Home / Berita / Opini / Halaqah dan Solusi Hijrah

Halaqah dan Solusi Hijrah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: olx.com.my)

dakwatuna.com – Berapa kuota maksimal melakukan pembunuhan agar masih punya kesempatan bertobat? Seorang pembunuh di zaman Bani Israel dengan membawa catatan rekor telah membantai 99 jiwa datang menemui seorang shaleh. Ia kemukakan kegundahannya belakangan, “masihkah saya punya kesempatan bertobat?” Begitu kira-kira katanya.

Mimpi apa rahib itu semalam? Apakah Westerling lahir kepagian? Padahal bagi Allah, membunuh satu nyawa saja sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Maka, pikir sang rahib, sudah tak bisa lagi tobat si pembunuh diterima.

Lalu… KRASSSSHHH…. Mohon bayangkan itu bunyi pedang yang membabat tubuh, supaya ada dramatisasinya. Singkat cerita, sang rahib menjadi orang ke-100 yang dibunuh dengan kejam oleh tamunya. Si sumbu pendek meletup lagi karena kecewa harapannya untuk bertobat divonis telah tertutup. Dapat hadiah apa bila telah genap angka 100? Payung cantik? Atau gelas, mangkok, piring?

Masih penasaran, si pembunuh bertanya lagi kepada orang-orang, siapa manusia paling berilmu tempat berkonsultasi tentang pertobatan. Mendapat sebuah nama, pembunuh itu pun pergi menemui. Dan Allah perjumpakan. Setelah mendengar pengakuan dosa, sang alim menjawab dengan ilmu yang dimilikinya.

Pintu tobat senantiasa terbuka bagi setiap hamba selama ruh masih belum tercerabut dari badan. Termasuk bagi si pembunuh. Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya. Namun ada satu syarat agar tobat itu sukses. Si pembunuh harus meninggalkan lingkungan tempat ia tinggal sekarang, dan beranjak ke suatu daerah yang dihuni orang-orang shaleh. Agar ketaatan pribumi di sana bisa senantiasa menginspirasi diri untuk menjadi lebih baik.

Saya yakin pembaca sudah banyak yang tau kisah ini. Bahwa kemudian kematian mendadak di tengah perjalanan mencegah si pembunuh sampai ke daerah yang disyaratkan orang alim tadi. Selanjutnya terjadi perdebatan antara malaikat rahmat dan malaikat siksa, siapa yang berhak mendapat proyek mengurus arwah manusia super itu. Lalu karena posisi jenazah lebih dekat kepada kampung hijrah yang dituju, maka arwah pembunuh itu pun bersama malaikat rahmat.

Ronin-ronin Muhajirin

Nabi Muhammad saw lah yang menceritakan hadits di atas, termaktub dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim. Tak hanya beribrah bahwa tobat buat manusia selalu terbuka, tapi juga pelajaran tentang bagaimana tobat bisa sempurna.

Hijrah dan lingkungan yang baik. Itu lah kunci yang ditunjukkan oleh orang alim pada cerita di atas. Harus ada pergerakan meninggalkan lokasi yang tak kondusif menuju bi’ah (lingkungan) yang memacu penghuninya berlomba pada kebaikan.

Hijrah, kata ini sedang trend di tengah masyarakat. Bukan cuma karena beberapa bulan lalu ada hari besar tahun baru Hijriyah yang memuat cerita pindahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Kata ini marak seiring meningkatnya gairah keislaman masyarakat Indonesia, terutama di kota besar. Umat muslim zaman now dimanjakan dengan fasilitas teknologi informasi yang membuat mereka bisa menimba ilmu di mana saja kapan saja berbekal gawai terhubung koneksi internet. Antusiasime belajar Islam ini merupakan hal yang menggembirakan. Diikuti dengan kemauan menjadi lebih baik, yang diistilahkan dengan hijrah.

