Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Gubernur Sibuk, Kapan Tilawahnya?

Gubernur Sibuk, Kapan Tilawahnya?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan sedang tilawah (membaca) Al-Quran. (Aki Awan)
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan sedang tilawah (membaca) Al-Quran. (Aki Awan)

dakwatuna.com – Enaknya paham Bahasa arab ya itu! Menjadi mudah untuk Hafal, dan memahami Alquran. Tilawah, kesyahduan membacanya betul-betul dapat menjadi rekreasi jiwa, kelihatannya luruh seketika letih dunianya..

Sepertinya ringan sekali, obrolan-obrolan ringan syarat makna dari beliau, diselingi dan di ekstrak dari ayat ayat Alquran. Sampai pada pidato resmi di Gedung Sate, tidak sulit mencari makna-makna dari Alquran yang sesuai dengan tema yang sedang dibawakan. Ayat-Ayat kitab suci ini tidak lagi hanya dipakai pada ceramah keagamaan, sekarang sudah dipakai sebagai literatur mengurus pemerintahan.

Tidak sulit menemukan kang Aher sedang membaca Alquran; di pesawat, kereta api, di mobil. Spesial jadinya kalau ba’da dzuhur sesekali kemi dapat mendengar merdu lantunan tilawahnya dari masjid. Kesimpulan ringan kami, kang Aher tidak pernah menunggu luang waktunya cukup panjang untuk membersamai Alquran karena sulit menyediakan waktu seluang itu.

Sibuk, beliau harus menjalani kehidupan sebagai seorang Gubernur, sudah pasti itu! Karena menjadi amanah beliau saat ini. Banyak orang yang berhak atas beliau, bu Netty dan anak anak beliau, harus benar-benar ikhlas kebagian sedikit sedikit waktu. Gerilya acara dimulai dari ketika mentari belum terbit, usainya pun sering lewat tengah malam, tidak juga berlaku libur akhir pekan. Kuantitas sama sekali bukan pilihan untuk setiap perannya, kualitas jalan tengahnya.

Tapi tidak dengan Alquran, ada kebutuhan minimal 1 kali khatam sebulan. Kebutuhan ruhiyah yang justru menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan tugas – tugas lainnya, yang justru menjadi penjaga, yang justru menjadi rekreasi jiwanya.

Tentu!

Apa yang kang Aher lakukan ini menjadi tanda, menjadi ajakan, menjadi perintah tak terucap bagi kami untuk meneladaninya, menjadi motivasi bagi kami untuk mengejar…

Kian hari, amanah bukan kian berkurang, malah makin banyak, makin sedikit waktu luangnya, makin sempit. Waktu waktu luang di antara agenda-agenda harian, agenda duniawi, memang harus dapat dimanfaatkan seefektif mungkin untuk kebutuhan kebutuhan jiwa, kebutuhan ruhiyah, untuk tilawah..

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

Pemerintah Pusat Minta Provinsi Lain Tiru Jabar Terapkan Inovasi Unggul

Organization