Home / Berita / Internasional / Asia / ‘Dia Adalah Seluruh Duniaku’; Kisah Pilu Warga Gaza Saat Kehilangan Orang Tercinta

‘Dia Adalah Seluruh Duniaku’; Kisah Pilu Warga Gaza Saat Kehilangan Orang Tercinta

Duka menyelimuti saudara Shaher al-Madhoon yang gugur dalam perjuangan. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Gaza. Nisma Abdelqader masih belum percaya putranya berusia 18 tahun gugur.

Pasukan keamanan Israel menembak kepala Bilal al-Ashram saat mengikuti aksi damai di Jalur Gaza, Selasa (15/05). Bilal baru saja menyelesaikan studinya di sekolah menengah atas.

Dengan air mata yang terus mengalir, Nisma menggambarkan anak pertamanya itu sebagai ‘seluruh dunianya’.

“Dia yang selalu menjadi motivasiku,” katanya. Bilal adalah sulung dari delapan anak Nisma. Selain sebagai anak, Bilal juga menjadi partner bagi Nisma dalam menjaga keluarga di tengah kealpaan suami yang bekerja di Yordania sejak 8 tahun terakhir.

Nisma menuturkan, ia mencoba mencegah Bilal agar tidak mengikuti aksi di perbatasan Gaza tersebut. Serangan brutal pasukan Israel membuat Nisma tidak tega melepas anaknya tersebut.

Seperti diketahui, aksi damai telah digelar sejak 30 Maret silam. Warga Palestina menuntut hak kembali setelah terusir dari tanah mereka. Tahun 1948 silam, mereka terusir dalam sebuah pembersihan etnis oleh militer zionis. Peristiwa itu dikenal dengan Nakbah atau Catastrophe.

Tidak Terjadi Apa-apa

Setidaknya 750.000 orang terusir dari tanah bersejarah Palestina. Sebagian ada yang menjadi pengungsi lokal.

70% dari dua juta penduduk Gaza adalah pengungsi, atau keturunan pengungsi. Mereka keturunan dari yang terusir pada 1948 silam.

Mereka hidup di tengah blokade darat, laut, dan udara yang diberlakukan lebih satu dekade terakhir. Blokade membuat mereka tidak dapat pergi dari Gaza tanpa izin sulit dari militer Israel.

Bahkan untuk ke Mesir – sebagai satu-satunya opsi – saja mereka dibatasi hanya dalam hitungan hari. Itupun diperuntukkan secara terbatas saat gerbang Rafah dibuka.

Sejak 30 Maret lalu, pasukan Zionis setidaknya telah membunuh 111 warga Palestina. Termasuk dengan balita berusia 8 bulan yang gugur akibat gas air mata yang ditembakkan. Sementara 12.000 orang lainnya mengalami luka-luka sejak hari itu.

Satu hari sebelum gugur, Bilal menulis di akun facebook-nya. Ia menyebut akan menuju ke Bir Seba, sebuah kota di sebelah selatan tempat keluarganya diusir saat Nakbah.

“Aku merasa sangat khawatir,” tutur ibunya. “Sementara ia sangat semangat untuk mengikuti aksi. Ketika aksi mereda pada 15 Mei, aku merasa lega. Aku pikir tak akan terjadi sesuatu padanya.”

“Aku masih tak percaya ia telah pergi untuk selamanya.”

Ancaman Apa yang Ia Bawa?

Nisma melanjutkan, “Aku tidak menentang Pawai Kepulangan. Yang aku tentang adalah saat harus kehilangan anak-anakku. Kami punya hak untuk kembali. Tapi pada akhirnya, ia tetap anak kami. Mereka tetap berjaya, dan penjajahan sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan pada kami.”

“Ancaman apa yang ia sampaikan kepada penjajah Israel?” Nisma bertanya-tanya selama pemakaman anaknya di kamp pengungsian Nuseirat di tengah Jalur Gaza.

Dalam hukum humaniter internasional, terlarang bagi pasukan menggunakan peluru tajam dalam situasi yang tidak mendesak dan mengancam hidup.

Omar Shakir, direktur Human Rights Watch Palestina dan Israel menyebutkan, Israel melanggar hukum internasional selama menanggapi aksi damai Palestina.

“Di Gaza, ada pasukan yang melepaskan peluru tajam hanya dengan beberapa kaki saja. padahal sasaran paling banter hanya melempar batu, atau bom molotov dari jarak jauh, itupun berdasarkan klaim Israel. Jadi itu tidak memenuhi ketentuan internasional, yaitu mengancam nyawa,” kata Shakir pada Aljazeera.

Membakar Semangat

Di pemakaman lain di Kamp Nuseirat, Jalilah Ghrab juga berduka setelah kehilangan suami tercintanya, Nasser.

Jalilah bercerita, dirinya, Nasser dan putra tertua mereka berusia 30 tahun, hanya berjarak 800 meter dari pagar di sebelah timur Bureij. Di saat itulah Nasser ditembak tetap di dadanya.

Lima menit setelah tiba di rumah sakit, jantung Nasser berhenti berdetak.

“Dia benar-benar yakin pada hak untuk kembali. Ia sangat ingin pergi aksi setiap harinya. Bahkan ia mendirikan tenda untuk aku dan anak-anak,” tutur Jalilah. Pada 1948, keluarganya diusir dari Isdud, 35 km di utara Gaza.

Jalilah menyebut dirinya masih belum percaya. “Kehilangan suami sangat pedih dan menyiksa. Hati ini dipenuhi kemarahan kepada penjajah Israel.”

“Ia adalah semangat dalam rumah kami. Dia sangat perhatian pada semua yang ada di rumah. Dia juga sosok ayah yang baik dan penuh kasih sayang,” lanjut Jalilah. Ia juga menyebut bahwa Nasser sangat dekat dengan enam anak dan tujuh cucu mereka.

“Apapun yang terjadi, ini justru memicu tekad dan semangat kami. Aku akan pergi ke tenda, dan akan membawa semua keluargaku,” tegasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Washington Pupus Mimpi Saudi Miliki Nuklir

Organization