Home / Narasi Islam / Ekonomi / Umar dan Era Kompetitif

Umar dan Era Kompetitif

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (blogspot.com)
Ilustrasi. (blogspot.com)

dakwatuna.com – Kita banyak mendapati kisah kesuksesan kaum muslim, dari menguasai sepertiga dunia, khasanah keilmuan, teknologi dan berbagai bidang lain. Namun sesungguhnya, kesuksesan telah diback up oleh para pendahulu. Umar bin Khattab, salah seorang reformator dan inovator di bidang kelembagaan dalam kedaulatan Islam. Umar adalah sosok pertama yang menyalurkan berbagai sistem perekonomian yang kondusif dan terformat secara sistematis.

Umar memiliki tiga aspek pemberdayaan utama dalam mengoptimalkan sistem perekonomian pada kepemimpinannya, yaitu Baitul Mal, Hisbah, dan pengelolaan tanah. Tiga hal penting inilah yang membawa kesuksesan perekonomian pada masa Umar. Bahkan terdapat satu kisah yang mencerminkan kemakmuran pada masa pemerintahan Umar.

Dikisahkan oleh Abu Ubaid Qasim bin Salam dalam kitab beliau Al-Amwal (Kairo:Darus Salam, 2009 hlm. 596). Pada masa Umar, Muadz bin Jabal merupakan staf pemungut zakat di Yaman. Beliau mengirimkan hasil pemungutan zakatnya dari Yaman ke Madinah tempat Umar berada. Namun zakat itu dikembalikan utuh oleh Umar ke Yaman. Maka kemudian Muadz mengirim kembali sepertiga dari zakat yang ia kirimkan sebelumnya kepada Umar, namun kemudian Umar mengembalikan lagi, dan berkata, “Wahai Muadz, aku mengutusmu untuk memungut zakat dari orang kaya di sana, dan membagikannya kepada orang miskin yang juga di sana, bukan menyetorkan pajak kepada kami yang di sini.” Namun Muadz menyangkal, “Bagaimana aku bisa membagikan pungutan zakatku, wahai Amirul Mukminin? Jika di Yaman pun aku tak menjumpai orang yang layak dan berhak diberi zakat.”

Pada tahun kedua pun, Muadz mengulang mengirim kembali separuh hasil zakat yang ia pungut dari Yaman, dan lagi-lagi Umar mengembalikannya. Dan tahun ketiga, Muadz pun berkata “Aku tidak menemukan orang yang layak dan berhak menerima zakat yang aku pungut.”

Begitulah tercermin kesuksesan perekonomian pada masa Umar. Ini tidak terjadi di wilayah Yaman saja, namun juga tersebar di seluruh wilayah kedaulatan Islam. Dalam buku Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran ekonomi Islam (hlm. 58) wilayah kedaulatan Islam di antaranya: Jazirah Arab, sebagain wilayah kekuasaan Romawi (Syria, Palestina, dan Mesir), serta seluruh kekuasaan Persia, termasuk Irak.

Lalu bagaimana jika kita tarik garis menuju masa sekarang, dengan sisi historis yang mampu mengembangkan perekonomian secara instan dan terstruktur?

Perekonomian Indonesia kini sedang mengalami sorotan yang cukup tajam, di samping beberapa berita yang kini sedang mencuat. MEA 2016 tidak hanya di depan mata, namun juga telah melewati gerbang era perekonomian selanjutnya. Terlepas dari itu, terdapat fenomena menarik setelah kemunculan MEA, teutama dari kalangan cendikiawan dan intelektual: apakah Indonesia telah siap bersaing dengan antusiasme tinggi dalam menghadapi MEA?

MEA bukan sekadar Economics Relationship yang menghubungkan seluruh negara dalam serikat berumpun, MEA juga membuka Indonesia masuk dalam kancah persaiangan sumber daya yang ketat dengan diberlakukannya fasilitas Mutual Recognition Arrangement (MRA). MEA sendiri sebenarnya terdapat peluang dan tantangan. Dilansir VOA Indonesia oleh Andylala Waluyo 31 Desember 2015, pengamat pasar modal Yanuar Rizky berpendapat, pemerintah belum ekstra memperhatikan sektor usaha kecil menengah dalam kancah MEA 2016 ini. MEA bersifat kompetitif, dalam 8 paket kebijakan ekonomi pemerintah, belum ada yang betul-betul mengarah pada sektor usaha kecil menengah, ataupun peningkatan kapasitas kinerja masyarakat. Semuanya hanya mengarah pada sektor usaha makro.

Seperti dilansir dari Tempo 31 Desember 2015 Ketua Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII), Tirta Mursitama menyatakan bahwa masyarakat ASEAN, termasuk Indonesia masih terkungkung dalam organisasi regional yang elitis, belum berbaur dengan kalangan mikro. Bahkan diperlukan pengedepanan kepada unsur nonmaterial, tidak hanya material yang menguntungkan ekonomi. Maka bagaimana cara menyatukan hal ini?

Dalam konsep perekonomian sebelumnya yang dikembangkan oleh Umar bin Khattab memiliki peluang yang sangat tinggi jika diterapkan di Indonesia. Konsep ini mengedapankan konsep nonmaterial yang juga menguntungkan perekonomian. Konsep nonmaterial ini adalah zakat, dengan lembaga pada masa Umar disebut Baitul Mal. Zakat mengedepankan sikap simpati dan empati yang langsung bersinggungan dengan kehidupan rakyat.

Banyak bidang yang bisa dikembangkan di Indonesia, seperti halnya Umar yang mengembangkan pasar sebagai usaha, maka Indonesia juga perlu mengembangkan pasar modern maupun tradisional sebagai basic pemodal dan pengembang awal. Segala sistem perekonomian masa Umar sebenarnya telah dipraktekkan oleh Indonesia sejak awal, namun sistem yang kurang transparan menyebabkan ketimpangan, dan juga kurang berputarnya uang kepada kalangan kecil dan menengah seperti realisasi Umar dalam Baitul Mal. Satu hal yang perlu Indonesia tekankan dalam pengembangan ekonomi mikro, khusunya di bidang pertanian dengan melihat realitas kehidupan pekerja tani, adalah pengurangan biaya pajak pertanian nabati, yang pada masa Umar mencapai 50% pengurangannya.

Namun konsepsi ini belum tentu sempurna keseluruhan aspeknya. Dalam buku Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (hlm. 58) menyebutkan bukan berarti semua kebijakan yang Umar canangkan adalah sempurna. Salah satu prinsip yang Umar terapkan adalah membagikan uang negara kepda rakyatnya. Terapan inilah yang menyebabkan ketimpangan dalam tatanan ekonomi dan sosial. Hakim bin Hizam, sahabat Umar berpendapat bahwa hal ini dapat menyebabkan lahirnya sifat kemalasan dari kalangan pedagang yang akan mengancam kelangsungan hidup mereka sendiri, jika suatu saat pemerintah menmberhentikan kebijakan distribusi uang negara tersebut. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Berasal dari Wonosobo, Sekarang menempuh pendidikan jenjang S1 semester I Prodi Ilmu Hadist di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Organization