Home / Pemuda / Pengetahuan / Pengamatan Hilal, Sulitkah?

Pengamatan Hilal, Sulitkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Setiap tahun saat memasuki awal puasa dan Idul fitri, kita sering diramaikan dengan penentuan kapan dimulai puasa dan hari raya. Pemerintah melalui Kementerian Agama melaksanakan Sidang Isbat untuk menetapkan dan memutuskan awal bulan Ramadhan dan Syawal. Hal ini tidak terlepas dari adanya perbedaan pendapat di masyarakat yang dapat memicu perselisihan sehingga perlu adanya keputusan bersama untuk menentukan awal puasa dan hari raya.

Perbedaan pendapat di masyarakat muncul karena adanya pemahaman yang tidak sama mengenai definisi hilal di awal bulan Qamariyah. Ada yang menyatakan hilal mesti tampak dan terlihat mata dan ada pula yang tidak perlu. Berbagai formulasi atau kriteria yang ditetapkan pemerintah agar setiap ormas Islam yang ada di masyarakat memiliki keseragaman dalam menentukan awal bulan, khususnya bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Namun sampai saat ini kriteria tersebut belum dapat diterima oleh semua ormas Islam di Indonesia. Ketidakseragaman ini menyebabkan perbedaan hari puasa dan hari raya di Indonesia. Ada yang lebih dahulu dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan ada juga yang melaksanakan setelahnya.

Pemerintah telah menentukan kriteria hilal awal bulan Qamariyah dengan berpedoman kepada imkanu rukyat. Hilal harus terlihat saat setelah matahari terbenam dan setelah ijtimak, dengan beberapa ketentuan. Adapun ketentuan hilal terlihat adalah ketinggian hilal lebih dari 2 derajat saat terbenam matahari, umur bulan minimal 8 jam setelah terjadinya ijtimak (posisi matahari dan bulan dalam bujur ekliptika yang sama dengan pengamat, dan jarak bulan-matahari minimal 3 derajat. Kriteria ini telah disepakati oleh Kementerian Agama negara-negara di tingkat regional atau yang dikenal dengan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Pengamatan hilal di Indonesia sering dipengaruhi oleh faktor cuaca. Hal ini disebabkan Indonesia merupakan daerah tropika lembab, di mana langit selalu diselimuti oleh awan tebal. Penampakan hilal saat memasuki zona kritis yaitu ketika posisi hilal berada sama atau di bawah kriteria yang ditetapkan pemerintah sangat sulit untuk diamati. Oleh karena itu penetapan awal puasa dan hari raya dilakukan secara istikmal.

Berbeda dengan negara-negara di timur tengah seperti Arab Saudi yang memiliki tingkat kecerlangan langit sangat tinggi. Sehingga penampakan hilal lebih mudah untuk diamati, meskipun tidak menggunakan peralatan observasi benda langit (teropong), hilal masih dapat dilihat secara jelas dengan mata telanjang sekalipun. Itulah mengapa di arab Saudi sering berbeda awal puasa dan hari raya dengan di Indonesia.

Selain kendala cuaca, hal sangat perlu diperhatikan ialah posisi bulan terhadap matahari. Berkas cahaya dari matahari dapat mengaburkan penampakan hilal saat matahari terbenam. Hal yang diperhatikan antara lain:

Tinggi Bulan

Besar sudut yang dinyatakan dari posisi proyeksi Bulan di Horizon-teramati hingga ke posisi pusat piringan Bulan berada. Elevasi pengamat dianggap 0 meter di atas permukaan laut dan efek refraksi atmosfer standar telah diikutsertakan dalam perhitungan. Semakin rendah tinggi bulan semakin sulit hilal teramati.

Umur Bulan

Selisih waktu antara terbenam Matahari dengan waktu terjadinya konjungsi. Parameter ini menentukan kecerlangan hilal saat matahari terbenam.

Elongasi

Jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari untuk pengamat dengan elevasi dianggap 0 meter dpl dan efek refraksi atmosfer Bumi diabaikan. Jika elongasi kecil maka berkas cahaya matahari akan lebih mengaburkan penampakan hilal.

Lag

Selisih waktu terbenam Bulan dengan waktu terbenam Matahari. Lamanya waktu hilal untuk kemungkinan dapat teramati.

Fraksi Illuminasi Bulan

Persentase perbandingan antara luas piringan Bulan yang tercahayai Matahari dan menghadap ke pengamat dengan luas seluruh piringan Bulan.

Sepanjang pengamatan hilal yang dilakukan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) di beberapa lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia, tercatat bahwa posisi hilal dengan ketinggian bulan di atas 4 derajat dan elongasi minimal 6 derajat masih mungkin hilal dapat teramati. Untuk ketinggian hilal terendah yang dapat diamati ialah 6.21 derajat dan elongasi 7.89 derajat. Hasil Pengamatan ini yang dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2016 untuk penentuan awal bulan safar telah memecahkan REKOR DUNIA untuk Sub Kategori Smallest Ellongation pada Kategori Ordinari Imagin.

Penampakan Hilal. (BMKG)

Pengamatan hilal tidak menjadi hal yang sulit, jika kita mengetahui dan memahami apa yang menjadi kendala dan bagaimana memperoleh penyelesaiannya. Pengamatan hilal dapat pula dilakukan tanpa menggunakan peralatan teropong. Tetapi dapat juga dilakukan dengan faktor-faktor yang menjadi hambatan dapat diminimalkan dari pengetahuan dan pengalaman dalam pengamatan hilal. Berikut merupakan dokumentasi dari pengamatan hilal di seluruh Indonesia.

Penampakan hilal dalam menentukan awal Qamariyah (www.bmkg.go.id)
Penampakan hilal dalam menentukan awal Qamariyah (www.bmkg.go.id)
Penampakan hilal dalam menentukan awal Qamariyah (www.bmkg.go.id)
Penampakan hilal dalam menentukan awal Qamariyah (www.bmkg.go.id)
Penampakan hilal dalam menentukan awal Qamariyah (www.bmkg.go.id)

(dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika BBMKG wilayah II Tangerang. Pegawai aktif di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sebagai analisis meteorologi dan geofisika. Salah satu anggota pengamat hilal di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sejak 2012 sudah aktif dalam melakukan pengamatan hilal setiap bulannya.

Lihat Juga

Musim Semi di Bulan Juni