Topic
Home / Narasi Islam / Ekonomi / Rahasia Sukses Menjadi Insan Berdaya Saing Global

Rahasia Sukses Menjadi Insan Berdaya Saing Global

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (World Economic Forum). (klik untuk memperbesar).
Ilustrasi. (World Economic Forum). (klik untuk memperbesar).

dakwatuna.com – “Globalisasi adalah sebuah keniscayaan dan menjadi manusia global adalah keharusan” itulah sejenak kalimat yang terlintas dalam pikiran saya ketika menghadiri kegiatan diskusi di Rumah Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri Surabaya. Pada hari Selasa, 07/04/2015 selepas shalat isya atau sekitar pukul 20.00 diskusi tersebut dimulai dengan pemaparan yang diberikan oleh salah satu pembicara yang diundang yaitu Mas Faisal Maulana (Delegasi Indonesia di PCMI Jawa Timur ke Kanada) yang kini beliau bekerja di International Office Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Malam itu Mas Faisal menyampaikan materi berjudul ”How to be Global Citizen”, di mana tak lama lagi Indonesia akan segera menghadapi era baru yaitu ketika Bendera ASEAN dikibarkan di seluruh penjuru negara. Anggotanya di antaranya Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja pada akhir 31 Desember 2015 mendatang. Sekaligus menjadi pertanda dimulai berlakunya Kebijakan terkait Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Belakangan ini kita telah banyak digemparkan oleh isu ini, mulai dari seminar-seminar hingga konferensi banyak mendiskusikan permasalahan terkait “Apa itu MEA, kenapa harus diadakan MEA, apa manfaatnya?”. Berkaca dari dinamisasi dunia menuju ke satu tujuan yaitu Globalisasi, tanpa terasa perlahan-lahan sekat-sekat antar Negara akan memudar di mana semua orang berhak berpindah-pindah, melancong, berwisata, menempuh pendidikan bahkan mencari pekerjaan di Negara lain. Di lain sisi Negara Adidaya seperti Amerika, China dan Uni Eropa terus menunjukkan eksistensinya, baik dalam ketatanegaraan, militer bahkan perekonomian. Oleh karena itu ASEAN sebagai kumpulan dari beberapa Negara berkembang di kawasan Asia Tenggara melihat ini sebagai sesuatu yang bisa menjadi ancaman dan perlu untuk diantisipasi. MEA adalah salah satu upaya kita dalam meleburkan sekat-sekat di antara Negara berkembang untuk menyatukan kekuatan agar tidak tersisihkan dari persaingan Negara adidaya yang terus menguat. Maka “mau tidak mau” kita sebagai warga ASEAN harus “mau” untuk mengawali diri menciptakan atmosfir persaingan global yang membangun di antara Negara-negara ASEAN.

Tantangan mendasar yang akan dihadapi bangsa ini ketika MEA berlangsung yaitu kesiapan kita dalam persaingan dengan masyarakat global utamanya dalam hal persaingan dunia kerja atau bisa disebut sebagai “Global Challenge”. Di akhir 2015 nanti kita tak perlu heran ketika berbondong-bondong warga Negara Thailand, Singapura bahkan Malaysia datang ke Indonesia untuk mencari pekerjaan bahkan memulai membangun bisnis di Tanah Air kita, namun benarkah itu bukan menjadi sebuah masalah? Menurut “Global Competitiveness Report 2013-2014” menyebutkan bahwa daya saing tenaga kerja kita masih berada di peringkat 5 di antara seluruh Negara Asean.

Ilustrasi. (Ainun Indra)
Ilustrasi. (Ainun Indra)

Untuk menjawab “Global Challenge” tersebut, kita perlu membekali para generasi muda dan tenaga kerja kita agar mampu bersaing di MEA nantinya. Berikut adalah tips dalam mengembangkan Daya Saing kita di era Global ini.

