Home / Berita / Opini / Wujudul Hilal Tidak Ada Dasar Pembenaran Empiriknya

Wujudul Hilal Tidak Ada Dasar Pembenaran Empiriknya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ketika Muhammadiyah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011, yang berbeda dari keputusan sidang itsbat, banyak orang yang mencari bukti pembenarannya. Bukti pertama yang ditunjukkan adalah kesaksian di Cakung dan Jepara. Bukti kedua yang banyak disebut adalah kesamaan dengan banyak negara. Tepatkah pembenaran itu? Sama sekali tidak tepat. Muhammadiyah mendasarkan pada hisab dengan kriteria wujudul hilal, kriteria lama (kalau tidak mau disebut usang) yang anti rukyat. Sementara yang dijadikan bukti adalah hasil rukyat (pengamatan hilal, bulan sabit pertama) dan hisab dengan kriteria imkan rukyat (kemungkinan hilal bisa teramati).

Kesaksian di Cakung dan Jepara tidak tepat dijadikan pembenaran karena dua alasan. Pertama, hisab wujudul hilal yang jelas-jelas anti rukyat dan merasa tidak perlu rukyat untuk penentuan awal bulan, tidak mungkin mencari pembenaran dari rukyat. Kedua, rukyat di Cakung dan Jepara sesungguhnya bukan rukyat murni, melainkan rukyat yang terpengaruh hisab imkan rukyat 2 derajat yang jelas-jelas juga ditentang oleh Muhammadiyah. Pengamat di Cakung dan Jepara mendasarkan pada hasil hisab taqribi (perhitungan aproksimasi yang lebih usang dari hisab wujudul hilal) yang menyatakan bulan sudah di atas 3 derajat, sehingga sudah memungkinkan bisa dirukyat. Mereka berani disumpah karena merasa yakin itu bisa dirukyat dan merasa melihat hilal. Tetapi berani disumpah bermakna tidak berbohong, walau belum tentu benar.

Lalu dicarilah pembenaran dengan banyaknya negara yang beridul fitri 30 Agustus 2011. Banyak yang tidak sadar bahwa itu hanya suatu kebetulan saja, bukan berarti pembenaran atas hisab wujudul hilal. Kalau kita cermati, metode dan kriteria yang digunakan sebagian besar negara justru bertentangan dengan metode dan kriteria yang digunakan Muhammadiyah yang masih menggunakan kriteria wujudul hilal. Hanya ISNA (Islamic Society of North America) yang menggunakan kriteria wujudul hilal, tetapi bukan lokal seperti Muhammadiyah. ISNA menggunakan kalender Ummul Quro dengan kriteria wujudul hilal di Mekkah. Arab Saudi sendiri tidak menggunakan Ummul Quro untuk penentuan waktu ibadah.

Silakan simak rekapitulasi berikut ini tentang penentuan Idul Fitri di semua negara yang dimuat di situs http://moonsighting.com/1432shw.html . Di situ akan terbaca bahwa sebagian besar negara mendasarkan penentuan awal Syawal berdasarkan rukyatul hilal atau hisab imkan rukyat. Tidak ada satu pun yang menggunakan wujudul hilal lokal seperti yang digunakan Muhammadiyah. Itu artinya, wujudul hilal Muhammadiyah tidak ada dasar pembenaran empiriknya.

Inilah faktanya. Untuk yang beridul fitri 30 Agustus 2011:

a. Sebagian besar mengikuti Arab Saudi yang berdasarkan rukyat (walau kontroversial, sehingga memunculkan penolakan dari astronom setempat). Muhammadiyah yang anti rukyat tidak mungkin mencari sandaran pada hasil rukyat.

b. Sebagian besar lagi menggunakan hisab dengan kriteria imkan rukyat menurut kesepakatan setempat. Tidak tepat hisab wujudul hilal mencari pembenaran pada hisab imkan rukyat.

b.1. Mesir dengan kriteria imkan rukyat beda terbenam bulan-matahari > 5 menit.

b.2. Malaysia dengan kriteria imkan rukyat umur bulan > 8 jam.

b.3. Tunisia dengan kriteria imkan rukyat berdasar umur, tinggi, dan beda terbenam.

b.4. Turki dengan kriteria imkan rukyat tinggi bulan > 5 derajat dan jarak bulan-matahari > 8 derajat.

Untuk yang beridul fitri 31 Agustus, semuanya mendasarkan pada rukyat dan didukung hisab imkan rukyat yang juga digunakan sebagai dasar  istikmal (menggenapkan puasa 30 hari).

