Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Romantisme Agama dan Semunya Rasionalitas

Romantisme Agama dan Semunya Rasionalitas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)

dakwatuna.com – Maha kuasa Rabb semesta alam. Hanya kepada-Nya kita menyembah, bersujud dan meminta pertolongan. Betapa tidak, maha karya-Nya yang berupa kemajemukan sosial telah menjadi taman diskusi sepanjang hayat.  Tentunya pluralisme yang dimaksudkan Tuhan bertujuan agar manusia saling memberi kebermaknaan akan keesaan Tuhan. Tuhan adalah penguasa atas egaliter alam serta segala ciptaan-Nya. Dalam ruang perbedaan tersebut, agama hadir sesungguhnya untuk menjembatani esensi takdir Tuhan dan visi kemanusiaan hamba yang senantiasa menjadi tali ikat dalam kehidupan. Agama adalah ketata-aturan sosial yang pada dasarnya memfilosofi haqqul yaqin.

Historisasi tentang keberadaan agama sejak manusia diciptakan, Adam as. kemudian berlanjut pada sikap pro-kontra tentang “who” estafeta risalah Tuhan di akhir zaman, telah membuktikan bahwa agama telah terjiwai dalam alam bawah sadar manusia. Tercatat dalam sejarah, bahwa konflik-konflik ideologi seperti kapatalisme vs komunisme merupakan tebar sesaat saja. Sebab, ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science des ideas (Al Marsudi,2001 : 57). Artinya, kehebatan ideologi seperti Hitler dengan Nazinya, Uni Soviet dengan Komunisnya, Amerika dengan Kapitalisme berhukum tidak statis, cepat punah ditelah zaman, ketika ideologi tersebut sudah tidak lagi mengikuti selera zaman. Berbeda dengan agama.  Seperti apa yang dikemukakan Sutan Takdir Alisyahbana (1992), agama adalah suatu sistem kelakuan dan perhubungan manusia yang pokok pada perhubungan manusia dengan rahasia kekuasaan dan kegaiban yang tiada terhingga luasnya, dan dengan demikian memberi arti kepada hidupnya dan kepada alam semesta yang mengelilinginya. Dengan demikian, agama berfungsi sebagai penyatu aliran air yang terpencar menuju ke satu muara; ketauhidan. Maka, ijtihad para utusan Tuhan dalam agama-agama samawi sesungguhnya berkiblat pada hal tersebut.

Sejatinya agama bukanlah sebuah konstetansi siapa benar, siapa salah. Tapi, soal rasa junjung akan kebenaran ilahiyat yang telah menjadi visi yang diemban para pengutus-Nya. Agama bukanlah masalah keromantisan ayat-ayat tentang surga dan hiruk-pikuk neraka yang dijadikan sabda politik kepentingan. Agama seharusnya menjadi visi semesta demi kesejahteraan masyarakat. Bukan seperti tafsiran syair Abu Nawas,” aku tak layak di surga-Mu, aku juga tak mampu menahan api neraka-Mu”. Olehnya itu, agama bukan dimaknai seperti memparafrasakan gurindam atau segala jenis karya seni. Agama itu diyakini dalam hati, dilisankan untuk disampaikan dan diamalkan sebagai buah kefahaman, itulah Iman sebagai pondasi keberagamaan. Laksana sayatan pedang di tengah perang, setajam pena dalam lembaran suhuf-suhuf.

Agama Candu?

Hari ini, kita hidup dalam zaman yang terputus dari jejak para pengutus risalah-Nya. Kurang lebih 1400-an jaraknya sudah. Dalam konteks modern, hadirlah sebagian pemikir yang mengandalkan intelektualitasnya bahwa agama dianggap kegamangan dalam hidup. Agama tak bisa memberikan inspirasi hidup. Mensekularisasikan agama. Mensyarahkan agama secara parsial; semu interpretasi. Sisi lain, agama dijadikan mitos dan cerita-cerita sakral dalam ruang-ruang khotbah dan ceramah. Kalaupun, ada yang hidup dalam agama, hanyalah ritual rutinitas semata bukan ritual kualitas. Penyakit fallacy pun bergentanyangan. Muncullah penyakit TBC; Tahayul, Bid’ah, dan Kufarat juga SIPILIS; Sekularis, Pluralis dan Liberalis. Bahkan ada yang lebih ekstrim bertanya, Tuhan itu dimana? Tuhan dipersonifikasikan. Lalu siapa yang menciptakan Tuhan?

