Home / Berita / Opini / Pokemon Go di Antara Sianida dengan Jessica

Pokemon Go di Antara Sianida dengan Jessica

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Asma Ditha)
Ilustrasi. (Asma Ditha)

dakwatuna.com – Beberapa bulan terakhir di tahun 2016, publik nusantara digemparkan oleh maraknya permainan Pokemon Go. Pokemon Go telah menjadi tren baru bagi pecinta games. Penggemar permainan modern yang dibuat oleh John Hanke ini telah membludak dalam waktu yang sangat singkat. Sejak dipublikasikan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Australia, permainan yang bisa diunduh lewat aplikasi Google Play Android atau App Store iOS ini bersaing ketat dengan kepopuleran Facebook, Snapchat, Instagram dan WhatsApp. Pokemon Go juga bakal dirilis di 200 negara di dunia.

Pokemon Go hadir dengan gaya permainan yang sangat menantang para penggila games. Para gamers dituntut memainkannya dengan mengaktifkan GPS. Tujuan diaktifkannya GPS agar gamers lebih mudah  mencari Pokemon sambil berjalan menyusuri setiap sudut jalan yang lewati. Taktik  permainan ini semacam  “operasi intelijen” yang benar-benar membawa imajinasi para pemainnya ke tingkat dunia nyata.

Lalu apa kaitannya dengan Jessica dan Mirna? Kopi Sianida?

Malam tadi, saya melakukan kontemplasi atas sidang kasus Jessica tersebut. Betapa negeri ini, marwah hukumnya telah hilang. Seakan-akan tragedi di Restoran Olivier, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta tersebut merupakan kasus yang berkepanjangan dan tak bisa dituntaskan. Berbagai Alibi yang dituduhkan kepada sang tersangka; Jessica lewat CCTV yang diputar pada saat sidang membuat drama Kopi Vietnam ini telah melegendaris, menenggelamkan pemberitaan kasus-kasus besar di negeri ini. Silang debat antara saksi ahli dengan tim kuasa hukum atas sebuah novum menjadi tontonan yang menarik, bagaikan mencari jarum di dalam jerami. Jutaan hipotesa akan keterlibatan “pembunuh” Mirna ini sangat apik dimainkan. Bahkan, juga melibatkan tim psikiater forensik. Ruang sidang mendadak berubah warna, seakan khalayak sedang berada di dalam gedung orkestra. Media memanjakan penonton dengan pentas musik perkusi. Seperti Dirigen dalam kelompok orkestra. Film ada sutradaranya. Dibalik wayang pun ada dalang. Nah, kini publik pun sulit membuat kesimpulan atas BAP yang dibuat terkait meninggalnya Wayan Mirna Salihin; gadis 27 tahun sejak delapan bulan lalu. Kita tunggu saja kapan adu kuat drama dua sahabat yang pernah berkampus di Billy Blue College of Design, Sydney, Australia selesai.

Seperti permainan Pokemon Go, kasus Sianida tersebut bisa dikatakan punya kemiripan. Kedua kasus unik tersebut hadir dalam waktu yang monumental. Sama-sama memengaruhi laku pikir masyarakat lewat media cetak, media online dan media elektronik. Setingan waktu kedua-duanya terjadi dalam konteks yang  berbeda. Pokemon Go dengan alam maya, sedangkan Sianida dengan alam nyata. Walau berbeda, kedua hal tersebut mempunyai visi tunggal yang sama yakni mencari seorang “monster” di akhir plotnya. Tingkat permainan pun sama, melewati tahap-tahap, jalan tikus yang sangat rumit.

Ya. Aplikasi yang di sign in lewat Google atau Pokemon Trainer Club tersebut dimainkan untuk mencari , monster-monster Pokemon, yang dibuat seakan bersembunyi di lokasi-lokasi tertentu di dunia nyata. Pemain harus berlari ke sana ke mari secara nyata untuk menemukan mereka di dunia maya. Laksana memainkan Pokemon Go, pihak yang menangani kasus Sianida juga harus benar-benar serius dan merasa sangat “penting” untuk menuntaskan kasus tersebut secara detail, agar para “monster” dapat tertangkap dan penegak hukum bisa mencari “monster” lain dalam tahapan kasus yang berbeda. Mengingat, masih banyak skandal megaproyek yang tersandung hukum, namun masih bergentayangan menyerunduk hak masyarakat.  Senada dengan hal tersebut, muncul sebuah argumentasi baru yakni jika hukum di negara ini tidak lagi bisa menuntaskan drama penalti berbagai kasus hukum dan kriminalitas, apakah aparat hukum di negara Pancasila ini harus menggunakan media Pokemon Go sebagai alat konduktor untuk menemukan siapa “monster” dari permainan kopi darat di bulan Januari? (dakwatuna.com/hdn)

Ambon, 11 Agustus 2016

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Asma Ditha
Nama Lengkap Muhamad Nasir Pariusamahu. Disapa Nasir. Lahir di Parigi, 05 Desember 1992. Nomor kontak dan WA: 085243139596, IG. nasir_051292, facebook: Muhamad Nasir Pariusamahu, twitter: @asma_ditha. Sekarang menjadi guru di salah satu sekolah swasta Kota Ambon.

Lihat Juga

Pokemon Go Dicari, Cari Pahala Pikir Dua Kali?

Figure
Organization