Home / Berita / Opini / Kita Kritisi Wujudul Hilal, Tetapi Kita Semua Mencintai dan Menghormati Muhammadiyah

Kita Kritisi Wujudul Hilal, Tetapi Kita Semua Mencintai dan Menghormati Muhammadiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/stmikbujombang)

dakwatuna.com – Kali ini saya ingin menulis hal non-teknis, karena saya banyak disalahpahami terkait kritik saya terhadap hisab wujudul  hilal Muhammadiyah. Kritik demi kebaikan bersama pernah juga saya sampaikan kepada saudara-saudara kita di NU dan ormas-ormas Islam pengamal rukyat ketika ada hasil rukyat kontroversial saat sidang itsbat penentuan awal Dzulhijjah 1422/Februari 2002. Saat itu posisi bulan sangat rendah dan dari 34 lokasi pengamatan di seluruh Indonesia tidak ada yang melaporkan terlihatnya hilal, kecuali di Cakung. Padahal cuaca di Jakarta mendung dan sempat gerimis sore itu. Namun, saat itu kriteria imkan rukyat tidak digunakan secara ketat. Maka rukyat diterima oleh forum, dengan keberatan dari saya dan wakil Persis. Pada saat itu Menteri Agama terpaksa mengubah keputusan hari libur Idul Adha sehari lebih cepat yang sempat menimbulkan kebingungan bagi pelaku bisnis yang terikat perjanjian yang tiba-tiba terkendala akibat berubahnya hari libur Idul Adha. Tetapi setelah itu NU mau berubah, kembali menerapkan imkan rukyat seperti tahun 1418/1998. Pada Idul Fitri 1427/2006, 1428/2007, dan 1432/2011 NU menolak kesaksian Cakung yang sering kontroversial karena tidak mungkin ada rukyat saat bulan terlalu rendah. Bahkan NU kini sudah melengkapi diri dengan fasilitas hisab-rukyat yang canggih seperti NUMO (NU Mobile Observatory) dan fasilitas lainnya untuk menghindari salah lihat dalam mengamati hilal.

***

Sebaliknya Muhammadiyah tidak pernah berubah. Kalau diumpamakan, saat ini Muhammadiyah ibarat anak bandel yang keras kepala. Wajar, karena beberapa saudara  lainnya dalam keluarga  sebenarnya pernah juga bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibunya. Ketika hari istimewa, keluarga menginginkan semua berseragam dengan baju baru yang sama supaya suasana kebersamaan dan persaudaraan lebih terasa. Namun anak bandel yang keras kepala ini menolaknya, bersikeras memakai baju usang. Katanya itulah yang pas ukurannya dan enak memakainya, tidak perlu direpotkan dengan aturan memakai baju baru. Saudara-saudaranya menghendaki keseragaman. Saya ibaratnya hanyalah bocah kecil yang senang bantu-bantu di rumah itu yang suka mengkritisi anggota keluarga itu. Saya turut memberi masukan untuk mengganti baju usang itu dengan baju baru yang sudah dipakai saudara-saudara yang lain. Ayah-ibunya yang mengakomodasi semua pendapat menginginkan juga adanya keseragaman. Keputusan ayah-ibunya tersebut tidak dipatuhi oleh “anak bandel yang keras kepala” itu.

Memang benar, “anak bandel yang keras kepala” itu sebenarnya baik dan banyak prestasinya bagi keluarga. Namun soal baju usang, dia terlanjur menganggapnya hal prinsip yang seolah tidak bisa diganggu oleh yang lain. Bahkan saran untuk menggantinya ditanggapinya berlebihan, seolah itu sebagai sikap membenci. Memang lucu, pada penentuan hari istimewa itu si anak dengan sopan minta izin untuk berbeda.  Walau nyata tidak patuh pada ibu-bapaknya, namun tetap meminta hak-haknya sebagai anak untuk dilindungi dari kemungkinan ulah jahil saudara-saudaranya.

Sebagai satu keluarga, tidak mungkinlah ayah-ibunya dan saudara-saudaranya membencinya. Saran untuk mengganti baju usangnya dengan baju baru yang seragam hanya demi kebaikan bersama, supaya para tetangga melihat kesan kebersamaan. Memang benar, sebenarnya baju yang berbeda-beda kan tidak masalah, karena itu bukan masalah prinsip. Tetapi kalau bisa berseragam pada hari istimewa itu tentulah akan lebih baik. Tetangga pun akan melihat keharmonisan keluarga secara lebih nyata. Indah sekali. Saran untuk mengganti baju usang dengan baju baru bukan berarti membenci. Kita semua tetap mencintai dan menghormati. Kecintaan dan penghormatan akan lebih menguat kalau di dalam keluarga itu bisa berseragam pada hari istimewa. Ya, hanya keseragaman pada hari istimewa, bukan keseragaman dalam segala hal.

