Home / Berita / Internasional / Asia / ‘Sebelum Konflik Suriah Pecah, Bashar Assad Berupaya Damai dengan Israel’

‘Sebelum Konflik Suriah Pecah, Bashar Assad Berupaya Damai dengan Israel’

Bashar Al-Assad yang terancam digulingkan paksa (islammemo.cc/arsip)
dakwatuna.com – Washington. Presiden Suriah Bashar Assad mengirimkan sinyal perdamaian dengan Israel – melalui Amerika Serikat – pada tahun 2010 silam. Hal itu tertulis di sebuah buku baru Menlu AS era Obama, John Kerry, lapor harian Israel Haaretz, Selasa (04/09).

Dalam bukunya “Every Day is Extra” tersebut, Kerry menuliskan pengalamannya menangani isu-isu internasional. Selain itu, ia juga berbagi soal pengambilan kebijakan AS selama karir politik dan diplomatiknya.

Berkaitan dengan Suriah, Kerry menjelaskan pertemuan dirinya dengan Assad saat menjadi Ketua Komite Hubungan Luar Negeri di Senat AS.

Menurutnya, ia menekan Assad terkait dukungan lanjutan untuk Hizbullah Syiah Lebanon. Saat itu, pemimpin rezim Suriah tersebut mengatakan “semuanya harus dinegosiasikan”.

Kerry melanjutkan dengan mengatakan bagaimana Assad menyuarakan kesiapan untuk mengubah kebijakan Suriah tentang Hizbullah. Ini dalam kaitan pembicaraan dengan Israel menghasilkan buah apapun.

Haaretz mengutip tulisan Kerry: “Assad bertanya kepadaku apa yang diperlukan untuk negosiasi perdamaian serius (dengan Israel), dengan harapan mengamankan kembali Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak 1967.”

“Aku katakan padanya bahwa jika ia serius, ia harus membuat penawaran pribadi,” imbuhnya. “Ia bertanya seperti apa bentuknya. Aku sampaikan pendapatku. Ia menginstruksikan pada asisten utamanya untuk menulis surat dari Assad untuk Presiden Obama.”

Masih menurut Kerry, dalam surat tersebut Assad meminta Obama untuk menjadi sponsor perundingan damai Suriah-Israel. Assad juga menyatakan kesiapannya “untuk mengambil sejumlah langkah sebagai imbalan kembalinya Golan ke Suriah”.

Selanjutnya, Kerry menjelaskan pertemuannya dengan PM Israel Benyamin Netanyahu satu hari kemudian. Menurutnya, Netanyahu kala itu “terkejut melihat Assad bersedia melangkah sejauh itu”.

Pemerintahan Obama, lanjut Kerry, menguji keseriusan Assad dalam penawarannya tersebut. Washington meminta Assad untuk melakukan “beberapa hal yang akan membangun kepercayaan”, termasuk di antaranya menghentikan pengiriman senjata ke Hizbullah.

“Namun Assad mengecewakan pemerintah (Obama) dengan tidak menindaklanjuti janji-janjinya,” tulis Kerry.

Satu tahun setelah peristiwa yang dijelaskan Kerry terjadi, pecahlah konflik Suriah. seperti diketahui, milisi Hizbullah hingga saat ini terus berperang bersama pasukan Assad. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kesaksian Warga Desa Kamboja Hempaskan Megaproyek Cina (Bagian 1)

Organization