Home / Konsultasi / Konsultasi Keluarga / Apa yang Harus Saya Lalukan? Orang Tua Selalu Ribut

Apa yang Harus Saya Lalukan? Orang Tua Selalu Ribut

Ilustrasi. (alia.wordpress.com)

dakwatuna.comAssalamu’alaikum. Malam ka, saya mahasiswa semester 5 mau tanya seputar keluarga. Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Saya tinggal di kosan dan hanya pulang 1 minggu sekali. Kedua orang tua saya sudah 1 minggu ini pisah rumah. Ibu saya pergi entah ke mana. Sedangkan ayah saya di rumah dan masih tetap bekerja. Ibu saya pergi membawa barang-barang berharga di rumah. Sedangkan di rumah hanya barang tersisa. Saya tau itu urusan mereka. Akan tetapi ibu saya menuntut saya perlu tahu. Saya perlu jadi sasaran ibu marah.

Ibu sering sekali marah kepada saya, meluapkan kemarahannya. Ayah saya kesal dengan tindakan ibu yang semakin hari semakin aneh. Bapak kerja sebagai penjual burung. Akhir-akhir ini burung bapak mati karena stres. Berkali kali ibu melempar benda di dekatnya ke kandang burung ayah. Ayah marah karena tindakan itu merugikan, biaya yang dikeluarkan anak-anaknya banyak. Tetapi ibu malah merugikan ayah saat itu. Jujur saya kesal dengan tingkah laku ibu. Saya sudah dewasa, bisa ke mana saja saya mau. Akan tetapi saya memikirkan adik-adik saya yang masih kecil. Ibu selalu merasa benar. Saya tidak ingin ikut campur, tapi ibu selalu mencampurkan saya dalam masalahnya. Saya tertekan. Jika saya tak mau tahu, ibu pun marah kepada saya. Dan apa tindakan yang harus saya lakukan?

Terima kasih.

Jawaban:

Ananda Cubi yang dirahmati Allah, kami turut merasa prihatin dengan permasalahan yang dihadapi keluarga Cubi. Semoga Cubi makin kuat dan makin dewasa, dengan mencoba mencari solusi atas permasalahan ini.

Ayah dan Ibu Cubi sebagaimana semua ayah dan ibu di dunia ini, sesungguhnya menyayangi semua anak anaknya. Kalau pun keadaan saat ini beliau berdua ada dalam “pertengkaran/perpisahan, ini bagian dari dinamika dalam hidup berumah tangga. Tentu saja permasalahan ini tidak datang secara tiba-tiba, pasti ada proses yang bertahap, muncul masalah-masalah yang awalnya dianggap kecil, yang mungkin diremehkan, akhirnya menjadi rumit. Tetapi kita harus yakin bahwa setiap masalah insya Allah ada jalan keluarnya, dan akan membuat kita semakin kuat dalam menghadapi kehidupan, asalkan kita tidak berputus asa.

Ada beberapa langkah yang bisa ananda Cubi lakukan, antara lain:

Tetap bersikap menyayangi dan memberi perhatian kepada kedua orang tua kita, ayah dan ibu, jangan sekali kali menunjukkan sikap kebencian pada keduanya, tetaplah sopan dan hormat

Mengajak bicara secara baik-baik, agar ayah dan ibu mau saling memaafkan kesalahan yang telah terlanjurkan terjadi, sampaikan kepada beliau berdua, bahwa cubi dan adik-adik cubi sangat menginginkan ayah dan ibu tetap rukun, butuh perhatian dan kasih sayang dari beliau berdua. Kasih sayang dan perhatian tidak selalu dalam bentuk harta dan materi,

Mengingatkan ayah khususnya, untuk lebih giat dan semangat lagi dalam mencari nafkah, karena boleh jadi pemicu kemarahan ibu adalah adanya kekurangan dari sisi ekonomi, meskipun seharusnya hal ini tidak boleh menjadi alasan kemarahan ibu, karena kenyataannya ayah sudah berusaha untuk mencari nafkah, tapi mungkin masih belum mencukupi.

Teruslah berdoa, mohon kepada Allah swt, agar Allah mengaruniakan kelembutan hati kepada ayah dan ibu, dan agar bisa hidup bahagia dalam keluarga yang sakinah mawaddah warahmah,

Demikian cubi, semoga Allah selalu memberi kekuatan, dan segera bisa terselesaikan masalah keluarga cubi. (sb/dakwatuna.com)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

Bercermin Pada Hajar: Sudahkah Kita Menaklukkan Ego Kita?