Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengapa Umat Islam Enggan Membaca al-Qur’an?

Mengapa Umat Islam Enggan Membaca al-Qur’an?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Sebuah manuskrip mushaf Al-Qur'an kuno (Akhbar Al-Alam)
Sebuah manuskrip mushaf Al-Qur’an kuno (Akhbar Al-Alam)

dakwatuna.com – Indonesia dengan jumlah penduduk 250 juta, 88 persennya atau sekitar 211 juta adalah umat Islam yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Namun, apakah semua umat Islam di Indonesia mengenal huruf? Ataukah sebagian dari umat Islam buta huruf?

Buta huruf yang sesungguhnya adalah buta huruf al-Quran. Dimana al-Quran dijadikan pedoman ataupun bacaan yang akan memberikan petunjuk dalam mengarungi kehidupan di dunia dan mempersiapkan kehidupan di akhirat.

Sebagian umat Islam Indonesia masih malu-malu untuk membaca al-Quran secara rutin. Entah dengan berbagai alasan yang mereka miliki. Ada yang mengatakan terlalu sibuk, sudah tak punya waktu, karena masih muda belum membutuhkannya, kelak sudah tua baru diperlukan. Ataukah semua alasan di atas bermuara pada satu pertanyaan, apakah mereka buta huruf? Sehingga, tak mampu untuk membaca kitab yang diturunkan sebagai mukjizat tersempurna yang ada di muka bumi ini.

Jikalau sibuk, setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Di tengah-tengah kesibukan tersebut, pasti ada waktu istirahat sejenak untuk makan ataupun aktivitas lainnya. Mengapa waktu istirahat itu tak digunakan untuk membaca ayat-ayat-Nya?

Manusia diberikan waktu yang sama selama sehari semalam selama duapuluh empat jam. Mengapa masih ada yang mengatakan tidak punya waktu? Apakah selama duapuluh empat jam dihabiskan untuk beraktivitas dunia? Tak mampukah menyisihkan beberapa menit dalam sehari untuk mentadaburi kalam-Nya?

Umur masih muda, yakinkah diri ini akan menemui masa tua? Bukankah kematian laksana buah kelapa yang jatuh tak mengenal buah yang tua ataukah muda? Jikalau sudah waktunya jatuh, maka jatuhlah buah kelapa itu. Begitu pula dengan manusia. Kematian menanti siapa saja yang memiliki nyawa. Jika tiba waktu kematian, tidak ada seorang pun yang mampu mengundur atau memajukannya. Tidak ada yang berani menjamin seorang manusia dapat dipastikan besok masih dalam keadaan sehat ataupun hidup. Itulah, sebuah rahasia Ilahi. Kapankah akan membaca ayat-Nya, jika umur tak ada yang mengetahui akhirnya?

Masih banyak alasan-alasan lain yang membuat diri ini tak mampu meluangkan sedikit waktu untuk membaca al-Quran. Akankah alasan yang paling utama karena memang diri ini buta huruf? Sehingga tak mau membaca al-Quran. Layaknya orang yang buta huruf alfabet, dia tidak akan mampu membaca tulisan-tulisan yang ada sehingga digolongkan sebagai orang buta huruf. Tapi, buta huruf yang paling mengenaskan adalah buta huruf al-Quran yang dialami oleh umat Islam.

Buta huruf tersebutlah yang menyebabkan sebagian umat Islam tak mau membaca al-Quran. Benarkah diri ini buta huruf?

Kita cek diri masing-masing. Jikalau masih malas dalam membaca al-Quran, maka perlu diwaspadai. Jangan-jangan memang benar diri ini buta huruf.

Bagaimana hendak membaca al-Quran jika diri ini buta huruf al-Quran? Padahal, di dalam al-Quran lengkap dijelaskan tentang kehidupan manusia. Baik zaman dulu, sekarang ataupun mendatang (Kiamat) tergambar dengan jelas. Berbagai perintah dan larangan tertulis dengan lengkap, kisah-kisah yang mampu dijadikan pelajaran tersirat di dalamnya. Bagaimana kita bisa mengetahui semua itu jika masih berada dalam buta huruf al-Quran?

Al-Quran merupakan sebuah kitab suci umat Islam yang dijadikan landasan utama untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Sama halnya, buku pedoman. Sebut saja buku pedoman berlalu lintas. Maka, di dalam buku tersebut dijelaskan berbagai hal tentang lalu lintas. Jika orang yang mempelajari dan paham dengan apa yang tertulis di dalamnya, maka dia akan selamat dan lancar dalam berlalu lintas di jalan.

Al-Quran adalah buku pedoman untuk melewati jalan-jalan demi menuju jalan yang lurus, yakni jalan-jalan orang yang diridhai-Nya. Dari al-Quran manusia akan diberikan petunjuk agar bisa selamat di dunia maupun di akhirat. Tapi, mengapa diri ini masih malas membacanya?

Kalimat doa yang selalu terlantunkan seusai shalat fadhu, doa tersebut dikenal dengan nama doa sapu jagad. Bukankah itu doa yang selalu kita ucapkan agar diberikan kebaikan di dunia dan akhirat?

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,

“Doa yang lebih sering diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka).” (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690)

Bagaimana diri ini mampu mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat jika masih buta huruf al-Quran sehingga tak mau membaca, mempelajari dan mengamalkannya pada kehidupan sehari-hari?

Tertuang dengan jelas dalam wahyu-Nya yang diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad yakni surah al-‘Alaq ayat 1-5 yang merupakan perintah membaca. Tak sadarkah diri kita selama ini?

Imam al-Karmani menjelaskan, perintah membaca pada wahyu pertama mengandung dua makna. Yakni perintah membaca al-Quran dan perintah untuk membaca ilmu-ilmu pengetahuan.

Jikalau buta huruf alfabet saja membuat seseorang tidak bisa membaca berbagai tulisan yang tertera sehingga membuat hidupnya susah untuk berkomunikasi dan menimba ilmu lewat tulisan, bagaimana dengan buta huruf al-Quran?

Al-Quran itulah yang akan menolong kita, kelak di Hari Kiamat. Sungguh, beruntung orang-orang yang mampu membaca, mempelajari, mengamalkan bahkan mengajarkan kembali ilmu-ilmu al-Quran. Hidup dia akan diliputi ketentraman hati dan kebahagiaan yang tiada terhingga sebab kalam-kalam-Nya dijadikan pedoman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Mulailah dari sekarang untuk merutinkan membaca al-Quran. Jika diri ini merasa masih buta huruf al-Quran. Belajarlah. Tak usah malu ataupun ragu sebab belajar (menuntut ilmu) tidak ada batasnya.

“Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat.” (HR. Bukhori)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 7,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Penyebutan Kata “Mesir” di Dalam Al-Quran