Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kasih Sayang Sepanjang Masa

Kasih Sayang Sepanjang Masa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (instagram.com/dawah.doodle)
Ilustrasi. (instagram.com/dawah.doodle)

dakwatuna.com – Matahari yang menyinari di pagi hari dan bulan bersinar pada malam hari. Namun, hanya ada satu cahaya yang selalu bersinar di hatiku. Cahaya itu adalah kasih sayang seorang ibu kepada insan permata.

Kasih sayang yang tak kenal lelah, tanpa mengharapkan balasan dan tak akan terbalas. Bahkan kasih sayang seorang ibu mampu merelakan nyawanya, demi anaknya akan tetap bertahan hidup. Sadarkah seorang anak akan kasih sayang ibu yang begitu besar?

Kehadiranku di dunia ini berasal dari benih-benih cinta antara ibu dan ayah. Sembilan bulan ibu mengandung. Ibu melakukan pengorbanan dengan susah payah, melawan rasa mual yang membuat nafsu makannya berkurang dan perutnya semakin membesar. Sehingga berat badannya melonjak.

Ketika lelah menghampirinya, ibu menghelakan nafas dan butir-butir keringat yang bercucuran penuh di keningnya. Sembari menghilangkan rasa lelah, tangan yang lembut itu mengelus perut besarnya dengan penuh kasih sayang dan mengiringi dengan doa, hingga sampai waktunya tiba.

Erangan, jeritan dan tangisan kesakitan ibu merasakan itu semua, sampai aku terlahir di dunia, atas berkat keikhlasan dan kesabarannya. Seorang bayi suci tanpa dosa lahir dari rahim seorang ibu yang telah berjuang.

Seiring dengan berjalannya waktu, ibu mendidikku hingga tumbuh besar. Terlintas dalam pikiranku, kehidupan ini seperti panggung sandiwara. Namun hanya ada satu tokoh yang bisa berperan melakukan apa saja untuk diriku. Tokoh itu adalah ibuku.

Ibuku telah banyak menjalani peran di kehidupan ini dalam mendidik anak-anaknya. Salah satu peran ibuku yaitu bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Ibuku selalu setia menemaniku saat senang maupun susah. Ketika ku sakit, ibu selalu siap sedia berada di sisiku. Namun, siang dan malam, hati dan pikiran ibuku terambang oleh kegundahan dan kekhawatiran akan kesembuhan pada buah hatinya.

Selain itu, ibuku menjadi sosok pendengar setia. Telinganya selalu bersedia mendengarkan curhatan isi hatiku, entah itu kesenangan ataupun keluh kesah yang ku rasakan. Lain halnya dengan ibuku, tidak pernah sedikit pun telingaku mendengar curahan keluh kesah  hatinya yang terlontar dari mulutnya.

Tidak hanya itu, ibuku juga sebagai penasehat yang selalu memberikan contoh perilaku dan sikap yang baik dalam mendidik anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayangnya.

Inilah ibuku yang sangat ku cinta, sahabatku sepanjang masa. Ibuku selalu memberi kasih sayang yang tak pernah putus asa. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswi di Politeknik Negeri Jakarta, jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, program studi Penerbitan (Jurnalistik). Senang menulis buku harian dan mewarnai.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Organization