Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidayah, Sebuah Nikmat tak Ternilai

Hidayah, Sebuah Nikmat tak Ternilai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (grandstrandvacations.com)

dakwatuna.com Cerita ini mengenai sebuah pengalaman spiritual yang saya alami yang membuat saya hijrah. Hijrah yang atas izin-Nya beranjak dari kejahiliyahan menuju cahaya yang terang. Hijrah yang insya Allah ke arah yang lebih baik…

Sebuah pengalaman mengenai perjalanan saya untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Allah, diin-Nya dan Rasul-Nya

Bismillah…
Seperti kebanyakan orang, saya seseorang yang hanya beridentitas muslim dan mungkin jauh dari muslim sesungguhnya…

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya, baik dosa-dosa itu adalah karena kebodohan saya, terlebih lagi dari kesadaran saya sendiri, baik yang diketahui (sadari) maupun yang tidak disadari, Aamiin allahuma aamiin…

Flashback ke 3 tahun belakang, ketika masih menikmati bangku perkuliahan, saya merasa gaya hidup saya masih jauh dari gaya hidup yang islami. Keseharian saya lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi dan waktu dihabiskan oleh kegiatan-kegiatan kampus entah itu kegiatan akademik maupun organisasi… Jarang sekali melakukan kegiatan yang sifatnya ukhrawi, kegiatan yang mengisi kebutuhan ruhiyah. Shalat jarang tepat waktu dan sering kali bolong. Baca Al-Quran? Mungkin hanya dalam kesempatan tertentu saja. Qiyamulail? Jarang sekali mengerjakannya…Saya jarang merasakan kenikmatan dan kekhusyu-an dalam beribadah. Mungkin karena hati ini sudah tertutup tinta-tinta hitam dosa yang saya lakukan. Pengetahuan tentang agama pun rendah. Jujur, saya meningkatkan ibadah saya ketika saya ada maunya kepada Allah, seperti ketika akan menghadapi UTS ataupun UAS. Astaghfirullah…

Jahilnya diri ini pada masa itu…
Tetapi………

Sungguh Allah azza wajalla sang maha pembolak balik hati umatnya…

Selama semester 7-8, saya banyak merenung, introspeksi diri mengenai apa yang sudah saya lakukan selama ini, saya berpikir umur sudah kepala dua tapi kelakuan begini-begini saja, ibadah saya masih jauh dari kata sempurna, belum ada perubahan dari sisi akhlak yang baik, pengetahuan agama pun segitu-gitu saja. Duh malunya…

Saya merindukan diri saya yang dulu.

Saya dibesarkan di keluarga dan lingkungan yang agamis. Ibu saya seorang aktivis dakwah yang cukup rajin menghadiri dan memberikan ceramah di majelis ta’lim. Kedua paman saya seorang ustadz dan tokoh agama dan menjadi guru ngaji anak-anak dan pemuda termasuk saya. Alhamdulillah saya termasuk murid yang menonjol dan berprestasi di antara yang lain. Hafalan dan ngaji saya termasuk paling baik. Keseharian saya sering diisi dengan kegiatan-kegiatan agama.

Yah saya rindu diri saya yang seperti itu…

Ada pergolakan batin yang sangat kuat, hampir di setiap malam saya menangis. Ada yang hilang dari diri saya. Malu dengan diri seperti ini, Mengaku seorang muslim tapi akhlak belum mencerminkan seorang muslim sejati. “Mau sampai kapan hidup saya seperti ini, mau sampai kapan hidup saya tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad? Bagaimana kalau besok saya meninggal dunia?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu melintas di pikiran…

Dan saya sadar saya tidak boleh berdiam diri saja dengan kondisi seperti ini.
Ditambah lagi, saya mempunyai seorang sahabat yang sudah bersama saya selama 3 tahun. Kami tinggal satu kos-an selama 3 tahun itu. Sahabat yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Sahabat yang menjadi salah satu motivasi saya untuk berubah. Dia lebih beruntung dari saya karena dia telah terlebih dahulu mendapatkan hidayah-Nya, melakukan perubahan dan bisa menikmati indahnya Islam dan manisnya iman…

Saya iri pada sahabat saya ini (iri dalam artian positif). Dia memiliki amalan yang lebih baik dari saya. Misalnya, ketika shalat Maghrib, dia berjamaah di masjid, saya shalat di kos-an. Dia tilawah Al-Quran, saya cengengesan sambil twitteran, Dia shalat subuh ke mesjid, saya baru bangun jam 6…

Saya iri dia lebih baik dari saya. Iri karena dia lebih shalih, lebih dekat dengan Allah. Saya malu dengan diri sendiri, mau sampai kapan seperti ini. Saya berpikir, kalau dia saja bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa saya tidak?

Saya harus mulai bertobat,
Saya harus memperbaiki diri, bertahap namun pasti…
Saya ingin berubah menjadi seorang muslim sejati,
Saya ingin akhlak saya seperti Nabi Muhammad, saya ingin lebih dekat dengan Allah.

