Home / Berita / Internasional / Asia / Cina di Timur Tengah: Di Balik Pesona Serangan Ekonomi Xi Jinping

Cina di Timur Tengah: Di Balik Pesona Serangan Ekonomi Xi Jinping

Emir Kuwait berjabat tangan dengan Presiden Cina (kiri). (Aljazeera)
dakwatuna.com – Beijing. Cina, sebagai negara konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia, meningkatkan investasinya di Timur Tengah yang kaya minyak dengan janji pinjaman lebih dari $ 23 miliar serta jutaan lainnya dalam bentuk bantuan.

Presiden Cina Xi Jinping juga punya rencana tentang perdagangan bebas dan mengedepankan model investasi “minyak dan gas plus”. Hal itu ia sampaikan di depan delegasn dari 21 negara Arab dalam sebuah forum di Beijing baru-baru ini. Ia meyakini, model seperti itu akan membuka lapangan kerja dan membantu menjaga kebutuhan energi masa depan Cina.

Kepada para pemimpin Arab, Xi menyebut negaranya ingin membentuk kemitraan strategis “untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah … serta teman baik yang saling belajar satu sama lain.”

Timur Tengah memainkan peran penting dalam inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan, sebuah megaproyek yang bertujuan menghubungkan bangsa Asia, Afrika dan Erop, melalui Jalur Sutra Modern. Cina bertekad menghidupkan kembali Jalan Sutra kuno masa lalu.

Negara-negara Timur Tengah saat ini menyediakan lebih dari separuh impor minyak mentah Cina. Sementara Cina menjadi mitra dagang terbesar di kawasan tersebut. Tujuannya adalah menggandakan perdagangan Timur Tengah menjadi $ 600 miliar pada 2020.

Jadi, apa di balik pesona serangan ekonomi terbaru Xi di Timur Tengah?

“Ini adalah bagian dari rencana jangka panjang Cina untuk mengamankan sumber dayanya untuk masa depan,” kata Reuben Mondejar, profesor untuk inisiatif Asia di IESE Sekolah Bisnis di Universitas Navarra, Barcelona.

“Minyak sangat penting, sumber daya energi bagi Cina akan jadi sangat penting dalam 10, 20, 30 tahun mendatang. Jadi, mereka telah berinvestasi di tempat lain seperti Afrika dan Amerika Selatan untuk sumber daya lain.”

“Tapi untuk minyak, Timur Tengah masih menjadi area utama, dan platform yang mereka gunakan dengan nyaman sekarang adalah Belt dan Road.” imbuh Mondejar.

Mondejar meyakini bahwa semua ini adalah soal waktu. “Karena dengan situasi sekarang, perang dagang dan semua isolasionisme, proteksionisme … Cina butuh teman. Dan ini waktu yang tepat untuk berteman dengan mengumumkan $ 23 miliar dalam bentuk ekonomi.”

Namun Mondejar menyebut kemitraan ekonomi dengan Timur Tengah lebih bermasalah dari pada dengan Amerika Selatan, misalnya.

“Timur Tengah merupakan kawasan yang mungkin paling bergejolak di dunia saat ini. Jadi, Cina tengah melangkah ke area yang sangat sulit,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Sumber: Emir Qatar Tidak Akan Hadir KTT Teluk 2018 di Riyadh

Organization