(Peran dalam ibarat perumpamaan  tersebut di atas: Ummat IslamIndonesia ibarat satu keluarga. Pemerintah ibarat ayah-ibu yang mengayomi. Ormas-ormas Islam ibarat anak-anak yang kadang bandel dan keras kepala, tidak patuh pada ayah-ibu, tetapi tetap minta perlindungan ayah-ibu. Kriteria hisab-rukyat ibarat baju yang ingin diseragamkan dengan kesepakatan. Saya pada kisah ini hanyalah ibarat bocah kecil yang suka bantu-bantu, namun perannya tidak seberapa dibandingkan anggota keluarga lainnya. Ummat lain ibarat para tetangga.)

***

Jadi, kritik soal kriteria wujudul hilal yang usang dan saran untuk menggantinya dengan kriteria imkan rukyat yang lebih baru, bukanlah bentuk kebencian. Kita semua mencintai dan menghormati Muhammadiyah yang sudah banyak berkontribusi bagi bangsa ini. Mengapa persatuan ini penting saat ini? Ketika tekanan masalah sosial semakin berat, kesenjangan dan perbedaan mudah disulut untuk menjadi bibit permusuhan. Lihatlah kenyataan saat ini. Hal-hal sepele bisa jadi pemicu tawuran pelajar antarsekolah, tawuran pemuda antarkampung, tawuran mahasiswa antarfakultas, dan perang terbuka antaretnis. Padahal kalau kita lihat di masyarakat awam, masalah hari raya adalah masalah halal-haram yang sangat prinsip. Masyarakat yang awam fikih mudah menyatakan pihak lain melakukan pelanggaran agama. Saudara-saudara kita yang berbuka lebih dahulu bisa dianggap melanggar aturan puasa. Sementara saudara-saudara yang lain yang masih berpuasa bisa dianggap melakukan hal haram karena berpuasa pada hari idul fitri.

Dari perbedaan itu awalnya mungkin sekadar saling ledek dalam gurauan. Tetapi siapa bisa menduga hal sepele seperti itu bisa memicu pertengkaran yang lebih hebat. Beberapa tahun lalu saya mendengar cerita dari seorang hakim agung peradilan agama bahwa di Sulawesi dulu (sekitar 1930-an) pernah terjadi keributan gara-gara perbedaan hari raya. Kita tidak boleh menyederhanakan hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik, walau kita juga tidak boleh membesar-besarkannya. Namun mencegah konflik lebih baik daripada memeliharanya. Dengan adanya perbedaan kriteria, kita sudah bisa memprakirakan tahun-tahun yang berpotensi terjadi perbedaan.

Saya masih terus akan mengangkat tema ini untuk menyadarkan kita semua, bahwa potensi perbedaan akan terus terjadi selama masalah perbedaan kriteria tidak diselesaikan. Kalau khilafiyah (perbedaan) hisab dan rukyat kini bisa diatasi dengan titik temu hisab-rukyat dengan kriteria imkan rukyat, mengapa hisab kriteria wujudul hilal yang antirukyat tetap dipertahankan? Kalau kita bisa bersatu, mengapa kita harus memelihara perbedaan? Kita mengkritisi kriteria wujudul hilal Muhammadiyah, tetapi kita semua tetap mencintai dan menghormati Muhammadiyah. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang biasa juga mengkritik mestinya memahami fungsi kritik demi kebaikan. Jadi tak perlu merasa “kebakaran jenggot” dengan menyebut pengkritik sebagai provokator. Semoga kita bisa bersatu demi ummat.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 6,37 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan I, SMP Negeri I, dan SMA Negeri II. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis UFO, Bagaimana menurut Agama yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY World Assembly of Muslim Youth di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
  • saya dah coba baca metode imkan rukyat maupun wujudul hilal. satu pertanyaan yang belum ada jawaban memuaskan. dsar penetapan yang “ILMIAH” hanya dengan ketinggian 2 drajat apa?

    • joko

      “dasar”nya adalah fotografi hilal dengan ketinggian *paling rendah* yang pernah dilaporkan oleh astronom. nanti kalau ada astronom yang berhasil membuat foto hilal dengan ketinggian kurang dari 2 derajat ya kriterianya akan diubah lagi.

