Home / Berita / Internasional / Asia / UNICEF: Anak-anak Korban Terbesar Perang Suriah

UNICEF: Anak-anak Korban Terbesar Perang Suriah

Jutaan anak-anak Suriah menjadi pengungsi. (aljazeera.net)

dakwatuna.com – New York. Badan PBB Urusan Anak-anak (UNICEF) melaporkan, anak-anak adalah golongan yang paling menderita akibat perang di Suriah yang telah berkecamuk sejak enam tahun lalu. Meski begitu, tambah UNICEF, anak-anak belum mendapatkan pelayanan dan pendampingan yang memadai.

Direktur UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Geert Cappelaere mengatakan, di tahun 2016 satu orang anak meninggal atau terluka parah setiap enam jam di Suriah. Geert menyebut hal ini sebagai hal yang mengerikan, sebagaimana dilansir dari aljazeera.net, pada Kamis (16/03/2017).

Menurut laporan yang dikeluarkan UNICEF terkait perang di Suriah pada Senin (13/03) lalu, dikatakan bahwa sebanyak 652 anak tewas sepanjang tahun 2016. Angka tersebut naik 20% dari jumlah yang dilaporkan untuk tahun 2015. Tapi, Cappelaere meyakini, angka tersebut masih jauh dari jumlah korban tewas sesungguhnya yang tidak diketahui.

Cappelaere menegaskan, angka tersebut merupakan jumlah yang telah berdasarkan investigasi UNICEF. Cappelaere juga meyakini, jumlah anak-anak yang jadi korban di lapangan jauh lebih banyak lagi.

Selain itu, dalam laporannya, pihak UNICEF menyebutkan, anak-anak tidak hanya tewas akibat serangan rudal atau peluru. Namun juga karena kurangnya akses kepada tenaga medis dan pelayanan kebutuhan pokok lainnya.

Seperti diketahui, jutaan anak-anak Suriah saat ini menjadi pengungsi di dalam wilayah Suriah. Sementara itu, 2,3 juta lainnya melarikan diri melintasi perbatasan Negara-negawa di Kawasan.

Melihat semakin besarnya penderitaan, sejumlah besar keluarga terpaksa mengambi langkah-langkah ekstrim. Seperti memaksa anak-anak mereka untuk menikah atau bekerja. (whc/aljazeera/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Tujuh Kompleks Pengungsi Sulteng Diresmikan ACT

Organization