Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Kuatkan Akad Bermuara Surga Untuk Generasi

Kuatkan Akad Bermuara Surga Untuk Generasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (angelrie.wordpress.com)

dakwatuna.com – “Sesungguhnya Allah membeli dari orang –orang mukmin, baik diri mereka maupun harta mereka, dengan memberikan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111)

Berulangkali kita pasti sering membaca ayat ini. Jika direnungkan dalam-dalam setiap kata atau susunan kalimat dalam ayat di atas, memang tak salah jika ayat ini disebut oleh Sayyid Qutub dalam Tafsirnya Fii Zhilaalil Quran, sebagai ayat yang sesungguhnya sangat dahsyat dan menakutkan. Ada hubungan keterikatan yang sangat kuat antara orang-orang beriman dengan Allah, hakikat sebuah sumpah atau janji yang telah terucap dengan keislaman sepanjang hidup kita.

Dalam konteks peran kita sebagai orangtua, apapun itu, setiap kita sudah mutlak menjadi milik-Nya. Sebenarnya tak ada hak apapun pula atas suami /istri, juga atas anak-anak kita, bahkan atas diri kita sendiri. Maka sejatinya, semua yang ada membersamai kita termasuk anak-anak, semua adalah milik Allah. Dan membersamainya berati pula menjaga titipan-Nya dengan sebaik-baiknya seperti yang Sang Penitip inginkan. Selayaknya yang diberi amanah juga selayaknya sebagai orang yang terbeli, maka tidak ada pilihan selain pengabdian utuh mengikuti apa yang telah disyaratkan Sang Pembeli.

Menjaga dan membentuk anak-anak sesuai dengan apa yang Allah inginkan, menjadi tugas utama setelah kemudian Allah bentuk kita menjadi orangtua. Bahkan menyerahkan anak-anak kelak untuk kemaslahatan dakwah dan Dien ini adalah bentuk totalitas sebagai wujud pelaksanaan sumpah atau janji kepada-Nya.

Mari kita tengok kembali kisah seorang Shahabiyah mulia, Khansa. Ibunda empat syuhada Qadisiyah. Wujud totalitas kecintaannya dan penunaikan janji kepada Pembeli dirinya, dikisahkan dalam penggalan berikut;

Dalam sebuah kemah dari ribuan kemah dalam perang Qadisiyah, Khansa mengumpulkan keempat anaknya untuk menyampaikan nasihat (wasiat) pada mereka. Ia berwasiat,” anak anakku, kalian memeluk Islam dengan penuh ketaatan dan hijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq, kecuali Dia, sungguh kalian terlahir dari ibu yang sama. Aku tidak pernah mengkhianati ayah kalian. Tidak pernah mempermalukan paman kalian. Tidak pernah mempermalukan nenek moyang kalian. Tidak pernah pula menyamarkan nasab kalian. Kalian semua tahu balasan besar yang telah Allah siapkan bagi seorang muslim dalam memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah anak-anakku, negeri yang kekal itu lebih baik daripada tempat yang fana ini..”

Dan usai peperangan, Khansa pun menerima kabar tentang putra putranya yang telah syahid dengan sebait jawaban,” Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka, Aku berharap Rabbku mengumpulkanku bersama mereka dalam kasih sayang-Nya.”

Episode yang melegenda. Catatan sejarah yang kisahnya terus membayang dalam setiap benak kita. Episode cinta yang sesungguhnya menyimpan banyak pelajaran yang tak lekang oleh masa.

Kisah seorang Khansa, adalah kisah orangtua mewariskan totalitas janji dan sumpah seperti dituliskan dalam ayat alquran surat At Taubah di atas. Cermin konteks pemahaman utuh tentang bagaimana seorang diri, sekaligus istri dan ibu bagi anak-anaknya berjuang menepati apa yang sudah menjadi janji dan menunaikan kewajiban kepada Pemilik diri yang sudah membelinya dengan bayaran yang mulia, Surga.

