Home / Berita / Opini / Menjernihkan Persoalan Maulid dan Natal

Menjernihkan Persoalan Maulid dan Natal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(konsultasisyariah.com)
(konsultasisyariah.com)

dakwatuna.com – Di penghujung tahun 2015 terdapat dua perayaan keagamaan yang hampir berbarengan. Tanggal 24 Desember adalah Maulid Nabi Muhammad, kemudian besoknya adalah perayaan Natal. Tiap tahun dirayakan secara meriah. Namun tanggal yang dirayakan bukanlah kelahiran dua Nabi tersebut.

Bila ditelusuri sejarahnya, tanggal 25 desember adalah kelahiran dewa Matahari (Mithra). Pada 3 abad pertama tidak ada perayaan Natal. Namun pada tahun 354, Paus liberius menetapkan perayaan kelahiran yesus pada 25 desember (Dr hamid Qadri, Awan gelap keimanan Kristen, hal 125).

Mendiang Herbert W Amstrong juga menegaskan tidak seorang pun yang mengetahui kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. “Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab bible sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur yang diperkirakan jatuh pada bulan September atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah (Herbert W. Amstrong, Misteri Natal, hal 22-23).

Sedangkan 12 Rabiul awal iuga bukan waktu kelahiran Nabi Muhammad saw. Sejatinya 12 Rabiul awal adalah moment di mana Nabi Muhammad saw wafat dipangkuannya Siti Aisyah RA.. M. Quraish shihab mengutip pendapat ahli falak Mesir, Mahmud al Falaki al Mashry, beliau menetapkan Nabi Muhammad saw lahir pada hari Ke 55 pasca kekalahan tentaranya Abrahah. Jadi, Nabi lahir pada 9 Rabiul awal (571 M). Ada juga sejahrawan al Mas’udi yang menyatakan kelahiran Nabi jatuh pada tanggal 8 Rabiul awal (Quraish shihab, Membaca sirah nabi Muhammad, hal 210-211). Riwayat sejarah yang tidak ada perselisihan adalah hari Senin, hari yang penuh berkah di mana Nabi Muhammad dilahirkan. Di hari senin pula beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

Di negara Indonesia, tiap 25 desember bukan mempermasalahkan tanggal lahir Yesus. Melainkan lebih ke hukumnya mengucap selamat Natal dan memakai atribut Natal (misal: Topi dan kostum sinterklas). Tentu saja orang-orang terbelah sikapnya. Yang berpaham liberal dan tidak mengerti sejarah pasti membolehkan alias tidak mempermasalahkan. Sedangkan pihak yang mengerti sejarah dan kandungan surah al Kafirun, dengan tegas melarang hal tersebut.

Baru-baru ini elit Muhammadiyah, Prof Dr Yunahar ilyas mengungkapkan pandangannya terkait mengucap selamat Natal. “Mengucapkan selamat Natal jika dilihat dari sudut teologis, tersirat pengakuan terhadap Yesus sebagai Putera Tuhan, Sang Juru Selamat.” katanya.

Beralih ke persoalan maulid Nabi, umat Islam di Indonesia juga terbelah sikapnya. Kalangan tradisional yang punya misi melestarikan tradisi, tiap tahun istiqomah merayakan. Terakhir kali saya mengikuti perayaan Maulid Nabi pada 4 Januari 2015 di Masjid darul Mujahiddin, perumnas Sawojajar-Malang. Habib Hadi al-Kaff sebagai narasumber dalam acara itu berpendapat bahwa ada 3 alasan kita dianjurkan memperingati maulid: ungkapan syukur kepada Allah karena diutusnya Nabi kepada umat islam. Ungkapan gembira atas lahirnya nabi dan bentuk ungkapan rasa cinta kepada Allah swt.

Pihak yang tidak merayakan hanya kalangan Modernis yang punya misi purifikasi (pemurnian agama). Mereka menganggap tradisi ini bid’ah. Sebelum mengakhiri tulisan ini, idealnya sesama muslim tak perlu ribut ribut. Sebaiknya diambil jalan tengah. “Yang tidak bermaulid Nabi bukan berarti tidak cinta Rasulullah. mereka cinta rasul dengan amalkan sunnahnya,” tulis dokter Rizqi Fajrin dalam akun twitternya. Wallahu’allam.

 

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Alumni Jurusan Studi Islam di Pascasarjana UIN Malang. Pasca lulus, pada 2013-2015 menjadi Dosen tetap di STAI al-Yasini, Pasuruan. Mengajar mata Kuliah: Pengantar filsafat, ilmu Pendidikan islam, Akhlak Tasawuf dan Pemikiran modern dalam Islam. Terhitung sejak Februari 2015, menjadi Pendidik di MA Muhammadiyah 2, kota Malang.

Setidaknya sudah merilis lebih dari 60 karangan populer dan ilmiah, terutama di bidang Pemikiran Islam, Sejarah, Pendidikan, Filsafat, dan Politik. Artikel terbaru berjudul Seluk beluk Syiah Perspektif Buya Hamka dimuat di Majalah Tabligh Muhammadiyah edisi bulan Mei 2015.

  • dewegue

    Sesama Muslim Tidak Perlu Ribut-ribut, sebaiknya adalah “Yang tidak bermaulid Nabi bukan berarti tidak cinta Rasulullah karena mereka cinta rasul dengan amalkan sunnahnya,” . Wallahu’allam.

Lihat Juga

MUI: Selama Ini Ada Pembusukan Bahwa PKS Itu Anti Maulid