Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sesuci Cinta Fatimah dan Ali

Sesuci Cinta Fatimah dan Ali

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot.com)
Ilustrasi (blogspot.com)

dakwatuna.com – Membaca situasi saat ini yang sangat jelas terwarnai “Virus Merah Jambu” pada para pemuda dan pemudi aktivis dakwah. Ikhwan dan akhwat semakin cair hijab dan keakraban mereka. Ini yang bisa membuat hati menjadi mudah mendapatkan bisikan syetan. Naudzubillah.

Saudaraku ..

Izinkan saya menuliskan untuk bersama meluruskan diri, memperbaiki persepsi dan misi. Mungkin masa muda itu memang identik dengan masa berekspresi, berkarya, bergaul dengan banyak kawan dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal menuju kehidupan yang lebih baik lagi.

“Janganlah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaiton menjadi orang ketiga diantara mereka berdua,” (HR. Ahmad. Di shahihkan oleh syeikh Al Albani dalam As shahihah 1/792 no 430)

Gejalanya berbaur tanpa batas dengan lawan jenis, bermedia tanpa hijab, karena sangat tidak terasa bahwa sesungguhnya saat bermedia itu sedang melakukan pembicaraan hanya berdua dan berukhuwah tanpa memandang etika yang harus tetap dijaga. Juga tetap menjaga ‘izzah diri kita. Ketahuilah Allah Maha tahu sekecil apapun dosa dan kebaikan baik itu sudah terjadi ataupun masih tersirat di hati. Allah maha adil balasannya. Muroqobbah, merasakan bahwa kita melihat Allah atau Allah melihat kita.

Sangat mudah berhubungan dengan media saat ini, dan banyak yang tidak menyadari bahwa pembicaraan itu mengarah ke khalwat. Telpon, sms, whatsapp, facebook dan semua media yang sangat mudah di akses. Dan media ini membuat ikhwan dan akhwat terjadi interaksi yang berlebihan dengan yang bukan muhrim. Awal-awalnya tentang acara atau kegiatan dan lama-kelamaan akan mengarah ke lain urusan misalkan tanya kabar dan lainnya, dan ini adalah khalwat. Dengan dalih “kami bicara tentang islam dan bertukar tausiyah”.

Seorang ikhwan dan akhwat yang berpegang teguh pada agamanya maka kehidupan mereka akan selalu berpedoman dan menerapkan yang telah ada dalam Al Quran dan hadits untuk melakukan setiap tindakan dan ibadahnya. Menjaga kesucian diri, menjaga kemuliaan dan ghirah/semangat dan menjaga rasa malunya.

Menjaga nama baik sebagai akhwat dengan jilbab lebar dan baju gamisnya untuk tetap berada dalam kebaikan serta menjaga diri dari maksiat sekecil apapun. Karena semua yang kita lakukan adalah semata-mata dalam kerangka taat kepada Allah. Dan begitu juga dengan ikhwan yang menjaga ‘izzahnya, tidak ngobral tampang machonya dan menebar pesona. Ketahuilah Allah Maha tahu segala yang ada dalam hatimu.

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat timbangan biji dzarrah pun akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat timbangan dzarrah pun akan melihatnya,” Q.S. Al Zalzalah :7-8

Innallaha kaana ‘alaikum raqiiba. Sesungguhnya Allah mengawasi kalian. Kita kenal kan malaikat ketce yang ada disamping kanan kiri kita? Iyaaa… Mereka adalah malaikat Rakib dan atid, pencatat amalan baik dan buruk. Dalam gelap dan apapun keadaannya kita tetap terlihat oleh mereka, yang telah di beri tugas oleh Allah untuk mencatat setiap amalan kita.

“…Dan bertaqwalah kepada Allah yang asma-Nya kalian meminta satu sama lain dan bersilaturrahim. Sesungguhnyalah Allah senantiasa mengawasi kalian.” Q.S. An Nur :1

Bisa menarik kisah cinta dari putri kesayangan Rasulullah saw. bersama dengan Ali bin Abi Tholib salah satu sahabat beliau. Indah dan sangat indah, suci dan sangat suci hingga setan saja tidak mampu mengusik mereka. Sangat rapi cinta itu disimpan dan tetap mengedepankan cinta pada Robb-nya dan pada Rasul-nya. Sering Ali membersamai Rasulullah dan tanpa sedikitpun rahasia itu terbuka, tanpa pandangan juga tatapan yang mencurigakan bagi setan untuk bisa masuk menyelinap dalam diri mereka.

Lalu apa yang harus kita siapkan untuk bisa memiliki kesucian cinta seperti mereka hingga Allah benar-benar ridho menyandingkan mereka. Kita bisa belajar bagaimana seorang Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib, mereka adalah manusia yang selalu meluruskan niat dalam segala tindakannya adalah untuk Allah, takut dan tunduk kepada Allah. Menjaga kesucian diri, menjaga amalan-amalan. Dan mereka adalah manusia tangguh yang bisa dibanggakan karena tidak pernah ada kata malas dalam membela agamanya.

