Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menyayangi Dengan Cara yang Berbeda

Menyayangi Dengan Cara yang Berbeda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: rawmavy.deviantart.com)
Ilustrasi. (Foto: rawmavy.deviantart.com)

dakwatuna.com – Dia adalah malaikat penjaga dan pemberi nasihat terbaik. Apapun ia lakukan untuk membuat anaknya sukses dan berguna, tentunya dengan cara yang berbeda.

Fajar kala itu membangunkanku untuk beraktivitas. Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang diantar jemput. Ketika bel sekolah berbunyi aku selalu pulang tepat waktu.

Ibuku adalah seorang yang keras kepala dan overprotectif. Saat libur tiba harusnya aku bisa bermain bersama teman sebayaku, namun ibuku tak pernah memberikanku waktu bermain sedetikpun, karena menurutnya hanya membuang-buang waktu. Dia selalu menuntutku untuk belajar, belajar dan belajar.

Jika tidak diikuti aturan yang ibu berikan aku dihukum. Ibu selalu menuntutku untuk peringkat tiga besar, hari-hari dilalui dengan belajar tanpa televisi, handphone apapun yang menurutnya tidak berguna.

Takut, karena aku benar-benar tidak menginginkan hal ini terjadi. Sampai di rumah tak bisa ku pungkiri, aku dimarahi ketika nilai raportku turun. Saat itu aku masih terbilang kecil, aku hanya bisa menangis.

Menurut ibu, jika aku mendapat nilai buruk, berarti ibuku telah salah mendidik anak. Dengan  rasa kesal ibu yang tinggi, akhirnya aku disuruh tidur di luar tanpa sehelai kain sedikitpun.

Saat usiaku 19 tahun aku mulai mengerti perbuatan yang ibu lakukan itu semata-mata karena menyayangiku, dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku adalah harapan satu-satunya ibu, namun caranya yang salah hingga aku trauma dengan masa kecil.

Overprotectif yang ibu berikan berguna di masa kini, dengan itu aku banyak belajar. Dan mengambil nilai positifnya. Setiap ibu punya caranya masing-masing dalam menyayangi seorang anak.

Inilah yang menjadikan ibu sebagai seorang sosok istimewa dalam kehidupan setiap manusia, yang tidak dapat digantikan dengan apapun. Dengan ibu aku dapat mengerti arti kehidupan, arti ketulusan, semua ia lakukan untuk kebaikan di masa mendatang. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Nama lengkap Siti Maysaroh. Sebagai Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta dan mengambil Jurusan Teknik Grafika Penerbitan.

Lihat Juga

MAPADI Menolak Kerjasama dan Bantuan dari Pihak yang Beda Keyakinan