Home / Berita / Internasional / Asia / Amerika Serikat Kembali Mengemis pada Turki, Soal Apa?

Amerika Serikat Kembali Mengemis pada Turki, Soal Apa?

Sistem pertahanan udara ‘S-400’ milik Rusia. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Washington. Amerika Serikat terus berupaya meyakinkan Turki untuk membatalkan pembelian sistem pertahanan udara dari Rusia, “S-400”. Sebagai gantinya, Washington mendesak Ankara untuk membeli sistem pertahanan miliknya, Patriot.

Pembelian sistem pertahanan udara Turki menjadi isu hangat yang mencuat di antara kedua negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tersebut.

Undang-undang Amerika Serikat memberi sanksi bagi negara manapun yang menandatangani kontrak dengan perusahaan senjata Rusia. Artinya, Ankara tengah dalam ancaman sanksi AS terkait pembelian S-400.

“Tujuan dalam pandangan kami adalah, di atas segalanya, untuk memastikan bahwa sistem yang dibeli sekutu kami sejalan dengan hubungan strategis antara kami dan mereka,” kata Tina Kaidanow, seorang pejabat di Kemenlu AS, dilansir Aljazeera, Selasa (17/07).

Ia menambahkan, “Mungkinkah kami meyakinkan para sekutu dan mitra asing bahwa ini adalah masalah serius? Kami harap mereka memikirkan hal ini saat berencana membeli senjata.”

“Kami ingin mereka memahami kerugian nyata dan serius dari sejumlah pembelian, termasuk pembelian (S-400) dari Rusia. Sebagai gantinya adalah sistem rudal kami.”

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertentangan dengan para sekutunya di NATO. Perselisihan terjadi di sejumlah isu, termasuk rencana Turki membeli sistem pertahanan milik Rusia.

NATO menyebut sistem pertahanan yang akan dibeli Turki tidak kompatibel bagi Turki sebagai salah satu anggota Aliansi.

Amerika juga tengah membahas sanksi bagi Turki jika tetap membeli S-400. Dua bulan lalu, Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk mempercepat proses transaksi.

Kesepakatan pembelian S-400 ditandatangani oleh Ankara dan Moskow pada 12 September tahun lalu. Turki juga telah membayar dana awal kepada Moskow, yang akan membuat Turki negara pertama dalam NATO yang memiliki sistem tersebut. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Komentari Kasus Khashoggi, Putin: AS Harus Bertanggung Jawab

Organization