Topic
Home / Berita / Opini / 70 Tahun NKRI, Apa Landasan yang Dipakai untuk Berpijak?

70 Tahun NKRI, Apa Landasan yang Dipakai untuk Berpijak?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Twitter)
Ilustrasi. (Twitter)

dakwatuna.com – 70 tahun. Bukan usia yang tergolong muda lagi. Untuk ukuran manusia, usia 70 tahun ibarat orang tua yang sudah/hampir jompo. Usia yang sudah jauh dari belia. Di usia seperti ini harusnya sudah berada pada taraf kematangan. Ya, seharusnya pada usia seperti ini bangsa ini sudah menjadi bangsa yang produktif dan sejahtera. Namun kenyataannya, kesejahteraan hanya wacana yang berlaku untuk sebagian orang saja. Yang kaya semakin kaya, si miskin makin melarat.

Krisis multi dimensi menyerang Indonesia. Krisis ekonomi: rupiah melemah, harga BBM dan sembako melambung tinggi, tarif angkutan umumpun ikut membengkak. Namun tetap saja gaji pekerja kecil tak kunjung tumbuh.

Itulah fenomena yang terjadi di bangsa ini. Semakin banyak lembaga penegak keadilan, namun semakin tinggi juga tindak kecurangan. Di mana moral negara yang katanya “berdaulat, adil dan makmur”. Kenyataannya tak berlaku.

Yang lebih meresahkan adalah bangsa Indonesia krisis kepercayaan. Mulai dari kepercayaan diri bangsa terhadap rakyat. Di mana pemerintah belum mempercayakan Sumber daya manusia (SDM) dalam negeri untuk mengelola sumber daya alam di Indonesia (Perusahaan pertambangan baik minyak, emas, tembaga, bahkan batu bara sebagian besar dikelola perusahaan asing), padahal bila di data secara detail, banyak SDM di Indonesia yang mampu mengelolanya. Selain itu bangsa ini juga krisis kepercayaan terhadap figur pemimpin. Korupsi di mana-mana, bahkan di lembaga penegak keadilan seperti Mahkamah Konstitusi (MK), di ruang lingkup nasional hingga RT masih saja ditemukan praktik KKN.

Tahun ini, usia NKRI ke-70. Apa landasan negara yang dipakai untuk berpijak?

Katanya “negara menjamin hak tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu” (UUD 1945 pasal 29). Lalu saat kejadian rumah-rumah ibadah dibakar, apa yang dilakukan pemerintah?

70 tahun usia NKRI, harusnya menjadi tahun emas. Tahun-tahun penuai hasil jerih payah yang dirintis berpuluh tahun oleh leluhur bangsa ini. namun apa yang terjadi di Negara berjuluk ibu pertiwi ini? anak negerinya saling cekcok. Bahkan tak jarang ada perkelahian antar kompleks, dan yang menjadi pelakunya adalah para pemuda yang seyogyanya menjadi tumpuan harapan kemandirian bangsa.

Bila kita mencari dan menelaah kekurangan bangsa ini, tidak akan selesai pembahasannya hingga besok pagi. Hal yang menjadi catatan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kita  bersama adalah kita (warga Indonesia) adalah penentu masa depan bangsa ini. Mungkin kita tak ditakdirkan menjadi pemimpin besar, tapi mungkin saja besok anak atau cucu kita yang akan memimpin. Siapapun kita, apapun pekerjaan kita, sekali lagi kita adalah penentu masa depan bangsa ini. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan untuk bangsa ini??

Ingatkah sahabat, bangsa ini diperjuangkan bukan hanya dengan darah dan air mata. Melainkan juga diperoleh dari semangat ibadah dan doa dari para pendahulu kita. Mereka mempercayai bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak terlepas dari rahmat Allah SWT (kaji ulang pembukaan UUD 1945). So, mulailah untuk memperbaiki kualitas diri. Kejar ilmu duniamu, namun jangan abaikan akhiratmu. Kembalikan pijakan pada ajaran agama. Jadikan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai landasan dan pedoman hidup. Insya Allah, sukses dunia dan selamat di akhirat.

Wallahu’alambishowab..

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswi tingkat akhir di jurusan Matematika FMIPA Universitas Pattimura Ambon. Saat ini menjabat sebagai ketua komisi D (Humas dan Media) FSKDK Maluku. Juga merangkap sebagai sekretaris keputrian di LDK Al-Ikhwan Universitas Pattimura ambon. Bercita-cita menjadi dosen statistika, dan juga seorang penulis. Hobi menulis, membaca, dan masak.

Lihat Juga

OPM Nyatakan Makar, DPR: Yang Nyata Makar Dibiarkan, Baru Dianggap Rencana Makar Ditindak

Figure
Organization