“Dan ingatlah karunia Allah kepada kalian dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kalian ketika kalian berkata, ”kami dengar dan kami taat”. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” Q.S. Al Maidah : 7

Saudaraku …

Jika jodoh itu belum kau temui saat ini, mungkin Allah sedang menyiapkan agar dirimu bisa lebih baik dan akan memberimu pasangan yang terbaik untuk urusan dunia akhiratmu. Bisa jadi saat ini waktunya kita membaca diri, adakah dosa kita yang tidak terampuni hingga doa yang teruntai indah itu belum juga terkabul? adakah hak Allah ada yang belum tertunaikan? Karena kita belum menjadi yang lebih baik di hadapan Allah.

Ketahuilah saat ini Allah sedang men’tarbiyah’ dirimu, agar bisa membaca diri dan menginsyafi segala kesalahan dan kealpaannya. Allah sedang berbincang mesra denganmu akan makna kata ikhlas, sabar, tsabat/kuat dan pensucian diri. Itulah sebenar-benar bekal untuk menghadap-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah tiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok..” Q.S. Al Hasyr :18

Ada doa yang juga harus senantiasa dipanjatkan dengan indah agar diri kita tidak sombong kepada Sang Pemilik diri bahwa kita memang tiada dan daya apapun tanpa kehendakNya. Ada taqdir yang telah tertulis rapi yang harus kita imani apapun itu berupa kebaikan atau keburukan, semua telah rapi dalam Lauhul Mahfuz yang disimpan Allah.

Lalu apakah kita dengan membatasi pergaulan akan membuat kita tidak dikasih jodoh?

Ketahuilah jodoh didapat Bukan sekali lagi bukan karena kita mengumbar diri maka jodoh itu akan datang menemui kita. Karena seorang yang baik akan diberikan jodoh yang baik dari tempat yang tidak disangkanya. Sungguh yang memiliki rahasia semuanya adalah Allah.

Tetaplah ada dalam tabirmu, dalam menjaga kesucianmu, kesabaran dan dalam keikhlasan menjalani titah Tuhanmu.

Husnudzon/berbaik sangka dengan segala pemberian Allah untuk kita. Kalau kita sadari masa muda inilah masa gemilang kita untuk mengukir prestasi, mencari banyak ilmu dan bekal untuk kehidupan nanti tanpa harus direpotkan dengan apapun. Bisa dibandingkan kalau taqdirnya Allah menikahkan kita di usia yang sangat muda hingga kita harus ‘rempong’ dengan perijinan suami/istri, tanggung jawab kepada anak yang harus kita tinggal atau mesti dibawa dengan berbagai bekal dan pertimbangan untuk bisa menghasilkan karya atau untuk aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Bersyukurlah saat kita hanya perlu meminta ijin orang tua dan Allah tanpa harus ‘rempong’ untuk mengikuti berbagai aksi dan kreatifitas dalam dakwah ini.

Nikmatilah hari-harimu bisa mencari ilmu dimana saja dan kapan saja. Melakukan banyak aktifitas, mencari banyak pengalaman dan melejitkan potensi dirimu dalam berkarya untuk Allah. Memaksimalkan ibadah, dan amalan kebaikan yang juga menjadi bekal untuk membentuk keturunan yang terbaik di masa yang akan datang.

Semua tetap harus dalam kerangka kesyukuran yang tak terbatas kepada Allah atas segala pemberiannya.

Dan jika kelak Allah memberikanmu pasangan, pilihlah calon pasangan yang baik ketaqwaannya, bisa menjaga pandangan, lisan, hati dan perbuatannya. Dan yang selalu mesra dengan Allah di setiap saat, waktu dan berbagai keadaannya.

Allah bersama orang-orang yang selalu dekat dan mendekat dengan-Nya. Menjaga kesucian dan menjaga hubungan baiknya dengan Allah dalam berbagai keadaan. Semoga Allah kelak akan memberikanmu jodoh terbaik dunia akhirat, yang saling menguatkan dalam ketaqwaan dan kesabaran. Dan menguatkan langkahmu berjalan di jalan dakwah ini. Aamiin allahumma aamiin. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Nama lengkap Choiriyah, lahir dan besar di kota Malang-Jawa Timur, domisili di Batam. Mulai ikut dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, dan menang juara II Karya Ilmiah Remaja di Malang. Saat bekerja di perindustrian Batam, ikut aktif dalam pembuatan buletin dan berita perusahaan se-Asia. Mulai tahun 2011-2014 aktif di FLP Johor. Sekarang Aktif dalam FLP Batam. Semoga dapat lebih banyak berkarya untuk dakwah bil Qolam.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization