06:02 - Senin, 20 Mei 2013

Sehangat Pelukan Hujan (Bunda)

Rubrik: Puisi dan Syair | Oleh: Qitbiya Ilhami - 07/03/13 | 19:30 | 25 Rabbi al-Thanni 1434 H

Ilustrasi. (VLAOSTUDIO)

Ilustrasi. (VLAOSTUDIO)

dakwatuna.com

rasa siluet hadir dalam gelapnya lautan hati…
bercampur racun dan setitik madu…
ketika angin bertanya, sedang apa aku?
aku adalah hembusannya yang lembut
dilalui debu dan diacuhkan waktu…

aku berkata dalam setiap bisikannya
menitipkan serpihan cinta
untukmu bunda…
untuknya… saat bintang berkedip

tapi langit?
belum bertirai malam
bisikan pun tertahan…
menyapa dalam ingatan
angkasa pun berdebar rindu

menunggu…
sampai angin bertemu debu
membentuk gumpalan rindu
dalam setiap tetes hujan
yang membasahi kata-kataku…
antara siluet dan aku…

meredam rindu menjadi haru…
mengurai kata menjadi cinta
mengubah angin menjadi hujan

kini aku seperti hujan…
memintamu menghadirkan aku
kau pun akan merasakan
bahwa hujan memelukmu dengan hangat…
bunda…

Tentang Qitbiya Ilhami

Mahasiswi dan Pengajar. Selengkapnya.

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 9,50 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
60 queries in 0,649 seconds.