Home / Keluarga / Keluarga, Laboratorium Kepemimpinan

Keluarga, Laboratorium Kepemimpinan

Bismillahirrahamaanirrahim.

keluargadakwatuna.com – Liburan semester kemarin, mengajarkan kami untuk lebih bijak menjadi orang tua. Semua anak-anak berkumpul, dalam waktu yang bersamaan. Di hari-hari biasa, separuh dari anak-anak kami tinggal di asrama dan pesantren, separuh yang kecil ada di rumah bersama kami. Liburan-liburan sebelumnya, kadang tidak dalam waktu yang bersamaan, ada selisih hari masuk dan hari libur. Berkumpulnya seluruh anggota keluarga, sungguh merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang tidak memahami esensi dan nilai penting sebuah keluarga. Ia adalah fitrah, dan panggilan jiwa, nurani yang bersih akan selalu merindukan saat-saat berkumpul, berbahagia, bercanda, bercengkerama, berbagi suka dan duka, saling memberi, saling mengasihi, saling menyayangi, saling memahami, saling menghargai, saling menjaga perasaan, saling melindungi, saling menguatkan, saling membahagiakan. Dan sejuta kebaikan yang harus kita tebarkan kepada seluruh anggota keluarga.

Sebagai bagian dari fitrah, berkeluarga mengajarkan kita berbagai macam makna kehidupan… Berbagai macam tingkah, keinginan dan karakter anak, menjadi miniatur sebuah masyarakat yang kita pimpin. Meski lahir dari rahim yang sama, orang tua yang sama, tidak kita pungkiri, masing-masing anak memiliki karakter, sifat, kecenderungan dan hobi yang berbeda-beda. Banyak sekali aktivitas sehari-hari dalam kehidupan keluarga yang bisa menjadi ajang latihan /mengasah keterampilan menjadi seorang pemimpin.

