Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Darinya, Tapi Dari-Nya

Bukan Darinya, Tapi Dari-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Dia adalah pria berkulit putih, berbadan kurus, dadanya tidak terlalu lebar, punggungnya agak membungkuk, tulang pinggangnya kecil hingga tidak bisa menahan kain sarung, wajahnya tampak kurus, kedua matanya cekung, dahinya lebar, dan urat-urat tangannya tampak jelas.” Begitu Aisyah –radiyallahu anha– menuturkan ciri-ciri fisik pria ini ketika ada seseorang yang bertanya tentangnya.

Kemudian kita tahu, pria ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Yang terpercaya. Ialah sahabat yang selalu membenarkan apa yang diberitakan oleh Nabi Muhammad SAW. Yang karena itu pula ia peroleh gelar luar biasa tersebut.

Kemudian kita tahu, pria ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ayah dari Aisyah, istri Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat yang memiliki keutamaan nan tiada terbilang. Yang dari penuturan putrinya ini kita tahu perawakan Abu Bakar yang mungkin menurut kita nampak lemah dan ringkih. Padahal sejatinya ia amat kuat. Padahal sejatinya ia amat berani. Seperti yang Ahmad Abdul ‘Aal At-Tahtawi tuliskan dalam bukunya, 150 Kisah Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Suatu ketika, Ali bin Abu Thalib berkhotbah di hadapan kaum muslimin, “Wahai kaum muslimin, siapakan orang yang paling pemberani?”

“Dirimu, wahai Amirul Mu’minin,” jawab mereka serentak.

“Tidaklah seorang berduel denganku melainkan saya mencari jalan tengah dengannya. Berbeda dengan Abu Bakar, kami menjadikan sebuah singgasana bagi Rasulullah di medan perang. Kemudian kami bertanya, ‘Siapakah yang akan bersama Rasulullah agar tidak seorang pun kaum musyrikin yang berani menyerangnya?’ Demi Allah, tiada seorang pun yang mendekati Rasulullah selain Abu Bakar sambil berjaga-jaga dengan pedangnya di dekat Rasulullah SAW. Selanjutnya setiap ada orang musyrik yang hendak menyerang Rasulullah, ia terlebih dahulu menyerangnya hingga binasa. Dialah orang yang paling pemberani.”

Ali bin Abu Thalib melanjutkan kisahnya:

“Kita menyaksikan Rasulullah dikeroyok dan dianiaya oleh kaum Quraisy, ‘Kamu yang telah menjadikan tuhan-tuhan kami menjadi satu?’ gertak mereka.

Demi Allah, hanyalah Abu Bakar yang mendekat untuk membebaskannya dari amukan orang-orang Quraisy, sambil berkata, ‘Celakalah kalian, akankah kalian membunuh orang yang mengatakan, “Tuhanku adalah Allah?”’

Ia mengangkat kain yang semula menutupi badan Rasulullah, kemudian menangis hingga jenggotnya basah dengan air mata.”

Demikianlah, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Yang kemudian di lintas sejarahnya yang lain kita belajar untuk berbuat kebajikan tanpa meminta imbalan, tanpa mengharap balasan. Dan hanya pada Sang Pemberi Balasan Terbaik kita berharap. Seperti yang Ahmad Abdul ‘Aal At-Tahtawi ceritakan kembali dalam bukunya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq selalu memerdekakan para hamba sahaya yang beriman kepada Allah, membebaskan mereka dari siksaan tuan-tuannya. Ia tiada pamrih berdakwah dengan mengorbankan harta dan kegigihannya.

Setiap kali Abu Bakar Ash-Shiddiq memerdekakan hamba sahaya, ia tak pernah mengharapkan pujian atau kedudukan di sisi manusia. Namun, ia hanya mengharapkan ridha Allah yang Maha Agung.

Suatu ketika, ayahnya bertanya kepadanya, “Wahai anakku, saya memperhatikan dirimu selalu memerdekakan para sahaya yang lemah. Mengapa kamu tidak memerdekakan budak lelaki yang kuat yang bisa membela dan membantumu?”

“Wahai ayah, saya melakukan hal tersebut hanya mengharapkan balasan yang berada di sisi Allah.” Abu Bakar menjawab pertanyaan bapaknya.

Dari kisah Abu Bakar ini kita belajar, bahwa ketika menunaikan perintah Allah tak perlu mengharapkan pujian atau kedudukan di sisi manusia. Karena ketika orang yang beriman menunaikan perintah-Nya, ia hanya mengharapkan ridha Allah yang Maha Agung. Karena ketika orang yang beriman menunaikan perintah-Nya, ia hanya mengharapkan balasan yang berada di sisi Allah.

Pun dari Nabi Syu’aib kita belajar hal yang serupa.

“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (kiamat).”” (Q.S. Hud [11]: 84)

Kala itu, Allah mengutus Nabi Syu’aib untuk berdakwah kepada penduduk Aikah, yaitu penduduk negeri Madyan. Dari sejarah kita ketahui bahwa penduduk ini merupakan kaum yang gemar berbuat kecurangan, contohnya mereka gemar mengurangi timbangan dalam praktek jual beli. Nabi Syu’aib yang kala itu menegakkan agama Rabbnya, tekun menasehati kaumnya dengan cara yang baik dan mengajak ke jalan yang benar. Jalan yang sudah diperintahkan Rabbnya. Jalan yang Allah berkahi.

“Penduduk Aikah telah mendustakan para rasul; ketika Syu’aib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sungguh, aku adalah rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.”” (Q.S. Asy-Syu’ara [26]: 176-180)

Kita tahu dari ayat di atas bahwa ketika orang yang beriman bekerja untuk Allah maka ia tak berharap imbalan dari manusia manapun, ia hanya berharap balasan terbaik dari Allah. Hanya berharap pada Dzat yang paling baik imbalannya, paling baik balasannya, paling berkah karunianya.

Pada perintah Rabb semesta alam, kita mengerjakan bukan untuk mendapat pujian manusia.

Pada perintah Rabb semesta alam, orientasi kita hanya Allah semata.

Pada perintah Rabb semesta alam, kita menunaikan karena-Nya.

Pada perintah Rabb semesta alam, kita hanya mengharap balasan terbaik dari-Nya.

Semoga kita tergolong hamba-Nya yang menunaikan perintah-Nya; bukan berharap balasan dari manusia, tapi dari Allah Ta’ala. Semoga kita tergolong hamba-Nya yang menunaikan perintah-Nya; dengan berharap balasan terbaik bukan darinya, tapi dari-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Sarsiyani
Lahir di Magetan bulan Februari 1993. Alumni Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang angkatan tahun 2011. Pernah aktif di Unit Aktivitas Kerohanian Islam (UAKI) UB, Forum Kajian Islam Teknologi Pertanian (FORKITA) FTP UB, MYLIFE Kota Malang, dan Komunitas Kebaikan Kecil (KANCIL) Kota Malang. Kini menjadi salah satu staff pengajar di YLP2AIT Al Uswah Center Magetan.

Lihat Juga

Thariq bin Ziyad Tidak Pernah Perintahkan untuk Membakar Kapal

Organization