Home / Berita / Internasional / Asia / Tiga Hal Ini Bisa Jadi Opsi Israel Atasi Jalur Gaza

Tiga Hal Ini Bisa Jadi Opsi Israel Atasi Jalur Gaza

70% penduduk Gaza adalah pengungsi atau keturunan pengungsi. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Jalur Gaza. Ketika Warga Palestina meluncurkan Pawai Kepulangan pada 30 Maret lalu, Israel merasakan peluang untuk konfrontasi. Israel mulai mengintimidasi pengunjuk rasa yang tak bersenjata, selain meluncurkan propaganda bahwa Palestina membawa ancaman bagi keamanannya.

Hingga saat ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah membunuh 120 orang pengunjuk rasa damai. Bahkan Israel tampak tak akan menghentikan kebrutalannya itu.

Ketika tekanan internasional mulai membahayakan mereka, Israel mulai mengarahkan target kepada kelompok-kelompok perlawanan di Gaza. Israel membombardir tempat pelatihan mereka, gudang senjata, terowongan dan logistik, serta membunuh sejumlah personil mereka.

Pasukan Israel tentu tak punya pembenaran atas hal ini; mereka hanya ingin menegakkan realita baru di lapangan: Perlawanan damai akan ditanggapi dengan kekerasan dan eskalasi lanjutan akan menyusul akibat serangan militer yang lebih luas.

Setelah beberapa pertimbangan, respon militer akhirnya diluncurkan dari Gaza. Banyak dari kelompok perlawanan meyakini, pemaksaan realita baru oleh Israel tak boleh dibiarkan. Mereka berkepentingan untuk menunjukkan bahwa respon akan dilakukan terhadap setiap serangan militer.

Apa yang tampak dari episode ini, apapun itu, membuat Israel semakin sulit untuk mempertahankan status quo. Strategi mereka tentang ‘Gaza tidak hidup tidak pula mati’ tampaknya tak akan berfungsi.

Itulah sebabnya Israel saat ini dihadapkan pada tiga pilihan: pendudukan kembali, perang, atau mengakhiri blokade.

Pendudukan Kembali

Ada suara-suara ekstrim di lingkaran pemerintah, militer maupun elit intelektual yang menyeru pendudukan atas Gaza. Mereka meyakini, pemberlakuan kembali kontrol militer di Gaza akan menghapuskan ancaman yang ditimbulkannya.

Mereka menyeru seluruh wilayah Gaza diambil alih melalui pasukan darat, serta melakukan pemberantasan menyeluruh terhadap kelompok-kelompok bersenjata di sana. Setelah itu terjadi, Gaza harus diserahkan kepada pihak ketiga, seperti Ototitas Palestina atau badan internasional, untuk mengatasi dan mengelola kebutuhan penduduk.

Para penyeru opsi tahu betul bahwa itu akan menimbulkan bencana berdarah. Israel akan menghadapi perlawanan berat dari Gaza yang menyebabkan banyak pasukan terbunuh. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Israel daripada kembalinya pasukan mereka dengan dibungkus kantong mayat.

Jika benar dilakukan, Israel harus menyediakan makanan, minuman dan aliran listrik lebih banyak untu penduduk Gaza. Tentu itu akan membebani finansial otoritas zionis.

Namun begitu, opsi ini tidak terlalu populer bagi pengambil keputusan di Tel Aviv. Sebabnya karena mereka menyadari harga mahal yang harus dibayar.

Perang

Opsi ini sangat populer di lingkaran Israel, karena dianggap berharga lebih murah. Opsi ini dianggap cukup memenuhi kebutuhan mendesak untuk membuat jera bagi Hamas, setelah berani menyerang permukiman Israel baru-baru ini.

Israel terbiasa melancarkan serangan ke Gaza sebagai kebijakan ‘potong rumput’. Kapanpun kemampuan Hamas tumbuh, Israel merasa perlu memotongnya melalui serangan udara atau pembunuhan di lapangan. Tujuannya agar Israel dapat bertahan untuk beberapa tahun mendatang.

Setelah beberapa operasi yang diluncurkan Israel tahun 2016 dan 2014, maka sangat mungkin akan ada operasi lain yang diluncurkan. Tampaknya Israel yakin operasi semacam ini diperlukan segera.

Namun jenderal-jenderal tingkat tinggi menaruh curiga bahwa kelompok perlawanan di Gaza telah meningkatkan kemampuannya. Perang di Gaza tak akan menjadi piknik, melainkan dianggap sebagai kejahatan yang harus dilakukan.

Mengakhiri Blokade

Opsi ini akan diwarnai dengan pengangkatan blokade ekonomi dan administrasi oleh Israel. Hal ini juga akan diikuti dengan pembangunan pelabuhan atau bandara atas pengawasan ketat oleh Israel dan jaminan internasional.

Opsi ini memungkinkan bagi Palestina untuk membentuk pilar-pilar layaknya negara, tanpa adanya instrumen ketaatan pada Israel layaknya di Tepi Barat.

Melihat kondisi di lapangan yang ada, ketiga opsi ini sangat mungkin dipilih. Israel akan mempertimbangkan dengan serius semua opsi tersebut. Pada akhirnya, perkembangan di lapangan akan menjadi faktor penentu opsi mana yang dipilih. (whc/dakwatuna)

Ditulis oleh:
Adnan Abu Amer
Kepala Departemen Ilmu Politik di Universitas Ummah Gaza

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Benarkah Erdogan Minta Bantuan Ekonomi ke Merkel? Ini Jawaban Menteri Jerman