Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Balik Jendela di Kala Senja Tiba

Di Balik Jendela di Kala Senja Tiba

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)
Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)

dakwatuna.com – Senja sore yang indah menghiasi langit kota Bandung sore ini. Sore di mana detik-detik diriku pergi meninggalkan waktu ke waktu lainnya. Waktu memang singkat bagi mereka yang lalai dan tak tepat. Ia menerkam siapapun yang lalai dan melahirkan penyesalan bagi pelakunya. Layaknya penutup dalam drama, penyesalan menghampiri dikala akhir yang tak memuaskan ataupun tak sesuai harapan. Berhentilah sejenak dalam penyesalan, mulailah babak baru dalam kehidupan.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah, jika engkau tertimpa sesuatu…. ”

Tak terasa hiasan senja di langit sudah berganti ke dalam malam. Sayang, meskipun senja dan malam berdekatan, ia tak pernah bertemu hanya untuk sekedar berjabat tangan ataupun berpapasan. Sesuatu yang dekat terkadang sangat jauh ketika ia bukan takdir bagi si pengharap. Namun, sesuatu yang jauh bisa amat dekat tatkala ia adalah bagian dari takdir seseorang. Yah, kadang jodoh seperti dua kalimat tadi, jauh menjadi dekat dan dekat menjadi jauh. Semuanya telah dilukiskan indah olehNya di lauh mahfudz.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Al An’am: 59. ”

“Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim. ”

Dari dalam jendela kereta kupandang ciptaan-Nya. Tak sedikitpun kurang atau cacat di dalamnya. Hanya kelakuan perusaklah yang terkadang membuat ciptaan-Nya menjadi tak seindah semestinya. Di kala hutan dibakar secara sengaja, dan banjir melanda akibat kejinya perbuatan manusia.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah). ” (Q. S. Ar Rum (30) : 41-42)”

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. ”(Q. S. Al-A’raf (7) : 56-58)”

Di tengah malam yang hening, dan juga temaramnya malam. Kulihat pelajaran akan kehidupan. Ia memang tak terlihat. Kadang ia tak bisa kita dengar, dan juga tak bisa kita sentuh walau dengan cara apapun. Ia adalah manisnya ketaqwaan dalam balutan sepertiga malam. Ia adalah hadiah dari sang maha pencipta. Ampunan bagi mereka yang berlumur dosa dan lautan kesalahan. Ijabah bagi mereka yang haus akan kabulnya doa. Karena Ia memberi sebuah cinta bagi mereka yang cinta terhadap-Nya.

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barang siapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758)”. (dakwatuna. com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa yang sedang menekuni dispilin ilmu Ekonomi Islam di Fakultas Ekonomi & Bisnis,Universitas Brawijaya,Malang,Indonesia

Lihat Juga

Turki Renovasi Kembali Stasiun Kereta Api Hijaz yang Berjaya di Era Utsmani