      • Agoes_boedi_s

        berarti kerja manusia adalah terbatas dan masih bisa berubah….. sedang batasan wujudul hilal mutlak yang posisi bulan diatas ufuk…layak dijadikan dasar.

    • Eddy Noegroho

      Kalau enggak salah Bpk.Muji Raharto dari ITB/Boscha dalam sidang itsbat yang lalu masih sempat menggaris bawahi bahwa hilal tidak mungkin terlihat bila ketinggiannya masih di bawah 6 derajat. Jadi 2 derajat versi imkan rukyat yang juga telah dipakai MUI dalam fatwanya, apabila ada yang melihat hilal pada ketinggian kurang dari 2 derajat harus ditolak… itu pastilah masih bersifat kompromistis..kalau kita tidak ingin mengatakan masalah ini adalah masalah khilafiah!!! 

  • Hermantoedi

    perbedaan adalah rahmat, saya
    sebagai warga NU maklum sekali dengan perbedaan tersebut… ada baiknya
    Prof. Dr. Thomas Djamaluddin lebih santun dalm memberi masukan agar
    pihak lain tidak terprovokasi dengan pernyataan tsb dan menjadikan
    pernyataan Prof. Dr. Thomas Djamaluddin jadi dasar pembenaran. saya melihat pernyataan di atas agak keras.

    • Aji

      Apa yang menjadi sandaran anda untuk mengatakan perbedaan adalah rahmat ? jika yang menjadi dasar adalah hadits Rasulullah (ikhtilafu ummati rahmatun), maka dapat dikatakan hal ini kurang tepat. karena hadits tersebut adalah dhaif. bahkan Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini tidak ada asalnya. saya bukan orang NU atau Muhamaddiyah, tapi saya sangat mengharapkan untuk masalah yang satu ini – penentuan tanggal Iedul Fitri, Iedul Adha dan Tahun Baru Islam – paling tidak untuk satu wilayah (maksudnya negara Indonesia) tidak terjadi perbedaan. Setahu saya dalam kaidah fiqh pun dikenal istilah “al khuruj minal khilaf mustahabbun” – keluar dari masalah khilafiyah itu lebih disukai . Mungkin pernyataan pak Thomas tersbut dikarenakan memang seperti inilah pribadi beliau. Tapi untuk tulisan yang ini, saya rasa sudah cukup santun. Tergantung perspektif kita yang membacanya. Wallahu’alam

    • andra

      perbedaan adalah rahmat??apakah ada dalil nya??

  • Budi

    Muhammadiyah pernah memakai
    imkanurrukyat…tetapi kemudian merubah pendiriannya dengan wujudul
    hilal. jadi yang mengatakan pendapat wujudulhilal itu “usang” adalah
    AHISTORIS, alias nggak ngerti riwayat Hisab Muhammadiyah yang maju dan
    berkembang

  • Hanifalayubi

    Assalamualaikum.
     gini pak. memang benar dalam tulisan bapak yg satu ini bahasanya lebih santun, tapi coba di cek bagaimana bahasa yg bapak gunakan dalam artikel2 sebelumnya. terlihat jelas disitu kukurangbiasanaan anda dalam mengkritik. bukan masalah menolak yg baru lalu taklid buta terhadap prinsip2 yg ditetapkan ulama2 muhammaddiyah yang menjadi masalah. tp memang kita belum menemukan titik temu dalam masalah ini. dan saya sebagai orang yg hidup dan besar dalam keluarga muhammadiyah merasa sakit hati dengan pertanyataan bapak yg seolah-olah mengkritik dengan kadar keilmuan bapak bahwa muhamadiyah saat ini tak lebih dari sebuah ormas islam yg menggunakan prinsip2 yg tak lagi relevan. banyak yg sakit hati dengan pernyaaan bapak. dan masalah penentuan 2 derjat sebagai syarat, itu ilmiah darimana? smua berdasarkan penafsiran atas dalil2 yg sama. dan sekali lagi, kebijakan seseorang dalam bertutur akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menerima masukan. saya yakin orang2 muhammadiyah tidak anti kritik. tp cara bapak yg mengkritik itu terlalu memojokkan. santunlah dalam mengungkapkan pendapat, dan gunakanlah bahasa2 yg membuat nyaman, toh kita sama2 mencari kebenaran, bukan demi ego pribadi.