Dan mungkin inilah yang disebut hidayah-Nya, Sebuah cahaya yang indah yang masuk ke dalam hati. . Saya merasa berada dalam sebuah anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Sebuah nikmat yang luar biasa besar. Sebuah cinta yang begitu sulit untuk diungkapkan. Ada semangat yang luar biasa untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dengan-Nya. Semangat untuk mendapatkan Cinta dan Ridha-Nya.

Semangat itu dimulai dengan memperbaiki ibadah, saya memperbaiki shalat fardhu saya. Setiap shalat harus tepat waktu dan berjamaah. Kemudian saya mulai membiasakan membaca Al-Quran setiap hari, di manapun dan kapan pun.

Semangat itu makin lama semakin besar, saya tidak puas hanya dengan menjalankan shalat fardhu saja, saya ingin melakukan shalat lain. Maka saya mulai membiasakan untuk melakukan shalat-shalat sunat seperti shalat rawatib, Dhuha, hajat, taubat dan qiyamul lail seperti tahajud dan witir. Semua itu dilakukan secara bertahap dan karena selalu dilakukan setiap hari, lama-lama itu menjadi sebuah kebiasaan, Alhamdulillah…

Ada kebahagiaan yang luar biasa, ada ketenangan hati yang menjelma, ada rasa syukur yang besar ketika saya bisa menjalani perintah-Nya dan itu membuat saya merasa lebih dekat dengan-Nya.

Alhamdulillah…
Suatu ketika sahabat saya ini sadar tentang “perubahan” yang saya lakukan dan tiba-tiba memancing saya dengan sebuah pertanyaan “Fik mau cerita ga?”

Saya bergumam “Heuh tau aja ni orang kalau saya mau cerita”…

Dan akhirnya pada malam itu saya curahkah perasaan saya, saya ceritakan pengalaman spiritual yang saya alami, saya ungkapkan kemauan saya dan alhamdulillah sahabat saya ini menanggapi dengan positif dan menyambut dengan bahagia.

Dia berkata “Selama ini saya diam-diam amati Opik, liat perubahan Opik, dan saya seneng banget ngeliatnya”. Alhamdulillah Fik, Semoga bisa istiqamah. Mari kita melangkah bersama”

Rasa syukur kepada Allah karena telah memberikan sahabat yang bisa mengajak untuk lebih dekat dengan-Nya dan itu merupakan salah satu karunia besar dalam hidup saya. Alhamdulillah Terima kasih sahabatku…

Semenjak itu, persahabatan kami semakin akrab, kami saling mengingatkan ketika salah, saling mengajak kepada kebaikan. Kami sering shalat berjamaah bersama, tilawah Al-Quran bersama, dzikir bersama, mendengarkan siraman rohani bersama. Saya semakin menyayangi sahabat saya ini karena Allah…

Ah indahnya ukhuwah islamiyah itu.

Hari demi hari saya sangat menikmati dengan diri saya yang baru ini, saya merasakan kenikmatan ketika saya beribadah, rasa syukur yang teramat besar kepada Allah karena menjadi hamba-Nya yang terpilih untuk mendapatkan ridha dan cinta-Nya melalui hidayah-Nya yang sangat manis.

Tak berhenti di sana, ketika rasa haus akan pengetahuan agama semakin besar dan di saat saya membutuhkan lingkungan dan teman-teman yang sama seperti saya. Saya dipertemukan oleh sahabat saya ke seseorang yang sudah saya kenal sebelumnya tapi tidak akrab. Senior saya di kampus, seseorang yang saya ketahui merupakan ikhwan yang sangat baik, shalih serta rendah hati dan saya sangat menghormati beliau. Beliau adalah seorang murabbi.

Pada suatu rabu malam. Saya diajak oleh sahabat saya ke sebuah majelis kecil. Waktu itu yang datang hanya bertiga, saya, dia dan sang murabbi. Dalam kesempatan itu saya mencurahkan perasaan saya, menceritakan pengalaman spiritual saya, serta mengungkapkan kemauan saya kepada sang murabbi untuk bersedia membimbing saya dan ikut bergabung dalam majelis kecil ini.

Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, sang murabbi menyambut bahagia dan mengamini niat saya. Saya luar biasa bahagia mendengarnya dan bersyukur kepada Allah atas berkah ini.

Beliau berpesan:

“Berbahagialah Fik dengan hidayah yang Allah berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya Opik lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah anugerahkan kepadamu. Jaga nikmat ini”

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….

I pray to God with my heart, soul and body, every single day of my life
With every breath I solemnly promise. To try to live my life for you
Oh Allah, you did revive my soul and shone Your light into my heart
So pleasing you is now my only goal. Oh I love you so
Now I know how it’s like to have Your precious love in my life
Now I know how it feels to finally be at peace inside
I wish that everybody knew how amazingly feels to love you
I wish that everyone could see how Your love has set me free
Set me free and made me strong
Oh Allah, I’m forever grateful to You. Whatever I say could never be enough
You gave me strength to overcome my uncertainties and stand firm against all the odds
You are the One who did revive my soul. You shone Your light into my heart
So pleasing you is now my only goal. Oh I love you so

(Maher Zain – I Love You so)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,27 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ini Alasan Model Cantik Vitalia Sesha Mantap Berhijab