Home / Berita / Dunia Islam dan Umat Muslim

Dunia Islam dan Umat Muslim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Riyadh, Agama Islam menjadikan pemeluknya umat yang unik, umat yang sangat berbeda dengan umat manusia lainnya.  Umat muslim memiliki syakhsyiyah –kepribadian- yang sangat berbeda dengan perilaku umat lain yang pernah ada sebelumnya, karena umat sebelumnya lebih cenderung memiliki penafsiran yang keliru terhadap kehidupan ini karena dipengaruhi oleh adanya unsur etnis, perkelompokan dan jauh dari wahyu Tuhan.
Umat muslim berbeda, karena ajaran agamanya memiliki cara pandang yang sempurna; cara pandang terhadap alam, cara pandang terhadap kehidupan (dunia) dan cara pandang terhadap masyarakat. Cara Pandang yang sempurna ini memberi dampak yang sangat signifikan terhadap hadharah –peradaban-, sistem dan tata kehidupan umat muslim. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” Al-Anbiya’:92
Allah swt. sendiri yang mensifati umat muslim sebagai khairu ummah; sebaik-baik umat. Allah swt. berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” Ali Imran:110
Allah swt. juga yang menjelaskan muwashafat umat ini sebagaimana ayat di atas; yaitu mereka yang menegakkan amar makruf, menjalankan nahi munkar yang keduanya sebagai bagian yang tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya karena itu merupakan misi perjuangan. Dan perjuangan itu dilandasi dengan sikap percaya dan yakin kepada Allah swt.; yakin terhadap  kebenaran risalah-Nya, yakin akan pertolongan-Nya dan yakin akan eksisnya agama-Nya di muka bumi ini. Jadi muwashafat khairu ummah adalah; amar makruf, nahi munkar dan dilandasi dengan iman kepada Allah swt.
Cara pandang atau pemikiran Islam yang berlandasan tauhid murni ini menjadi munthalaq –pijakan- dalam menghadapi berbagai teori dan mensikapi beragam isme dengan objektif. Tidak semua hal yang baru diterima mentah-mentah. Pemikiran Islam terbuka, mampu menyikapi berbagai pemikiran yang berkembang demikian pesat di dunia modern sekarang ini. Pemikiran Islam mampu mengantarkan umat muslim dalam posisi yang memilki prinsip take and give. Karena ajaran Islam tidak akan pernah ada penyimpangan dan kontradiksi. Itu disebabkan oleh karena adanya Al-Qur’an. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Al-Hijr:9
Selain Al-Qur’an sebagai sumber kemurnian Islam, juga ada Sunnah Nabi Muhammad saw. menjadi petunjuk bagi umat muslim. Berkat kegigihan para salafush sholih –generasi pertama Islam- Sunnah Nabi tetap terjaga dengan lengkap.
Ikatan Umat Islam
Agama Islam menyatukan umatnya yang memiliki latar belakang berbeda; berbeda jenis kelamin, berbeda etnis, lingkungan, bahasa, warna kulit dan tanah air menjadi umat yang satu. Pondasi persatuan itu sangat kokoh, karena berdiri tegak di atas pondasi aqidah Islam, pondasi yang sejalan dengan fitrah manusia. Ikatan persatuan umat Islam itu atas dasar:

  1. Tauhid. Menyembah Tuhan yang Esa, Allah swt. tempat bergantung segala sesuatu. Dzat yang tidak berputra dan diputrakan. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Setiap muslim yang mengikrarkan Tuhan yang Esa, berarti mereka telah meng-Esakan Allah dalam peribadatan. Tauhid berarti juga membebaskan setiap hamba dari penyembahan terhadap sesama hamba, hanya menyembah Allah swt.,  sekaligus mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan menuju keadilan langit.
  2. Menghadap Ka’bah Saat Shalat. Di manapun setiap muslim berada, ia menghadap ke arah Kiblat, Baitullah Al-Haram ketika shalat. Kesamaan ini menjadi bukti kesatuan tujuan. Mengembalikan umat muslim ke arah tujuan yang murni yang tidak dicederai oleh tujuan-tujuan sampingan, juga tidak terkoyak oleh target-target duniawi yang pasti akan berganti, sekaligus sebagai upaya untuk mengkikis habis perselisihan dan kelas sosial.
  3. Kesamaan Kitab Suci, yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai sandaran undang-undang, sebagai sumber pengambilan hukum, dalam berbagai lini kehidupan; baik aspek peribadatan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, juga militer. Sumber ini membuktikan kesatuan pemikiran, kesatuan tsaqafah dan kesatuan arah perjuangan. Adalah merupakan pondasi yang sangat penting, di mana umat Islam berdiri tegak di atasnya.
  4. Kesatuan Haji ke Baitullah Al-Haram. Ibadah haji merupakan muktamar Islam tahunan yang menyatukan umat muslim di seluruh penjuru dunia. Inilah yang sebenarnya ditakuti oleh para orientaslis dan musuh-musuh Islam, di mana mereka melihat ada dua faktor yang menghimpun umat muslim di manapun meraka berada, pertama haji ke Baitullah Al-Haram dan Khilafah Islamiyah. Ibadah haji menghidupkan ruh persatuan Islam secara total. Ibadah haji mampu merontokkan fanatisme dan perkelompokan. Siapa saja yang melaksanakan haji ia pasti merasakan adanya hamasah diniyah –semangat keber-agamaan- yang kuat untuk menerapkan Islam yang mulia ini. Sebagaimana ibadah haji sebagai sarana transfer ilmu, pertukaran informasi, dan pemikiran di antara umat Islam, juga sebagai sarana untuk membuka cakrawala berfikir umat Islam terhadap konspirasi dan sarana-sarana yang digunakan musuh-musuh Islam.
  5. Kesatuan Bahasa.  Yaitu Bahasa Arab yang Allah swt. pilih sebagai bahasa Al-Qur’an. Nabi sangat menganjurkan umatnya agar mempelajari dan berbicara dengannya, juga untuk menggali hukum-hukum Islam dan syariatnya. Bahasa Arab bukan untuk orang Arab, tapi Bahasa Arab milik umat muslim semuanya. Bahasa Arab sebagai sarana untuk membuka komunikasi, saling memahami di antara umat muslim, sarana untuk bekerja sama, sebagai sarana untuk menjaga Islam dan mentransfer kekayaan ilmiyahnya.

Rasulullah saw. bersabda: “Bahasa Arab bukan milik salah satu di antara kalian, karena adanya faktor (keturunan) dari ayah atau ibu, akan tetapi Bahasa Arab adalah lisan, barangsiapa yang berbicara dengan menggunakan Bahsa Arab berarti ia ‘Araby -orang Arab-.” (I’tidhaush Shirat, karya Ibnu Taimiyah hal 169, hadits ini dhaif tapi maknanya shahih). Al-Qur’an telah menjaga bahasa ini. Islam telah melestarikannya. Dakwah tauhid juga telah menyebarluaskannya di seluruh pelosok dunia Islam. Kalau bukan karena serbuan dari para penjajah yang menguasai banyak negara-negara muslim, maka bahasa Arab menjadi bahasa ibu bagi mereka.

  1. Kesamaan Sejarah Umat Islam. Sejarah yang mengkondisikan umat ini memiliki kesamaan cita-cita. Sejarah yang menjadikan umat muslim ini umat yang satu, di mana seseorang merasakan apa yang dirasakan saudaranya, baik ketika senang atau ketika susah. Setiap muslim memiliki kesamaan dalam mensikapi kejadian perang Badar, Fathu Makkah, perang Tabuk, Yarmuk, Qadisiyah, Hiththin, Ain Jalut, Bilathusy Syuhada’, pembantaian umat Islam di Andalusia, di Palestina, umat muslim di Rusia, di Filipina, di Patani, di Afghanistan, India, Kasymir, dst.
  2. Kesatuan Kenabian dan Kerasulan. Allah swt. berfirman: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Al-Baqarah:285.