Tentu menyiapkan empat putra yang juga terlahir dari rahim miliknya untuk memahami dan menunaikan ayat tersebut dengan sepenuh jiwa, bukanlah sebuah proses instant yang terjadi begitu saja. Pastilah seorang Khansa sudah terlebih dulu mengokohkan keyakinan dirinya tentang makna ayat tersebut, hingga ia sanggup mengejewantahkan sempurna, pun pada kehidupan putra –putranya.

Inilah pelajaran penting yang bisa kita ambil dan teladani sebagai orangtua dari anak-anak kita. Mari kita renungkan kembali ayat tersebut sempurna. Dimana dalam ayat tersebut pun Allah sendiri bahkan telah mewajibkan Dirinya memberi kenikmatan yang tidak ternilai. Allah sudah memberi bayaran Surga, sebuah kenikmatan yang digambarkan sangat luar biasa. Padahal sejatinya, kita bahkan mungkin tidak pantas mendapatkan keistimewaan tersebut.

Hasan Al Bashri dan Qatadah pernah mengomentari ayat tersebut, “Allah telah membeli mereka tapi mereka tidak pantas dibeli dengan harga seperti itu.”

Muhammad bin Hanafiyah pun mengatakan” Sesungguhnya Allah menjadikan surga sebagai harga bagi diri kalian, maka janganlah kalian jual jiwa kalian pada pembayaran, selain surga..”

Maka, jika saat ini kita masih merasa abai untuk menyiapkan sebaik baik generasi yang sudah Allah titipkan pada kita, juga sudah terbeli oleh-Nya, tentu kita harus menelisik kembali komitmen jual beli kita dengan Allah.

Mewakafkan mereka di jalan-Nya, adalah dengan memberikan sebaik baik penjagaan akhlak, perlindungan jiwa, pendidikan sempurna dengan nutrisi Iman dan nutrisi otak yang tentunya sesuai pula dengan apa yang diperintahkan oleh-Nya. Tidak boleh ada kelalaian untuk mengenalkan mereka sejak awal dengan-Nya, juga dengan perjanjian setiap diri kepada-Nya. Prosesnya bisa jadi mungkin akan sangat panjang. Memerlukan kedekatan diri yang super kuat dengan-Nya, agar berlimpah kemudahan jalan yang akan Ia berikan. Memerlukan kekuatan ilmu pengetahuan tentangnya, agar tak salah jalan hingga malah memilih berdamai dan menggadaikan diri kepada selain-Nya.

Sungguh, mewariskan ketaatan kepada anak-anak atau generasi masa depan, adalah sebuah proses perlekatan hati dengan-Nya. Maka proses mengawalinya adalah dengan terlebih dulu memahat sempurna keyakinan dan konsistensi diri, bahwa kita selalu berusaha menjalankan kontrak jual beli bersaman-Nya dengan baik, tanpa ada tawar menawar, tanpa ada protes dan bantahan. Ya, hanya taat, tunduk mendidik generasi kita sesuai perintah-Nya, kemudian siap mewakafkannya untuk melaga bersama dakwah, mengesakan dan memurnikan kecintaan hanya kepada-Nya.

Karena kita dan anak-anak adalah jiwa yang sudah terbeli oleh-Nya dengan bayaran Surga, apakah akhirnya kita mau berkhianat dan melepas bayaran yang sesungguhnya telah memuliakan tersebut? (fitry/dakwatuna.com)

———————————

Referensi tambahan: Buku Sentuhan Cinta Ibu, GIP,2017, penulis: M. Lili Nur Aulia

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fitry Ratna Sari

Ibu dari 3 putra putri, konsultan keluarga RKI ( Rumah Keluarga Indonesia ), Penggiat Rumah Baca & Sahabat Keluarga’ CAHAYA “.

Lihat Juga

IZI Buka 30 Posko Buka Puasa Gratis Di Jabodetabek