Street Journal mengungkap keterlibatan Dubes UEA untuk AS, Yousef Al Otaiba, dalam skandal ini. Disebutkan, peranannya dilakukan melalui perusahaan terkait yang menerima jutaan dolar dari perusahaan luar negeri. Menurut penyidik Amerika dan Singapura, dana tersebut dana tersebut disimpangkan dari Dana Pembangunan Malaysia.

Selain itu, adapula informasi soal serangkaian pertemuan antara Shaher Awartani dan Jho Low. Awartani disebut sebagai mitra bisnis Al Otaiba di Abu Dhabi. Sementara Jho Low adalah pebisnis Malaysia yang disebut AS sebagai konspirator utama dalam dugaan penipuan senilai 4,5 miliar dolar.

Kemitraan bisnis antara Al Otaiba dan Low terjalin lama. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Low menyebut pertemanannya dengan Otaiba terjalin dari tahun ke tahun.

Hubungan antara Otaiba, Awartani dan Low cukup erat. Di antaranya Low mendapat 55% saham di Park Lane Hotel di New York, sebelum kemudian dijual untuk dana kekayaan sovereign di Abu Dhabi.

Skandal tersebut mulai mencuat ke permukaan seiring dengan terungkapnya masalah utang yang dihadapi Malaysia tahun 2015 silam. Para pengamat bahkan menyebut skandal ini sebagai penipuan terbesar dalam sejarah.

Tampaknya skandal yang dijanjikan Mahathir untuk diungkap inilah yang menjadi faktor pernyataan sentimentil dari Abdulkhaleq Abdullah. Ini pula yang menjadikan kemenangan Mahathir sebagai ketakutan tersendiri bagi Uni Emirat Arab. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kesaksian Warga Desa Kamboja Hempaskan Megaproyek Cina (Bagian 1)

Organization