Kesatuan kenabian ini mengantarkan pada kesatuan nilai, tradisi, adat, di antara putra-putra Islam di manapun mereka berada. Di dunia Islam manapun anda berada anda akan mendapatkan di antara umat muslim memiliki nilai silaturrahim, melaksanakan hak tetangga, saling menghormati, tidak menyukai kemungkaran, konsumsi makanan halal dan thayyib, menghormati keluarga, adat muamalat, hingga jika anda berada dalam komunitas umat muslim yang bukan dari wilayah anda, anda akan mendapatkan perlakuan yang sama, seakan-akan anda bagian dari anggota keluarga mereka. Karena Islam telah menyatukan nilai dan tradisi mereka sesuai hukum-hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.. Allah swt. berfirman: “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” Al-Anfal:63. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beirman dalam cinta, kasih-sayang dan persaudaraan di antara mereka, laksana satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh lainya tidak bisa tidur dan terasa panas.” Muttafaqun alaih. Allahu a’lam (Hadhirul ‘Alam Islami, Dr. Al-Mishri)

http://gus-ulis.blogspot.com/2011/02/umat-islam-dan-dunia-islam.html

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ulis Tofa, Lc
Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Maahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program Persiapan Bahasa Arab dan Pra Universitas. Tahun 2002 menyelesaikan program Sarjana LIPIA di bidang Syariah. Semasa di bangku sekolah menengah, sudah aktif di organisasi IRM, ketika di kampus aktif di Lembaga Dakwah Kampus LIPIA, terakhir diamanahi sebagai Sekretaris Umum LDK LIPIA tahun 2002. Menjadi salah satu Pendiri Lembaga Kajian Dakwatuna, lembaga ini yang membidangi lahirnya situs www.dakwatuna.com , sampai sekarang aktif sebagai pengelola situs dakwah ini. Sebagai Dewan Syariah Unit Pengelola Zakat Yayasan Inti Sejahtera (YIS) Jakarta, dan Konsultan Program Beasiswa Terpadu YIS. Merintis dakwah perkantoran di Elnusa di bawah Yayasan Baitul Hikmah Elnusa semenjak tahun 2000, dan sekarang sebagai tenaga ahli, terutama di bidang Pendidikan dan Dakwah. Aktif sebagai pembicara dan nara sumber di kampus, masjid perkantoran, dan umum. Berbagai pengalaman kegiatan internasional yang pernah diikuti: Peserta Pelatihan Life Skill dan Pengembangan Diri se-Asia dengan Trainer Dr. Ali Al-Hammadi, Direktur Creative Centre di Kawasan Timur Tengah, pada bulan Maret 2008. Peserta dalam kegiatan Muktamar Internasional untuk Kemanusian di Jakarta, bulan Oktober 2008. Sebagai Interpreter dalam acara The Meeting of Secretary General of International Humanitarian Conference on Assistanship for Victims of Occupation bulan April 2009. Peserta Training Asia Pasifik Curriculum Development Training di Bandung pada bulan Agustus 2009. Peserta TFT Nasional tentang Problematika Palestina di UI Depok, Juni 2010 dll. Karya-karya ilmiyah yang pernah ditulis: Fiqh Dakwah Aktifis Muslimah (terjemahan), Robbani Press Menjadi Alumni Universitas Ramadhan Yang Sukses (kumpulan artikel di situs www.dakwatuna.com), Maktaba Dakwatuna Buku Pintar Ramadhan (Kumpulan tulisan para asatidz), Maktaba Dakwatuna Artikel-artikel khusus yang siap diterbitkan, dll. Sudah berkeluarga dengan satu istri dan empat anak; Aufa Taqi Abdillah, Kayla Qisthi Adila, Hayya Nahwa Falihah dan Muhammad Ghaza Bassama. Bermanfaat bagi Sesama adalah motto hidupnya. Contak person via e-mail: ulistofa-at-gmail.com atau sms 021-92933141.

Lihat Juga

Bocah Suriah berusia 5 tahun, Omran Daqneesh, yang diselimuti debu dan darah, duduk di dalam ambulance setelah diselamatkan dari puing-puing reruntuhan bangunan yang terkena serangan udara Rusia di Aleppo pada 17 Agustus 2016. (Mahmoud Rslan / Getty Images)

Si Kecil Omran, Durrah, dan Tangisan Dunia