Home / Narasi Islam / Dakwah / Menjadi Kecoa di Jalan Dakwah

Menjadi Kecoa di Jalan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang menciptakan dengan segala kesempurnaan. Mari menjadi hamba-Nya yang senantiasa berpikir dan menelaah…

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Demi Dzat yang menguasai waktu fajar,

Mari mentadabburi alam sekitar. Memikirkan karunia Allah dengan penuh sadar. Tak akan engkau temui yang cacat apalagi hambar. Semuanya sempurna! Menutur hikmah dan petuah. Penyampai nasehat dan pelengkap nikmat. Adakah kita mensyukurinya?

Adalah kecoa,

Makhluk kecil, ringkih, nan menjijikkan. Kehadirannya banyak yang tak berkenan. Adakah engkau pernah mengamati ia mengarungi kehidupan? Apa makanan sehari-harinya dan kenapa ia diciptakan? Serangga tanpa pembuluh darah itu akan mengajari kita tentang perjuangan. Bagaimana mengoptimalkan energi untuk berperan pada pos-pos kebaikan. Kontribusi tanpa henti, kecuali maut menghampiri.

Pernahkah engkau melihat seekor kecoa mati terbalik badannya? Punggung menyentuh lantai tanda pasrah akan kembali ke tanah, sedang kaki menghadap langit sembari memuji tuhannya. Kecoa mati karena ulahnya sendiri. Setiap kali karena suatu hal, semisal jatuh atau terpeleset, terhempas angin atau atau karena sebab lain kemudian ia telentang, kecoa mengalami kesulitan untuk membalikkan badan. Tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa berdiri sempurna. Ia terus saja berputar dengan menggerak-gerakkan sayapnya, hingga kehabisan tenaga. Ia terus saja mencoba, hingga terkuras tenaganya. Kemudian otot menegang, kesulitan mengatur pernafasan. Kematian bersebab karena ia kelelahan dalam usahanya untuk bisa berbalik badan. Ia kelelahan dalam usahanya untuk bisa hidup. Ia mati di jalan perjuangan. Bukan di tengah-tengah kemalasan, apalagi kesia-siaan.

Maka begitulah dalam berjuang di jalan dakwah. Sampai engkau berpeluh payah. Sampai engkau berdarah-darah. Hingga luka tak lagi dirasa. Hingga perih tak lagi menghentikan kaki. Sampai titik bernama “mastatho’tum”. Titik perjuangan semampu antum. Berjuang sepenuhnya, semampunya. Bukan dengan waktu dan tenaga sisa, tapi sampai tak ada lagi sisa tenaga.

Adalah Abdullah Al Azzam. seorang syekh teladan dan panutan. Dihormati lagi disegani, oleh para muridnya.

Pada suatu saat beliau ditanya oleh muridnya,

“Ya syekh, apa yang dimaksud dengan mastatho’tum”?

Sang Syekh-pun membawa muridnya ke sebuah lapangan. Meminta semuanya muridnya berlari sekuat tenaga, mengelilingi lapangan semampu mereka. Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid akan berbeda. Satu putaran masih belum terasa. Putaran kedua berkurang tenaga. Kini mulai berguguran perlahan di putaran ketiga. Hingga tersisa beberapa saja yang masih berusaha sekuat tenaga. Hingga akhirnya satu persatu merasa lelah, menyerah. Mereka semuapun menepi ke pinggir lapangan, kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.

Setelah semua muridnya menyerah, Sang Syekh-pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua itu kepayahan. Satu putaran masih berseri seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran yang keempat Sang Syekh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengat tidak beraturan. Tapi dia tetap berusaha. Beliau terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliaupun terhuyung tanpa tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.

Setelah beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya,

“Syekh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”

“Muridku, Inilah yang dinamakan titik mastatho’tum! Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita”. Jawab Sang Syekh dengan mantap.

Ikhwahfillah,

Hari ini kita kembali terbangunkan dari kemalasan kita, dari lemahnya azzam kita, dari kecilnya kontribusi kita. Kita harus mulai belajar lagi kepada kecoa. Berkontribusi sepenuh tenaga. Mengedepankan agenda-agenda dakwah dari yang selainnya. Memprioritaskan alokasi tenaga secara khusus untuk perjuangan di jalan dakwah ini. Bukan dari energi dan waktu waktu sisa. Mari menjadi kecoa di jalan dakwah ini. Yang mati dalam medan kontribusi. Derajat syahid Allah beri. Surga indah menanti.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers