Home / Berita / Internasional / Asia / Konflik Yaman; Saudi atau Hutsi yang Harus Bertanggung Jawab?

Konflik Yaman; Saudi atau Hutsi yang Harus Bertanggung Jawab?

Serangan udara koalisi Arab. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Sanaa. Pusat Risiko Global (Global Risk Insights/GRI) menyebut perang di Yaman semakin luas dan menjadi perang internasional. Selain itu, Arab Saudi juga disebut sebagai pihak yang meningkatkan eskalasi dan memperdalam konflik di sana.

Dilansir Aljazeera, hal itu sebagaimana editorial yang dimuat GRI dan ditulis oleh Maryam Maalouf. Maalouf adalah seorang penulis yang khusus mengamati Timur Tengah dan Afrika Utara.

Maalouf menyebutkan, kemungkinan konflik dapat mereda setelah tiga tahun intervensi Koalisi Arab ke Yaman, sangat lemah. Menurutnya, Koalisi Arab selama ini hanya memperoleh keuntungan yang kecil. Hal ini melihat pihak Hutsi yang tampak masih memiliki daya untuk mengancam Riyadh.

Disebutkan, masyarakat sipil masih menjadi penanggung utama beban konflik yang kian diperparah oleh semua pihak. Terutama bencana kemanusiaan di Yaman yang telah menjadi bencana terbesar di dunia saat ini.

Menurut data terakhir 22,2 juta dari 27,5 juta rakyat Yaman memerlukan bantuan kemanusiaan. Sementara delapan juta orang hidup dalam kelaparan. Selain penderita kolera yang disebut jumlah mencapai satu juta orang.

Syarat Tak Dapat Diterima

Maalouf menambahkan, persyaratan yang diajukan Saudi untuk perdamaian di Yaman tidak dapat diterima. Seperti disebutkan, Saudi mengajukan syarat agar milisi Hutsi melucuti semua persenjataannya jika ingin damai.

Perseteruan di Yaman juga berjalan tanpa arah yang pasti, imbuh Maalouf. Milisi Hutsi yang terus terobsesi menyerang Riyadh sebaga pimpinan Koalisi Arab. Di sisi lain, tindakan Hutsi itu mengundang serangan lebih banyak lagi dari Koalisi.

Serangan Hutsi ke Bandara Internasional Raja Khalid pada November 2017 lalu disebut sebagai serangan paling besar. Menurut Saudi, sistem pertahanannya mampu mengatasi serangan tersebut.

Lebih lanjut, Maalouf juga menyebutkan bahwa Saudi terus menerus menuding Iran di belakang serangan itu dan mendukung Hutsi. Bahkan Saudi menyebut itu genderan perang Teheran kepadanya. Selanjutnya, Saudi kemudian memberlakukan blokade pada setiap pelabuhan dan bandara di Yaman.

Tindakan Saudi itu tak ayal mengundang kecaman internasional. Bahkan Tim Ahli PBB menyebut sebagai taktik kelaparan yang digunakan dalam perang.

Krisis Kemanusiaan

Para ahli memperingatkan krisis ini karena 80% hingga 90% Yaman bergantung pada makanan dan obat-obatan impor. Blokade Saudi pun tidak dikurangi sampai beberapa pekan. Sementara pihak Hutsi terus mencegah masuknya makanan, persediaan medis dan pekerja bantuan.

Menurut Maalouf, sebagian besar warga Yaman terisolasi di daerah yang dikuasai Hutsi di bagian Utara. Wilayah tersebut adalah yang paling sering menjadi target sasaran serangan Koalisi Arab.

Sementara itu kelompok radikal seperti Al-Qaeda dan ISIS memanfaatkan konflik di Yaman dengan menyerang Aden. Kedua kelompok terus memanfaatkan situasi di tengah kekosongan kekuasaan tersebut. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi