Home / Asma Ditha

Asma Ditha

Asma Ditha
Nama Lengkap Muhamad Nasir Pariusamahu. Disapa Nasir. Lahir di Parigi, 05 Desember 1992. Nomor kontak dan WA: 085243139596, IG. nasir_051292, facebook: Muhamad Nasir Pariusamahu, twitter: @asma_ditha. Sekarang menjadi guru di salah satu sekolah swasta Kota Ambon.

Presiden Media Sosial

Saling mengenal artinya banyak sekali bahkan milyaran akun media sosial yang tercipta setiap detiknya. Perlunya pengenalan dalam rangka menyamakan presepsi dan tujuan dari hakikat perjalinan pertemanan dimanapun, kapanpun. Saling memahami bisa didefinisikan sebagai rasa saling mengingatkan satu sama lainnya, bahwa kehidupan akan linier dan seimbang bilamana adanya rasa itu. Ketika ada membuat ajakan provokatif, memecah belah, yang lainnya menjadi alat pendingin. Ada api, pasti ada yang memerciknya. Dan rasa saling membebani bahwa kita hidup sebagai manusia, punya siklus yang sama. Saling meringankan satu dengan yang lain. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Baca selengkapnya »

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan

Pada sisi lain, kita harapkan pahlawan yang lahir di tengah rimba jelata adalah mereka yang perbuatan dan kata-katanya seirama dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan mahkamah publik. Sebab, semua orang ingin menjadi pahlawan, tapi hanya sedikit sekali mereka yang komitmen antara kata dan perbuatan. Akhirnya hanya skala kesadaranlah yang membuat matahari tetap dalam kesadarannya. Bumi setia diinjak-injak kaki-kaki para makhluk Tuhan. Itulah yang disyairkan oleh WS Rendra di tahun 1984 berlokasi di Kota Depok: “Kesadaran Adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala, dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata”.

Baca selengkapnya »

Romantisme Agama dan Semunya Rasionalitas

Sejatinya agama bukanlah sebuah konstetansi siapa benar, siapa salah. Tapi, soal rasa junjung akan kebenaran ilahiyat yang telah menjadi visi yang diemban para pengutus-Nya. Agama bukanlah masalah keromantisan ayat-ayat tentang surga dan hiruk-pikuk neraka yang dijadikan sabda politik kepentingan. Agama seharusnya menjadi visi semesta demi kesejahteraan masyarakat. Bukan seperti tafsiran syair Abu Nawas,” aku tak layak di surga-Mu, aku juga tak mampu menahan api neraka-Mu”. Olehnya itu, agama bukan dimaknai seperti memparafrasakan gurindam atau segala jenis karya seni. Agama itu diyakini dalam hati, dilisankan untuk disampaikan dan diamalkan sebagai buah kefahaman, itulah Iman sebagai pondasi keberagamaan. Laksana sayatan pedang di tengah perang, setajam pena dalam lembaran suhuf-suhuf.

Baca selengkapnya »

Pokemon Go di Antara Sianida dengan Jessica

Kedua kasus unik tersebut hadir dalam waktu yang monumental. Sama-sama memengaruhi laku pikir masyarakat lewat media cetak, media online dan media elektronik. Setingan waktu kedua-duanya terjadi dalam konteks yang berbeda. Pokemon Go dengan alam maya, sedangkan Sianida dengan alam nyata. Walau berbeda, kedua hal tersebut mempunyai visi tunggal yang sama yakni mencari seorang “monster” di akhir plotnya. Tingkat permainan pun sama, melewati tahap-tahap, jalan tikus yang sangat rumit.

Baca selengkapnya »

Nikah, Antara Buta Cinta dan Gagal Paham Syariat

Begitulah fenomena Adam dan Hawa zaman kontemporer disatukan. Maka pastikan pasangan yang kau pilih, tak kau gembar-gemborkan di panggung gosip dan fitnah. Me-nikah bukan soal perut, kemaluan dan citra. Bukan soal diterima status sosialnya di dunia dengan keberkahan dollar melimpah ruah di brankas. Melainkan menanam benih untuk “ kerumahtanggaan” kekal di akhirat nanti. “A`ūdzu billāhi minas-syaitānir-rajīmi“. “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Baca selengkapnya »

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku

Namun lagi-lagi, konsensus tentang guru yakni jumlah input, output dan ketersediaan lapangan kerja tidaklah sama serta merata. Misalkan saja di Maluku, setiap tahunnya universitas di Maluku menelurkan sarjana muda keguruan mencapai puluhan ribu. Lalu semenjak tahun 2007 hingga sekarang perhatian kepada alumnus anak daerah tidaklah menjadi prioritas dalam membangun SDM yang dimaksud sesuai visi renstra tersebut. Makna lain, UU Otda Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah yang secara resmi sebagai pengganti dari Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, yang melahirkan desentralisasi; pelimpahan kewenangan penuh terhadap daerah untuk mengelola daerahnya. Namun, proses desentralisasi hanyalah sebuah kedok menutup otoritarisasi sentralistik masa lalu. Inilah keindahan demokrasi Indonesia, yang melahirkan banyak aturan perundang-undangan tapi hanya sebagai ‘pelengkap penghabis anggaran’. Artinya, di tengah euforia desentralisasi jangan dilupakan peran tangan dingin sentralistik. Tetapi, jika dilihat dari hakikat desentralisasi bahwa pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintah yang menjadi urusan pemerintah (pusat), dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah. Nah, kalimat “kecuali urusan pemerintah yang menjadi urusan pemerintah (pusat), dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah” ini menjadi sebuah topik hangat guru gugus depan. Salah satu solusinya adalah mengubah mindset otonomi daerah bahwa dalam rangka pembangunan daerah yang optimal sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing, dengan maksud agar pembangunan, pelayanan dan pemberdayaan di daerah lebih merata, perlu sebuah tinjauan ulang terhadap daerah-daerah yang bergeografis kepulauan.

Baca selengkapnya »

Meneropong Rakernas PGRI

Kabar tentang diselenggarakan rapat kerja nasional PGRI (Teacher's Union of the Republic of Indonesia; Persatuan Guru Seluruh Indonesia) III di Ambon pada tanggal 29 Januari hingga 1 Februari mendatang merupakan sebuah kebanggaan tersendiri sebagai anak daerah.

Baca selengkapnya »

Merdeka, Wajib atau Sunnah

“Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”. Tentunya, makna alinea pertama dalam Mukadimah UUD 1945 ini merupakan intisari dari arah tujuan Negara Indonesia dibentuk.

Baca selengkapnya »

Merebut Kota Peradaban

Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghargai sejarah. Sejarah propaganda penjajah senantiasa akan menancapkan kukunya. Perhatian serius mesti menjadikan kita sadar bahwa “perang” terhadap penjajah akan selalu ada. Walaupun tidak secara fisik dan senjata. Tapi lebih apik sekarang, dengan ekonomi, budaya, pendidikan dan segala misi-misinya. Kini, kerja keras kita harus difokuskan untuk mentransformasikan Indonesia menjadi sebuah entitas peradaban, sehingga Indonesia bisa menjadi sebuah arus kekuatan utama, yang serta merta diharapkan menjadi penata dalam mengatasi segala permasalahan umat di dunia ini.

Baca selengkapnya »