Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Meneladani Sang Penjaga Parkir: Belajar Mencintai Tanpa Memiliki

Meneladani Sang Penjaga Parkir: Belajar Mencintai Tanpa Memiliki

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (photobucket/ericalevell)
Ilustrasi (photobucket/ericalevell)

dakwatuna.com – Mengalir apa adanya tanpa ada arus-arus ambisiusitas itulah hakikat cinta yang sebenarnya, cinta tak selayaknya untuk dipaksakan, harus memiliki, harus ini itu dan sebagainya. Seringkali kita menginginkan sesuatu itu ya harus dapat terwujud dan terpenuhi. Termasuk mungkin di antara kita yang sedang mencintai seseorang, ada sebuah ambisi untuk harus memiliki orang tersebut, dalam artian menjadikannya sebagai seorang pacar ataupun kekasih. Namun Allah telah mengajarkan kepada kita, bahwasanya bolehlah kita mengejar cinta terhadap dunia namun anggaplah itu sebagai titipan saja. Boleh kita mencintai sesuatu ataupun seseorang, namun bukan berarti kita harus memilikinya, Allah mengajarkan jika kita mencintai dunia cukuplah di pikiran kita saja, jangan sampai masuk dalam hati kita. Agar jika apa yang kita cintai suatu saat diambil oleh si empunya, yaitu Allah SWT maka kita tidak akan terlarut dalam kesedihan yang berarti. Akan tetapi jika itu urusan akhirat, maka masukkanlah ia dalam hati agar kekal dan tentu tidak akan melupakan cinta kita kepada Allah, sang maha cinta.

Kita ternyata juga bisa belajar pada saudara kita yang bekerja sebagai penjaga parkir, mereka telah menghayati prinsip “mencintai tak harus memiliki”. Mereka bekerja menjagakan dan mengawasi kendaraan-kendaraan milik orang lain, tentu dengan penuh cinta. Karena jika tidak dengan rasa cinta dan senang maka tidak mungkin mereka mau menjagakan kendaraan itu. Namun walaupun mereka mencintai kendaraan tersebut, suatu ketika mereka rela kendaraan yang ia jaga selama ini diambil oleh si empunya kendaraan. Mereka ikhlas menjagakan kendaraan itu, namun suatu saat melepas untuk bisa diambil pemiliknya. Hal ini bisa terjadi karena seperti yang telah saya katakan di atas, mereka sekadar mencintai tapi tanpa disertai rasa memiliki.

Inilah yang harus kita tanamkan pada diri setiap kita. Tentu kenikmatan dunia yang Allah tawarkan sangatlah banyak, suatu saat kita akan mencintai yang ini, mencintai yang itu. Namun terlepas dari itu semua janganlah sampai ada rasa kalau kita harus dan merasa memiliki nya, karena yang maha memiliki hanyalah Allah SWT, jadi ketika suatu saat sesuatu ataupun seseorang itu diambil ataupun menghilang dari kehidupan kita, kita akan ikhlas melepas kepergiannya.

Advertisements

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...
Phisca Aditya Rosyady
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Korea Selatan Periode 2017-2018. Ketua Indonesian Muslim Student Society in Korea Periode 2016-2017. Lulusan master di Computer Science and Engineering Seoul National University, pernah menjadi Researcher Assistant di Sungkyunkwan University, Korea. Suka traveling, menulis, coding, dan blogging. Memiliki semboyan, beraksilah niscaya Allah akan mereaksikan ikhtiarmu!
  • Semua yang Allah berikan kepada kita, baik berupa harta, anak, keluarga dan pekerjaan adalah amanah bagi hambaNya. Mampukah kita menjaga dan memelihara amanah tersebut dan memanfaatkannya dengan baik di jalan Allah?

Lihat Juga

Refleksi Film Surau dan Silek: Shalat, Shalawat, dan Silat

Organization