Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Tak Ada Uang yang Jatuh Dari Awan

Tak Ada Uang yang Jatuh Dari Awan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dainikpurbokone.net)

dakwatuna.com – “Kenapa pagi begini sudah macet? Emang mereka kerjanya dimana?“ tanyaku pada Bang Yos, supir pribadi keluarga. Waktu menunjukan pukul 5.16 pagi. Aku sedang dalam perjalanan ke Puncak menuju kantor utamaku dan sekolahnya Ben.

“Menghindari macet, Bu. Mereka ke arah Sudirman dari pagi. Jadi begitu sampai Sudirman langsung tidur. Sambil menunggu jam masuk kantor, juga menghindari buka tutup di pukul 7.00-10.00 dan kalau sore pukul 16.00-20.00.” ujar Bang Yos.

Wah.

Dalam hati aku bergumam, “Gak ketemu anak dong; sebelum subuh sudah jalan, pulang-pulang harus lewat pukul 20.00 baru jalan. Jadi sampai rumah pukul 22.00 malam. Berangkat sebelum anak-anak bangun dan pulang setelah anak-anak tidur.”

Tadi malam aku nonton film (jangan tanya judulnya ya. Malas aja berdebat dengan yang pro dan kontra), topiknya bukan itu. Dalam satu bagian, film itu menggambarkan anak yang kehilangan ibunya yang single parent karena sang suami selingkuh.

Akhirnya sang Ibu harus kerja keras. Ketika anaknya memiliki acara penting yaitu ‘membuat lagu untuk Ibunya‘, sang Ibu juga sedang menghadapi client yang penting juga. Singkat cerita sang Ibu tidak bisa hadir.

Akhirnya si anak marah-marah dan menyalahkan sang ibu karena ketidakhadirannya. Tidak hanya itu, rekan kerja sang Ibu juga mengeluarkan kalimat yang menohok, “Apakah ketemu client lebih penting dari ketemu anakmu?” Sang Ibupun terhenyak, diam merasa bersalah.

Aku berbisik pada keponakan cewek yang duduk di sebelahku, “Kalau jadi tante Fifi, tante akan bilang; ‘Semuanya penting, anak juga harus di beri pengertian. Siapa sih yang mau kerja keras kayak gini siang malam ninggalin anak. Semua orang tua juga maunya dekat anak, kalau Ibu gak kerja, anaknya makan apa? Bukankah segala macam fasilitas; liburan, jalan-jalan ke pulau, anaknya beli telepon genggam, beli laptop, sekolah yang bagus, dan uang jajan yang layak, bukankah itu semua dari hasil kerja orang tuanya?’.”

Anak harus diberi pengertian. Kumpulkan mereka ketika hari Ahad, kemudian berikan penjelasan, “Nak, coba hitung berapa total pengeluaran kita selama 2 hari ini. Sabtu kemarin kita ke rumah Bude untuk arisan dan bunda bawa kue, lalu pulangnya kita makan bakso. Hari ini kita ke Mall beli sepatu kamu yang talinya rusak, beli aksesoris untuk tasmu, dan beli kaus kaki baru.”

“Kita juga ke toko buku beli novel ringan agar kamu bisa ngobrol dengan temanmu tentang Matahari yang belum ketemu Jingga. Kita juga makan waffle coklat, minum milkshake, dan beli nutella rasa kacang untuk selai rotimu. Hitung deh total semua berapa, plus bensin, dan parkirnya ya. Juga tukang minta-minta di dekat tukang buah.”

“Lalu hitung juga pengeluaran kamu selama sekolah satu minggu. Hitung semua; jajan cilokmu, air kelapa di kantin, bekalmu, juga jajan petangmu plus go food-mu. Hitung juga uang sekolahmu, buku, dan iuran bulanan juga iuran kelas. Hitung semua total berapa? Kalau satu anak sekian kalau tiga anak jadi tiga kians kan?”

“Kalau Mama gak kerja bantu Papa, gimana cara bayar itu semua?”

Banyak Ibu bekerja karena faktor pendapatan suami yang kurang atau seperti cerita di atas, single parent. Jadi, anak harus diberi pengertian, mereka mendapatkan fasilitas itu semua juga dari Ibu yang kerja keras dan banting tulang. Semua sama-sama susah lah, jangan hanya di provokasi menyalahkan orang tua. Apalagi zaman sekarang segala sesuatu serba mahal.

Kalau ada saran, “Ibu di rumah aja, bisa dagang Online.”

Pikir deh, yang beli dagangan Online kan perempuan-perempuan yang kerja kantoran. Kalau semua dagang Online, yang mau beli siapa?

Jadi intinya, tidak usah saling menyalahkan. Anak juga jangan berkuasa menyalahkan orang tua yang bekerja dan kurang waktu buat anak. Lebih baik anak disuruh memilih saja, mau hidup lebih enak tapi kurang waktu untuk bersama, atau mau hidup pas-pasan dan beras meminjam ke tetangga lalu kamar satu bertiga?

Pahami Kondisi

Ya, ajak anak-anak untuk paham kondisi, bukan menyalahkan kondisi. Semua juga ingin memiliki; waktu kebersamaan, uang yang banyak, liburan naik pesawat.

Tapi kita kan harus kerja keras dan menahan perasaan. Memang, uang jatuh dari langit?

Suatu waktu, ajak si anak memandang ke awan, ketika tiba pada kalimat terakhir “Tak ada uang yang jatuh dari Awan,” semoga mereka lebih paham. Bahkan berlomba mendoakan Ibunya agar selamat dalam perjalanan dan pekerjaan.

Poin terakhir; Ayah kerja keras, Ibu kerja keras bantu keluarga, anak-anak juga harus kerja keras. Sekolah yang benar jangan sampai menyusahkan orang tua.

“Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud AS. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari) (fifi/sb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...

Lihat Juga

Pembicaraan Kecil Tentang 8 Pilar Sukses Mendidik Anak