Inilah daftar negara-negara yang menetapkan Idul Fitri 30 dan 31 Agustus 2011 serta keterangan dasar penetapannya:

August 30, 2011 (Tuesday):

  1. Afghanistan (Follow Saudi)
  2. Albania (Follow Saudi)
  3. Armenia (Follow Saudi)
  4. Austria (Follow Saudi)
  5. Azerbaijan (Follow Saudi)
  6. Bahrian (Follow Saudi)
  7. Bangladesh (Some areas follow Saudi)
  8. Belgium (Follow Saudi)
  9. Bolivia (Follow Saudi)
  10. Bosnia and Hercegovina (Follow Saudi)
  11. Bulgaria (Follow Saudi)
  12. Canada – Fiqh Council of North America/Islamic Society of North America OR follow news from other countries
  13. Chechnia (Follow Saudi)
  14. Chile (Local Sighting)
  15. China (Local Sighting that we believe erroneous this time)
  16. Cosovo (Follow Saudi)
  17. Denmark (Follow Saudi)
  18. Egypt – Moon Born before sunset & moon sets at least 5 minutes after sunset
  19. Finland (Follow Saudi)
  20. France (Follow Saudi)
  21. Georgia (Follow Saudi)
  22. Hungary (Follow Saudi)
  23. Iceland (Follow Saudi)
  24. Iraq (Follow Saudi)
  25. Ireland (Follow Saudi)
  26. Italy (Follow Saudi)
  27. Jordan (Follow Saudi)
  28. Kazakhstan (Follow Saudi)
  29. Kuwait (Follow Saudi)
  30. Kyrgizstan (Follow Saudi)
  31. Lebanon (Follow Saudi)
  32. Luxembourg (Follow Saudi)
  33. Malaysia – Age > 8 hours, altitude > 2°, elongation > 3°
  34. Mauritania (Follow Saudi)
  35. Montenegro (Follow Saudi)
  36. Mozambique (Local Sighting)
  37. Netherlands (Follow Saudi)
  38. Nigeria (Announced)
  39. Norway (Follow Saudi)
  40. Palestine (Follow Saudi)
  41. Philippines (Follow Saudi)
  42. Qatar (Follow Saudi)
  43. Romania (Follow Saudi)
  44. Russia (Follow Saudi)
  45. Saudi Arabia (Local Sighting – Official Announcement)
  46. Spain (Follow Saudi)
  47. Sudan (Follow Saudi)
  48. Sweden (Follow Saudi)
  49. Switzerland (Follow Saudi)
  50. Syria (Follow Saudi)
  51. Tajikistan (Follow Saudi)
  52. Taiwan (Follow Saudi)
  53. Tatarstan (Follow Saudi)
  54. Tunisia – Criteria of age, or altitude, or sunset-moonset lag
  55. Turkey – Altitude > 5°, elongation > 8°
  56. Turkmenistan (Follow Saudi)
  57. U.A.E. (Follow Saudi)
  58. UK (Follow Saudi) [Coordination Committee of Major Islamic Centres and Mosques of London]
  59. USA – Fiqh Council of North America/Islamic Society of North America. The criteria are Moon must be born before Sunset in Makkah, and moonset after sunset in Makkah. These criteria are not applicable for Eid-al-Adha, for which it is relied on Saudi Announcement of Hajj.
  60. Uzbekistan (Follow Saudi)
  61. Yemen (Follow Saudi)

August 31, 2011 (Wednesday):

  1. Australia (Local Sighting)
  2. Bangladesh (One group – Local Sighting)
  3. Barbados (30 days completion)
  4. Brunei (Local Sighting)
  5. Fiji Islands (Local Sighting)
  6. Guyana – Local Moon Sighting
  7. India (Local Sighting)
  8. Indonesia (30 days completion – Official Announcement)
  9. Iran (Local Sighting)
  10. Kenya (Local Sighting)
  11. Libya – Moon must be born before Fajr in Libya
  12. Madagascer (Local Sighting)
  13. Malawi (Local Sighting)
  14. Mauritius (Local Sighting)
  15. Morocco (Local Sighting)
  16. Namibia (30 days completion)
  17. Netherlands (30 days completion)
  18. New Zealand (30 days completion)
  19. Oman (30 days completion, since not possible on August 29)
  20. Pakistan (Local Sighting)
  21. South Africa (30 days completion)
  22. Sri Lanka (Local Sighting)
  23. Suriname – News from Guyana if not seen in Suriname
  24. Tanzania (30 days completion)
  25. Trinidad & Tobago (Local Sighting)
  26. UK (30 days completion) [Wifaaqul ulama), (Ahle Sunnat Wal Jamaat], OR (Sighting from countries east of UK)
  27. USA (Local Sighting) [Shi’aa Community, Houston Hilal Committee, Chicago Hilal Committee]
  28. Zambia (Local Sighting)
  29. Zimbabwe (Local Sighting)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (22 votes, average: 5,41 out of 5)
Loading...
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan I, SMP Negeri I, dan SMA Negeri II. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis UFO, Bagaimana menurut Agama yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY World Assembly of Muslim Youth di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).

Lihat Juga

Pengamatan Hilal, Sulitkah?

Organization