Nukilan di atas tidaklah terjadi begitu saja di abad keterbukaan. Jika, membuka lipatan buku ke  abad ke-5 M hingga abad ke-15 M maka kita akan diajak untuk tenggelam dalam kelamnya doktrinasisi palsu tentang agama oleh kaum agamis; The Dark Ages.  Kita bisa menyaksikan di mana agama sebagai suatu hal yang tabu untuk dibicarakan. Para agamawan dianggap manusia berperadaban rendah dan tidak progresif terhadap perkembangan zaman. Agama diposisikan inferior terhadap segala hal sehingga menyebabkan orang-orang pada zaman itu tak lagi mengindahkan agama secara menyeluruh. Sehingga, muncullah filosof-filosof yang secara frontal mengeksploitasi agama dan mendiskretkan otoritas pemuka agama. Filosofer ini melakukan generalisasi dalam memerian apa itu A-gama. Mereka menganggap bahwa semua agama itu sama dan dogmatis. Agama hanya memberikan doktrin-doktrin yang membatasi kebebasan berpikir manusia. Pernyataan “God is dead” yang dilontarkan oleh Nietzche, pernyataan Karl Marx bahwa “Religion is opium for the people”, sampai teori psikologi Freud yang menyatakan bahwa “God is the tyrant of the soul” menjadi populer kala itu di Eropa. Mereka inilah yang notabene merupakan non-agamawan dengan seenaknya berbicara tentang Tuhan dan agama tanpa ilmu. Sejak para filosof ini menentang agama maka otoritas keagamaan tidak memiliki tempat lagi di hati masyarakat Eropa.

Fakta lain adalah munculnya pertentangan ilmu sains dan agama oleh Galileo Galilei dengan kaum gereja Katolik. Kala itu, Galileo Galilei dianggap sebagai “bapak sains modern” di tahun 1600-an  dengan keyakinanya atas teori barunya; teori heliosentris. Tentunya, teori barunya tersebut menjadikan gereja Katolik saat itu sangat marah atasnya. Karenanya, dia dipanggil dan mempertanggungjawabkan keabsahan teorinya tersebut. Kaum Gerejawi saat itu menganggap bahwa dia telah kafir, karena bertentangan dengan keyakinan Gereja saat itu; Alkitab mengatakan bahwa “Bumi adalah pusat tata surya, matahari mengelilingi bumi” (Yoshua 10:12-13)  Dari kisah Galileo, nafas sains sempat dikakukan. Hal tersebut, telah meyakinkan banyak orang bahwa pada dasarnya, agama merupakan ancaman bagi kemajuan ilmiah. Apakah faktanya demikian?

Ada Sebuah Kejernihan Jiwa Dalam Agama

Olehnya itu, agama bukan dilihat dari sudut pandang kita sebagai manusia. Maka agama tak seperti mata; melihat dalam ruang terbatas. Agama tak laksana seorang buta menerjemahkan keartian seekor Gajah. Melainkan, ada dua sudut pandang bahwa agama itu syamil-mutakamil (komplit dan komprehensif) Maknanya: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada Muhammad. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah Umm Al Qur’an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayat-ayat al Qur’an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang  yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat)  melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan : “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal”    (QS. Al Imran : 7) sebagaimana pula dalam Alkitab Terjemahan Baru- 2 Petrus 1:20-21, “(20) Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Secara otomatis ada hal-hal yang dapat dinalarkan oleh manusia secara dzahir adalah hal-hal yang bersifat kauniyah; dapat diterangkan oleh akal dan ilmu pengetahuan. Nalar diperkenankan bukan untuk diperbandingkan tetapi sebagai penghayatan terhadap kekuasaan Tuhan yang maha kuasa, agar manusia bertambah syukur bukan kufur. Seperti proses hujan yang membasahi tandusnya tanah bumi : “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. An-Nur : 43). Bukan malah mencari sebuah kehakikatan postulat pada sifat qauliyah sehingga menyebabkan keabsolutan pada hati, menyempitnya akal, pikiran dangkal. Maka, nikmatilah sajak-sajak dengan rima yang sangat serasi dan merdu Zawawi Imron:

—– Allah —–

Matahari, bumi, binatang dan bulan
Tidak ada yang mampu menciptakan
Yang kuasa membuat hanya Allah
Tiada Tuhan selain Allah
Manusia hidup punya pikiran
Bisa berjalan, tidur dan makan
Dari mana ia dapatkan kekuatan ?
Dari Allah pencipta alam

(dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Asma Ditha
Nama Lengkap Muhamad Nasir Pariusamahu. Disapa Nasir. Lahir di Parigi, 05 Desember 1992. Nomor kontak dan WA: 085243139596, IG. nasir_051292, facebook: Muhamad Nasir Pariusamahu, twitter: @asma_ditha. Sekarang menjadi guru di salah satu sekolah swasta Kota Ambon.

Lihat Juga

Din Syamsuddin: Agama Harus di Praktekkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Figure
Organization