  • Penetapan metode hari raya kalau secara empirik dapat dibuktikan dengan mudah:
    Kalau hisab wujudul hilal ala Muhammadiyah salah berarti dalam area satu malam dengan indonesia tidak terlihat bulan, tetapi sebaliknya jika ternyata hisab tersebut terbuktikan secara hakiki dengan terlihatnya bulan maka sudah tidak bisa dipungkiri, gunakan saja hisab ketimbang repot2 saling menyalahkan…!

  • Agussaptaludin

    Jika tulisan diatas diamati dg seksama,  hanya Djamaludin saya pikir satu-satunya professor yang paaling kompeten dalam hal ini…saluut lah bahkan “bocah kecil yang hanya bantu-bantu itu” telah berhasil memengaruhi majikan dan para tetangga untuk beramai-ramai mengusir “si anak bandel yg keras kepala”  untuk tidak berbuat kurang ajar pd orangtua meski orangtua itu tidak efektif dg menghambur-hamburkan anggaran keluarga unt sesuatu yg terkesan dipaksakan

  • Anggi Soesalit

    akar permasalahan ummat ini karena tidak adanya KHILAFAH ISLAMIYAH, Wallohua’alam…

  • Ssyaifuddin

    Katanya kalau dua orang islam berselisih kembalilah ke Quran dan Hadith. Bagaimanakah Rosululloh menentukan hari idul fitri, pakailah itu INSYAALLAH itu betul. Apakah amalan Rosululloh itu sekarang sudah usang dan sudah tidak layak pakai?

  • Danial Holimin

    Hisab imkanurru’yah dan hisab wujudulhilal dua2nya sah2 saja. Namun melangkah yang sama (persatuan) pasti lebih baik daripada melangkah menurut jalan masing2. Dan untuk persatuan yg lebih penting itu, tentu saja yg lebih kompeten peranannya adalah PEMERINTAH alias ULIL AMRI, walaupun ada pihak yg mengatakan bahwa Kementrian Agama termasuk kementrian yg korup.

  • Rudy Swardani

    Indonesia ini adalah negara paling toleran dan paling banyak didunia jumlah ormasnya. RI ini untuk ngurusin Ormas aja ribet bagaimana klo untuk urusin kebutuhan makan dan sekolah penduduknya. Gini aja tidak usah banyak khalam Departemen Agama buat aja Undang2 pasal-1 untuk penetapan Hari Besar Islam adalah otoritas penuh pemerintah. Pasal-2 semua Warga/Masyarakat/Ormas harus mentaati aturan yg sudah dibuat oleh pemerintah. Klo tidak mau taat bubarin atau ke laut aja.

  • Thomas Jamaludin ini memang pinter dan kepinteren yang gak cocok dengan dia pasti salah itu menurut Thomas tentunya ………

  • idian efendi

    maksudnya meng-kritik tapi setelah dibaca sepertinya lebih pantas mencemooh apalagi dgn membuat istilah yang menyakitkan dan menyudutkan. Profesor yang intelek mohon jika mengkritik gunakanlah bahasa yg lebih bijak :)

  • sangat””” menyudutkan Muhammadiyah, hanya melihat Muhammadiyah dari luarnya saja, kenali Muhammadiyah baru coment.

  • Ass. saya pikir kritik prof sangat bagus. Walaupun mungkin bagi Muhamadiyah bahasanya kurang pas.Alangkah indahnya kalau umat islam di Indonesia dalam penentuan hari2 spt itu sama tdk ada perbedaan. Diperlukan dialog semua pihak untuk mencari titik temu, bukan utk mempertahankan ego masing2, tapi utk kemaslahatan umat. Bersatulah saudaraku, kalau bisa bersatu kenapa harus berbeda?

    • bersatu demi kebaikan atas dasar yg benar itu lebih baik.. pada masalah ini saling membenarkan diri/golongan dan belum ketemu kebenaran sejati.. hanya Allah yg Maha Benar.. semoga Allah segera menunjukkan kebenaran sejati itu,, Amin,,

  • Tentu kondisi semacam ini tidak akan terjadi, ketika umat islam bersatu di pimpin seorang kholifah dalam naungan khilafah.

