Home / Nur Indra Murti Yulizar

Nur Indra Murti Yulizar

Sosok biasa yang terus belajar untuk menjadi luar biasa, karena-Nya …

Cinta, Bersabarlah…

Ya Allah | Dalam diamku | Ijinkan aku untuk menunggu | Biarkan aku menanti | Hingga tiba masa untuk jalani | Jaga hatiku agar sanggup bertahan dalam penantian ini | Dan kuatkan, jika memang engkau takdirkan untuk tak bersama. Pertemukan kami dalam jannah-Mu ya Allah ....

Baca selengkapnya »

Hidupku Hidup!! (Bagian ke-3)

Sebelum pagi menjelang, membiarkan mata tetap terjaga, menikmati setiap desau nafas dalam rasa yang tak biasa, pada kebebasan setelah terbelenggu hampir 3,5 tahun. Ya ... malam ini, satu pekan pertama. Aku merasakan layaknya hidup manusia normal, sedikit, hanya sedikit nyeri di ulu hatiku, bahkan nyaris tak terasa kecuali saat aku mencoba sedikit menekan, hmmm kalau ini masih sama.

Baca selengkapnya »

Hidupku Hidup!! (Bagian ke-2)

Menjelang pagi, Berat mata ini untuk terpejam, entahlah ... terlalu berat bagiku untuk sengaja memejamkan mata, karena aku paham betul berbaring dan tidur adalah tantangan untukku. Dengan berbaring menjadikanku harus berjuang lebih keras melawan GERD yang selalu memberi sensasi nyeri luar biasa di ulu hati dan berat untuk sekadar menarik nafas, juga mimpi dalam tidur selalu membawaku kembali menapak memoar yang mencabik sudut hati.

Baca selengkapnya »

Hidupku Hidup!! (Bagian ke-1)

Penghujung senja, bilik 1 instalasi rawat jalan paviliun garuda RSUP DR Kariadi. Dalam teka-teki retoris yang menghujam, di antara kesadaran dan pemahaman diri tentang intonasi hidup yang syahdu, tentang rasa, pada ketangguhan hati menapak tantangan kerapuhan jasad. Tenggelam dalam penantian jawab terbaik atas segala keputusan, mengokohkan hati dan terus mengalirkan energi positif dalam diri.

Baca selengkapnya »

Dia, Dia, dan Dia Ibuku

Subhanallah ... betapa beruntungnya aku, Allah mengirimkan orang-orang luar biasa dalam hidupku, yang saling berkorelasi untuk melengkapi celah kebutuhanku. Apa yang tidak aku dapat dari ibu bisa aku dapat dari mbah dan budhe. Mbah … maafkan Indra yang sering ketus. Ibu, maafkan Indra yang tak mampu sabar dan terlalu cengeng menghadapimu. Budhe, maafkan Indra yang sering melukai dengan mengabaikan nasihatmu.

Baca selengkapnya »

Aku (tak) Ingin Menikah

Terangkai jelas dalam lobus parietalisku tentang diskusi bersama kak Yulia yang sering menemaniku check up rutin di RSUP DR. Kariadi, juga dengan kak Yayah kala itu. Tentang aku yang mendamba imam seorang dokter. Kata kak Yayah, “dokter itu biasanya menemukan jodoh gak jauh-jauh dari rumah sakit.” Dan dengan antusias aku menjawab, “gak harus dengan sesama dokter kak, kan bisa sama pasiennya.”

Baca selengkapnya »

Siluet Izroil

Sering terbesit, kala diri ini sedang terbaring tak berdaya meringkuk kesakitan, tentang sesosok yang aku pun tak mampu menciptakan ilustrasi wajahnya dalam ruang imajinasiku. Ya ... dia sang penjemput maut utusan Allah yang akan memanggil sukma kita agar berpisah dari sang raga, dia sempat menjadi pangeran impianku tahun 2006 lalu yang selalu kunanti di antara gerimis kala senja, yang aku tunggu di sudut kamar tepi jendela, dia ... Izroil.

Baca selengkapnya »

Cermin Kecilku

Kala itu Jum’at siang, dalam hujan. Hari pertama aku keluar rumah dengan kain kerudung, saat akan berangkat les matematika. Hmmm … memang belum layak untuk dikatakan berhijab, masih dengan celana jeans ketat coklat abu-abu dan kaos putih ketat dipadupadankan dengan kerudung segi empat putih dan bros kura-kura.

Baca selengkapnya »