Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Surga yang Dirindukan

Surga yang Dirindukan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com – Tugas kita hanya taat, meski karakter bawaan kita mungkin ingin menolak. Menolak taat dengan berburuk sangka, menolak taat dengan kezaliman yang nyata, menolak taat dengan berbagai alasan yang disengaja.

Tugas kita hanya taat. Dalam lapang maupun berat. Karena taat tak pandang tempat. Tak pandang keadaan. Harus tetap taat pada tiap takdir yang ditetapkan.

Tugas kita hanya taat. Bagai nabi Sulaiman yang tetap taat meski balutan harta, tahta, dan rupa begitu memikat. Akan berat jika ia tak dibalut dalam taat. Dan Fir’aun adalah cerminan, tentang balutan harta, tahta, rupa namun menolak taat. Ditenggelamkan dalam lautan. Begitupun dengan Qarun sang hartawan yang juga menolak taat, ia kata “semua ini karena upayaku”. Lupa bahwa ada Allah pemilik kehidupan, dan karakternya pun memilih memberontak. Hingga dibenamkan dalam tanah yang gelapnya tindih bertindih.

Tugas kita hanya taat. Bagai nabi Ayyub yang tetap taat meski diuji teramat berat. Sakit, miskin, dan ditinggalkan terkasih. Ia tetap memilih taat, dalam puji maupun uji. Adakah ujian kita lebih berat darinya?

Akan berat jika ujian tak disertai dalam taat. Akan memaki tanpa membenahi, akan melaknat tanpa menginsyafi, akan mendurhakai tanpa memuhasabahi. Dan ketidaktaatan takkan mengubah takdir menjadi lebih baik. Maka taatlah, meski karakter kita betul-betul ingin menolak.

Dan jika suatu hari, jiwa-jiwa kita telanjur menolak taat, maka kembalilah dengan jalan taubat. Bagai nabi Musa, kembali pada Robbnya dengan penuh sesak di dada menyebut-nyebut segala khilaf, berdoa penuh khusyu lagi dengan sesal yang berjejalan.
(Al-Qaşaş):16 – Musa berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”.

Maka kembalilah dengan jalan taubat. Bagai nabi Yunus yang “melarikan diri” dari amanah memperbaiki umat, marah disertai ancaman yang menyayat. Kemudian sesal hadir, dengan pengakuan zalimnya diri, bukan zalimnya umat.

(Al-‘Anbyā’):87 “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.

Laaaaaa ilaaha illaaaaa anta subhaanaka inni kuntu minadzhoolimiiin.

Pintu taubat terketuk, diselamatkannya nabi Yunus dari uji yang berlapis-lapis. Serta setelahnya, kembali dalam umat yang juga dalam keadaan taubat, menuju taat.

Tugas kita hanya taat, meski ada bisik-bisik bahwa kita bukan malaikat yang selalu taat. Karena kita manusia lah maka ditugaskan untuk taat, bukan disifati taat seperti malaikat. Maka berupayalah dalam menjalankan tugas menjadi taat, karena kitapun bukan iblis yang menolak taat kan?

Tugas kita hanya taat, untuk SURGA YANG DIRINDUKAN.

(Al-Baqarah):25 – Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”…

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Muslimah lulusan BK UNJ yang kini sedang mengisi hari untuk dunia pendidikan. Mengajar adalah kehidupan. Hidup adalah untuk menyampaikan kebenaran, yaitu dengan mengajar

Lihat Juga

Empat Ciri Wanita Penghuni Surga