  • devide et impera, hati-hati kita semua, pecah belah dari dalam. hisab-rukyat, rukyat-hisab koq ya bisa jadi bahan pertentangan to yo? Ngitung perputaran bulan koq yo njelimet gitu ya? Kedua-duanya itu benar, ada dalil yang kuat. Tap kita mesti ingat pesan Rasul, kalo ada 2 perkara yang sama-sama benar, maka pilihlah yang paling mudah. (titik)

  • karna saya anak ingusan yg tdk mengerti apa2 dan mencoba bandel sama bpk-ibu…
    saya lebih suka nasehat kakek-nenek, drpd nasehat bpk-ibu…
    (yg dimaksut kakek-nenek adlah orng2 yg berada d uni arab…)
    dan dari sanalah, siapa yg sebenarnya menjadi anak bandel…

    salam damai,,,,wassalam…

  • Pak Prof ini masih belum kapok2 juga ya, lebih indah mendengarkan para ustadz dan kiyai yang kemudian menenangkan ummat dengan perbedaan yang terjadi.
    Menurut saya sampai berbusa kiritikan dan profokasi yang dikeluarkan tidak akan pernah sama, karena ini berhubungan dengan perbedaan memahami hadist (tafsir terhadap hadist) dan ayat Al Quran.
    Jadi udahlah Prof cukuplah menambah runcing permasalahan ini..

    Kalau benar kriteria 2 derajat itu paling baru, atau misalkan kriteria yang Prof Djamaludin keluarkan yang 4 derajat dengan syarat2 yang lain dan paling ilmiah, kenapa semua Astronom dunia tidak menerima teori itu, buktiin dulu prof ada kesepakatan diantara semua astronom dunia, kemudian samakan dulu kriteria imkan rukyat sudah jadi standar baku dengan definisi hilal itu juga baku (dimungkinkan untuk dilihat)
    Buat saya yang ilmiah itu gampang aja prof, misalnya 1 meter itu orang dimana2 ukurannya sama. walupun ada yang make “kaki”, ada yang “yard” kalau di konversi ga ada yang ribut.
    Bukankah bulan itu juga seperti ukuran panjang? sesuai dengan hukum alam (hukum Allah)?
    Saran saya, daripada Prof bikin front terus dengan Muhammadiyah mending sekarang Prof berjuang di dunia astronomi untuk bikin standarisasi yang diakui oleh Astronom sedunia.
    terima kasih

  • Saya setuju kepada metode imkanu rukyat, tapi harus bersifat global. bukan hanya lokal indonesia. Kalo di negara tetangga atau di arab saudi menyatakan sudah melihat hilal, sementara kita belum, kita seharusnya mengikuti mereka yg sudah melihat hilal.

  • Sangatlah sulit mengubah suatu keyakinan, itulah bukti bhw umat muslim yg bertakwa sangat berhati2 dlm mengambil sikap…jadi masing2 mempertahankan keyakinannya, dan masing2 juga takut salah dihadapan Allh SWT. SAYA SANGAT MEMAKLUMI.

  • Satu hal pak prof yang saya bingung, pada 1432 h, pemerintah menetapkan 1 syawal lebih lambat dari arab saudi (mekkah). Padahal berdasarkan peredaran matahari (menurut saya), harus nya kita dulu baru arab saudi. Eh kok pada saat Idul Adha bisa sama antara kita dengan Arab Saudi (Mekkah). Harusnya kita lebih lambat 1 hari donk (menurut saya). Pada waktu 1432 yang sama persis baik Idul Fitri maupun Idul Adha adalah hari yg ditetapkan Muhammadiyah. Kok bisa begitu pak prof? Sekarang juga begitu. Arab Saudi (Mekkah) 1 Ramadhan sama dengan 20 Juli, pemerintah 21 Juli. Nanti pada saat Idul Adha apa akan sama lagi? Kadang yang sedikit itu belum tentu keliru toh pak?

  • PERBEDAAN NU DAN MUHAMMADIYAH SANGATLAH BANYAK.. JANGAN JADIKAN MOMENT INI SEMAKIN MENIMBULKAN KERESAHAN UMAT.. WARGA MUHAMMADIYAH SUDAH BERUSAHA BIJAK DENGAN TIDAK MEMBUAT GADUH DI MEDIA.. SILAHKAN BICARAKAN MASALAH INI DI FORUM YANG TEPAT.. JANGANLAH MENGELUARKAN STATEMENT YANG SALING MENYUDUTKAN SEBELUM DIDAPAT TITIK TEMU..
    MARI BEKERJASAMA DEMI KEBAIKAN ATAS DASAR YANG BENAR.. PEMERINTAH HARUS LEBIH PINTAR UNTUK BISA MENGETAHUI MANA YG BENAR… SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN PETUNJUK MANA YANG BENAR.. AMIN..

Lihat Juga

Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

Hanya Karena Cinta