Home / Berita / Internasional / Asia / Warga Sipil Suriah: Bendera Turki Simbol Kepercayaan Diri Kami

Warga Sipil Suriah: Bendera Turki Simbol Kepercayaan Diri Kami

Presiden Turki dan Preiden Rusia menyaksikan penandatanganan kesepakatan demiliterisasi di Idlib Suriah. (Anadolu)
dakwatuna.com – Damaskus. Kesepakatan baru antara Ankara dan Moskow untuk mendemiliterisasi Provinsi Idlib di barat laut Suriah, memberi harapan kepada warga sipil setempat untuk masa depan mereka yang lebih cerah.

Warga Idlib berbagi pandangan mereka terkait kesepakatan tersebut, serta rencana masa depan mereka, kepada kantor berita Anadolu.

“Kami mempercayai Turki; kami merasa nyaman ketika Turki kuat dan aktif di wilayah ini. Kami mengibarkan bendera Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan bendera Turki di setiap demonstrasi,” kata Ahmad Zarzur.

“Bendera FSA adalah simbol perlawanan kami, sedangkan bendera Turki adalah simbol keyakinan dan kepercayaan kami,” imbuhnya.

“Kami melihat kesepakatan ini adalah hal yang baik untuk kami. Kami berharap, kesepakatan akan menghadirkan hasil yang baik bagi warga Idlib.”

Bedir Kaysi, warga Idlib yang berpindah ke Homs, juga mengutarakan hal yang sama. Ia berterima kasih kepada negara dan bangsa Turki yang tidak pernah mengabaikan persoalan warga Suriah.

Hal senada juga diutarakan oleh Abdussalem Hassan, manajer sebuah rumah sakit di Idlib. “Kami ingin Turki memberikan kepercayaan diri kepada Kawasan. Kami juga meminta bantuan kepada organisasi bantuan (mereka),” katanya.

Pada Senin (17/09) lalu, Turki dan Rusia menyepakati perjanjian yang menyerukan demiliterisasi di Idlib, Suriah.

Menurut kesepakatan tersebut, kelompok oposisi di Idlib akan tetap berada di wilayah mereka saat ini. Sementara itu, Rusia dan Turki akan melakukan patroli bersama di daerah itu dengan tujuan mencegah terjadinya pertempuran kembali.

Pasukan militer Turki dan Rusia, juga akan melakukan patroli bersama di sepanjang perbatasan zona tersebut.

Berada di dekat perbatasan Turki, Idlib merupakan rumah bagi lebih dari tiga juta warga Suriah.

Bulan lalu, rezim Suriah mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran di Idlib. Provinsi ini merupakan benteng terakhir kelompok oposisi Suriah.

Tapi PBB dalam peringatannya menyebut tekad rezim Suriah tersebut dapat mengarah pada “bencana kemanusiaan terburuk abad 21”. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Saya Kenal Pembunuh Jamal Khashoggi

Organization