Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi, Hari Pahlawan (inet)
Ilustrasi, Hari Pahlawan (inet)

dakwatuna.com – Prosesi memperingati hari Pahlawan, 10 November 2016. Tentunya banyak hikmah yang terjelma dari memperingati hari bersejarah 71 tahun lalu, hal itu tak terelakkan dalam sanubari setiap generasi bangsa. Hakikatnya bangsa ini telah memberikan sebuah ketauladanan pada era 45-an tentang pentingnya nilai-nilai kehormatan diri yang tidak boleh dirampas, direnggut orang lain. Apalagi ini dalam konteks merompak kehormatan sebuah bangsa.

Maka sesungguhnya, gelombang nadi kepahlawanan harus bisa menjadi energi yang kuat. Sebab dengan teguhnya akar kepahlawanan maka bangsa ini akan kokoh pula. Berbicara tentang semangat kepahlawanan bukan harus sekedar mampu menjadi kebanggaan semata di hadapan orang. Lalu atas prestasinya membuat namanya dikenang. Melainkan energi tersebut tidak disalahgunakan dalam kerja-kerja besar, namun sepenuhnya harus tercurah kepada masalah-masalah kecil yang menebar manfaat. Karena energi kepahlawanan itu tumbuh dan lahir dari semua kata cinta, olehnya itu cinta tersebut memang harus harus diretas jadi kata penebar faedah. Sebab itu membuatnya nyata. Dan meyakinkan. Keyakinan itu tumbuh serasa dengan definisi cinta yang dikatakan oleh Khalil Gibran bahwa karena cinta memanggilmu, maka dekatilah ia walau jalannya berliku. Disitulah kita akan menemukan siapa sesungguhnya yang terpanggil dengan cinta untuk menempuh jalan yang penuh lumpur dan onak, duri. Hanya manusia-manusia yang bernaluri kepahlawananlah yang bisa melewati semua keterjalanan itu.

Disaat yang sama krisis yang melanda Indonesia saat ini belum juga melahirkan pahlawan yang diidam-idamkan. Saat ini nampak sekali, banyak digulirkannya pahlawan-pahlawan yang berbalut kepentingan kelompok. Dipoles dengan citra media, maka jadilah dia pahlawan. Sehingga ruh dari kepahlawanan tersebut berubah menjadi  seorang pahlawan yang berjiwa megalomania.

Lalu apa artinya jika arti kepahlawanan sudah disalahgunakan. Padahal, saat ini bangsa ini sangat membutuhkan manusia-manusia selayaknya Bung Tomo dan heroik prajurit sejatinya yakni arek-arek Surabaya. Bangsa besar ini harus dijaga, dirawat oleh manusia-manusia yang hanya bukan duduk berdiskusi lalu ditonton oleh jutaan rakyat di republik ini. Lalu ada pujian dan mematikan langkah. Bukan begitu.

Sebagai warga negara Indonesia yang dilahirkan dalam era 90-an, dan kini menghirup udara hiruk-pikuk polusi beragam isme, membuat generasi sebaya saya akan merasa minder ketika ditanya tentang siapa itu pahlawan sesungguhnya. Sebab, era saat ini sangat sulit kita diperlihatkan tentang hal tersebut. Dengan begitu lahirlah sebuah definisi tentang pahlawan yakni jika dulu pahlawan berjuang mengusir penjajah, maka sekarang pahlawan adalah mereka yang bisa menyejahterakan rakyat dan mendaulatkan negara. Olehnya itu, kita juga punya PR guna mengangkat tema besar tentang kepahlawan.  Kita juga perlu mengangkatnya ke level perwujudan sebuah gagasan, selain perjuangan fisik sebagai bagian dari ide yang lain.

Pemaknaan seperti ini merupakan perpaduan masa lalu dengan kondisi saat ini. Mata kita tak mungkin merasa buta, telinga kita pura-pura tuli, hati kita kebal dari perasa atas situasi pancaroba yang melanda negara khatulistiwa. Sehingga timbullah kepahitan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Atas situasi ini, kita diingatkan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman di Jogjakarta, 27 Nopember 1946 bahwa karena kewajiban kamulah untuk tetap pada pendirian semula, mempertahankan dan mengorbankan jiwa untuk kedaulatan negara dan bangsa kita seluruhnya. Masih di kota yang sama, beliau memekikkan semangat kepahlawanan yakni robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi.

Memang sangat ringan jika kita menyebut apa kontribusi para pahlawan zaman sekarang. Namun, sejatinya ia dapat menjelma pada saat-saat yang genting. Ia bukan lagi sebuah mitos yang hidup di lingkup kerajaan-kerajaan penguasa, pengusaha maupun militer. Ia hidup di tiap individu Indonesia. Ia hanya perlu dihidupkan dengan semangat dan niat yang ikhlas. Tentunya tak ada yang lebih kuat dari kelembutan sentuhan pahlawan, yang lurus niatnya. Tak ada yang lebih lembut dari kekuatan yang ketenangan pahlawan yang selalu menentramkan dirinya dengan kekuatan Tuhan dan cinta kepada tanah airnya.

Bahwa kita harus belajar dari setiap periodisasi dalam sejarah kepahlawanan yang pernah tumbuh dalam perut NKRI. Sedih ketika kita masih menemukan manusia-manusia yang rela menjual dengah murah setiap jengkal batas-batas republik. Hal itu, memang ada dalam gejolak setiap bangsa. Bahwa ada yang terkategorikan hedonisme maupun patriotisme. Mereka yang hedonisme adalah mereka yang dengan jalannya membentuk sebuah komunitas individualistik, asal perut mereka kenyang, maka soal kelaparan tetangga rumahnya tak mereka gubris. Berbeda dengan mereka yang punya karakter patriotisme, adalah mereka yang rela menjadi tumbal bagi kedaulatan negara, mereka cinta rakyatnya, sebab mereka tau, rakyat adalah perisai terakhir bagi negara. Namun, kategori kedua ini sangat sedikit sekali ditemukan dalam taman Indonesia.

Pada sisi lain, kita harapkan pahlawan yang lahir di tengah rimba jelata adalah mereka yang perbuatan dan kata-katanya seirama dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan mahkamah publik. Sebab, semua orang ingin menjadi pahlawan, tapi hanya sedikit sekali mereka yang komitmen antara kata dan perbuatan. Akhirnya hanya skala kesadaranlah yang membuat matahari tetap dalam kesadarannya. Bumi setia diinjak-injak kaki-kaki para makhluk Tuhan. Itulah yang disyairkan oleh WS Rendra di tahun 1984 berlokasi di Kota Depok: “Kesadaran Adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala, dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata”. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Asma Ditha
Nama Lengkap Muhamad Nasir Pariusamahu. Disapa Nasir. Lahir di Parigi, 05 Desember 1992. Nomor kontak dan WA: 085243139596, IG. nasir_051292, facebook: Muhamad Nasir Pariusamahu, twitter: @asma_ditha. Sekarang menjadi guru di salah satu sekolah swasta Kota Ambon.

Lihat Juga

Keikhlasan Dalan Kerja Dakwah

Organization