  1. Penanaman nilai, aturan, dan mengaplikasikan semua nilai tersebut, menjadi laboratoriumnya adalah keluarga. Bagaimana kita sebagai orang tua yang posisinya sebagai pemimpin, mampu mengoptimalkan seluruh SDM yang ada melatih dan membina, mengokohkan dan menyalurkan seluruh potensi yang ada untuk kemajuan dan kesejahteraan. Penyiapan SDM yang tangguh, bermartabat, berprestasi dan berakhlak terpuji, menjadi kunci sukses pembangunan di masyarakat. Penyiapan semua ini, dapat kita uji coba kan di dalam keluarga. Bayangkan, jika seluruh keluarga memiliki konsep yang sama tentang urgensi penyiapan SDM, dan semua keluarga benar-benar menyiapkan SDM dimaksud, maka akan berlimpah SDM yang siap menjadi subjek pencipta kebaikan di tengah masyarakat.
  2. Life skill dan keterampilan lainnya, dapat kita temukan dalam berbagai momentum hidup di tengah keluarga. Saat menyiapkan menu makanan misalnya… Dengan keterbatasan sumber daya yang ada (dana, waktu, tenaga), jika tiap anak memiliki makanan kesukaan dan keinginan yang berbeda-beda, hal ini pasti menuntut kepiawaian seorang ibu sebagai pemimpin urusan rumah tangga untuk mengambil keputusan dengan bijaksana. Misalnya anaknya ada 7 orang. Anak pertama minta menu ikan goreng, anak kedua minta uang tepung, anak ketiga minta soto ayam, anak keempat minta telur balado, anak kelima minta pepes tahu, anak keenam minta ayam semur, anak ke tujuh minta gulai cumi. Seorang ibu akan berpikir keras, bagaimana caranya bisa membahagiakan anak-anaknya dengan semua keterbatasan yang ibu miliki. Ibu yang bijaksana, akan mengajak anak-anaknya yang kira-kira sudah bisa memahami masalah, untuk melakukan musyawarah kecil, kompromi, atau lobi- lobi cantik dengan anak-anaknya.
  3. Uji coba sifat-sifat kepemimpinan bisa juga kita dapatkan pada momentum ini. Saat menentukan ke mana akan pergi rihlah. Setiap anak, sesuai dengan tingkat usia dan kebutuhannya menginginkan tempat/tujuan rihlah yang berbeda satu sama lain. Ada yang ingin ke pantai, ada yang ingin ke puncak pegunungan, ada yang hanya ingin keliling di pinggiran kota, ada yang ingin berenang di kolam renang, ada yang ingin wisata kuliner. Hal-hal semacam ini harus kita sikapi sebagai sebuah latihan untuk bisa menganalisa, memenej serta mengambil keputusan yang tepat, segala keterbatasan dana, waktu, tenaga dan daya dukung yang lain. Melalui proses yang baik, melatih anak untuk mengeluarkan pendapat, melatih untuk berargumentasi dengan alasan kuat, melatih untuk bisa ikhlas dan taat dengan keputusan yang diambil, melatih anak untuk berbagi tugas, dan melatih orang tua untuk bisa bijak dalam mengambil keputusan dan bersikap. Keputusan yang bijaksana dengan mempertimbangkan seluruh aspirasi dari anggota keluarga, akan semakin mengokohkan ikatan tali kebersamaan keluarga, dan mendewasakan sikap.
  4. Pada kesempatan lain, menghadapi berbagai aktivitas yang padat dan tuntutan banyak hal dari anak, akan membuat orang tua harus berlatih mengoptimalkan setiap kesempatan dengan sebaik mungkin, memenej waktu dengan disiplin, memberi contoh bagaimana harus komitmen dengan waktu, dan sekaligus menerapkan konsep-konsep yang selama ini sudah ditanamkan pada diri dan anak. Ketika kita sebagai orang tua tidak bisa menunjukkan contoh komitmen dan disiplin dengan jadwal dan waktu yang telah ditetapkan, sulit untuk mengharapkan anak-anak juga bisa komitmen dan disiplin. Jika saat-saat tertentu, terpaksa kita belum bisa menunaikan apa yang menjadi kesepakatan bersama karena berbagai hal yang terkendala, maka kita harus menyampaikan dan mengkomunikasikan hal ini dengan sebaik mungkin, agar anak tetap husnudzon dan respect terhadap sikap kita, Jangan membiarkan anak dalam teka-teki dan menduga-duga, atau mengecap “salah” kepada kita. Hal ini akan menjadi proses pembelajaran tersendiri, untuk mengerti dengan yang disebut “kompromi”.
  5. Pembagian tugas, memotivasi diri dan orang lain untuk komitmen dengan tugas, dan belajar mengevaluasi, serta memperbaiki kesalahan, adalah latihan-latihan lain untuk menjadi seorang pemimpin, yang ini juga bisa kita pelajari dan kita latih dalam kehidupan berkeluarga. Berbagai macam pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain bisa kita distribusikan kepada seluruh anggota keluarga, sesuai fitrah dan kapasitasnya. Merapikan tempat tidur, menyapu, mengepel, mencuci baju, memasak, mencuci piring, menyiram tanaman, membersihkan halaman, mencuci motor/mobil, memberi makan binatang piaraan, mengantar adik sekolah, semua ini bisa kita jadikan sebagai latihan yang sangat bermanfaat.

Tentu masih banyak hal-hal lain yang bisa kita gali dalam kehidupan keluarga dalam konteks untuk latihan/laboratorium untuk mengasah sifat-sifat kepemimpinan, bagi kita sebagai orang tua, ataupun bagi anak-anak. Kebahagiaan dan kesuksesan hidup bersama keluarga, adalah modal yang utama untuk sukses hidup dalam lingkup yang lebih luas dan lebih kompleks. Keluarga adalah laboratorium, hasil uji laboratorium menjadi pijakan awal untuk ditransformasikan di skala makro di tengah masyarakat, umat dan bangsa. Sungguh, keluarga adalah proyek besar membangun peradaban. Wallahu a’lam bishawwab. 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial

Organization