Pertama, yaitu Komunikasi dan Bahasa Asing. Di mana Bahasa adalah kunci utama agar kita mampu berkomunikasi baik dengan masyarakat Global. Apabila seseorang telah mampu menguasai suatu bahasa dari klien atau patner kerja kita, tentu itu kan memberikan respect dan memudahkan kita dalam menjalin kerja sama dengan klien tersebut. Bisa kita bayangkan bahwa orang-orang asing di industri-industri dalam negeri ternyata mampu menggunakan bahasa daerah itu dengan baik dan halus, maka dengan mudah mereka bisa mendapatkan simpati dari tokoh masyarakat di daerah tersebut. Namun hal tersebut tentu butuh didukung pula dengan kemampuan komunikasi yang baik seperti, body language, ekspresi, tutur kata yang lembut dan santun dsb. Karena tak jarang kita jumpai seseorang mampu berbahasa dengan baik namun gugup dalam berbicara di depan umum.

Kedua, “Knowledge” atau ilmu, baik eksak maupun umum. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang luas serta mendalam tidak akan mudah ditipu ataupun dipermainkan orang lain. Ilmu juga sangat penting dalam menimpulkan respect dari patner kerja kita sehingga kita mampu bekerja secara teliti dan professional.

Ketiga, Softskill. Kemapuan seseorang dalam menunjukkan profesionalisme akan membuatnya mampu diterima dalam masyarakat Global. Bukan hal yang tidak mungkin bila pesaing kita dari berbagai Negara lain telah unggul dalam disiplin, integritas, cooperative serta jujur di mana itu semua termasuk dalam softskill yang menunjukkan level profesionalitas seseorang.

Keempat, Hardskill. Di mana keahlian seseorang dalam menekuni suatu bidang merupakan hal wajib yang perlu dikuasai apabila seseorang tersebut. Karea bagaimana mungkin apabila seorang yang bekerja disuatu tempat namun ia tak paham dengan apa yang ia kerjakan ataupun tak sanggup menyelesaikan masalah-masalah terkait apa yang ia kerjakan, tentu hal tersebut dapat berakibat fatal.

Kelima, penampilan dan kekuatan fisik. Secara tidak langsung penampilan mampu mempengaruhi pandangan seseorang terhadap diri seseorang. Maka kita perlu lebih membiasakan diri kita untuk menjaga penampilan untuk selalu rapi, modern dan menarik. Begitu pula dengan kondisi fisik yang selalu prima yang dapat diraih dengan olahraga teratur dan didukung dengan pola hdup yang sehat.

Keenam, yang juga tak kalah penting yaitu “Self Competency”. Ya, Kompetensi merupakan hal yang jarang diperhatikan oleh tenaga kerja kita dan sangat diunggulkan di Negara-negara maju. Kompetensi ini mampu dijadikan sebagai acuan atau bukti atas keahlian seseorang. Seperti hal nya ketika kita mempelajari suatu ilmu, tentunya kita perlu tau syllabus atau konten yang menjadi ukuran seseorang tersebut dikatakan sudah menguasai ilmu tersebut atau belum. Hal ini berkaitan dengan Affective Domain suatu ilmu, secara science seseorang telah dikatakan menguasai suatu ilmu ketika ia telah mampu mendeskripsikan jelas apa yang ia pelajari, baik teori, formula serta istilah-istilah di bidang keilmuan tersebut. Knowledge, yaitu seseorang tersebut haruslah mampu menjelaskan mengapa perlu adanya ilmu tersebut, perlu adanya formula ataupun istilah tersebut. Know How, yaitu ketika seseorang mampu membandingkan dan membedakan antara spesifikasi suatu ilmu dengan ilmu lainnya. Serta yang terakhir adalah skills dimana seseorang benar-benar paham bagaimana mengaplikasikan ilmu tersebut di kehidupan sehari-hari ataupun di dunia kerja yang ia tekuni.

Semoga dengan tips ini, tenaga kerja kita mampu meningkatkan daya saingnya dengan Negara-negara lain dalam menyambut masyarakat global di MEA 2015.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Dirjen Energi Kementrian Energi dan Maritim BEM ITS Kepala Departemen Syiar Lembaga Dakwah Ashabul Kahfi Penerima Beasiswa PPSDMS Nurul Fikri Penerima Beasiswa Sampoerna Foundation Medali Perak PIMNAS 27 Delegasi Make a Different Forum di Hongkong Delegasi Round Table Discussion di Asean University Youth Summit Malaysia Juara 2 Pidato Nasional Pembaca Puisi Terbaik Nasional

Lihat Juga

Pembicaraan Kecil Tentang 8 Pilar Sukses Mendidik Anak

Figure
Organization