Ya mereka ada semangat hijrah. Tapi ke mana? Tentu kepada cara hidup yang lebih baik, yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw. Hijrah dalam artian pindah perilaku. Tidak sampai pindah tempat tinggal sebagaimana yang dipraktekkan pembunuh dalam cerita di atas, dan juga Rasulullah saw serta para sahabatnya.

Satu syarat lagi, lingkungan yang baik. Di mana para muhajirin anak baru ghirah (ABG) itu mendapatkannya? Ini yang sering luput. Saya temukan langsung orang-orang yang senang memutar video youtube; membaca tulisan di facebook, whatsapp; dll yang bertemakan ilmu keislaman; namun mereka tak punya guru yang membimbing atau komunitas orang shaleh tempat saling mengingatkan. Mereka otodidak belajar Islam.

Lantas, karena maraknya kajian di media sosial ini diiringi dengan dialektika – dari yang santun sampai taraf tahdzir kelas eksekutif, mereka pun tak jarang terbawa dalam perdebatan. Jadilah mereka sebagai ronin, samurai tak bertuan, yang membabat lawan-lawan diskusi berbekal apa yang didengar di kajian, apa yang ditonton di youtube, atau apa yang dibaca dari tulisan di media sosial.

Ronin-ronin muhajirin ini fenomena yang menyedihkan sebenarnya. Lingkungan islami tak ada, hanya berteman koneksi internet yang kadang dibuat untuk kebaikan dan kadang masih dipakai untuk sisa-sisa kelakuan jahiliyah. Di sisi lain mereka sudah punya sparring partner untuk adu urat.

Liqaat Tarbawi, a Small Islamic Environment

Sebenarnya ada solusi hijrah di tengah masyarakat yang antusias menuntut ilmu. Perangkat-perangkatnya lumayan lengkap. Ada pertemuan pekanan tempat mengkalibrasi pemahaman Islam dan tempat memonitoring progress perbaikan diri. Itu lah yang orang sering sebut dengan liqa’ atau halaqah tarbawi.

Ustadz Ihsan Tanjung ketika diwawancarai Majalah Al Izzah tahun 2000an dulu, mendeskripsikan halaqah tarbawiah sebagai small Islamic environment. Lingkungan islami yang kecil. Ia istilahkan juga dengan laboratorium islami pembentuk kepribadian muslim.

Sesuai dengan ahdaf/tujuannya, liqa’ ini yang memperkenalkan Islam secara jelas, yang menyeluruh dan shahih bersumber dari Rasulullah, kepada para muhajirin milenial. Kemudian diajaknya para peserta halaqah itu untuk berinteraksi dengan ajaran Islam: menanamkannya dalam aqidah yang dasar, membentuk pola pikir islami, menyelaraskan selera dan rasa yang islami, serta mengubah tampilan luar serta perilaku amal sesuai ajaran Islam. Lalu jadilah jalan hidup mereka tershibghah (tercelup) dalam pewarnaan Islam.

Liqa’ ini juga yang membentuk interaksi antar sesama anggotanya menjadi lingkungan tempat saling mengingatkan dan berlomba pada kebaikan. Mereka dipersatukan dengan menelusuri rukun-rukun ukhuwah, yaitu ta’aruf (perkenalan), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling menolong), dan takaful (saling memikul beban).

Allah yang mempersatukan mereka. “dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal: 63)

Liqa’ juga bersifat ri’ayah ma’nawiyah, atau pemeliharaan semangat berislam dengan kaffah. Dengan membaurkan diri dalam lingkungan orang-orang yang senantiasa antusias, maka futur (rasa malas atau bosan yang datang setelah semangat) akan tergerus suasana.

Inilah komunitas hijrah yang terarah.

Problematika “Kakak Kelas”

Sebagaimana kritikan seorang ustadz salafi zaman now yang sedang viral, liqa’ dianggap bermasalah karena sering kali yang menjadi murabbi atau pembina dalam halaqah itu adalah kakak kelas di kampus. Dinilainya kebanyakan sang murabbi bukan lah orang yang punya ilmu mumpuni, bahkan tak mampu berbahasa arab.

Kritik itu terbangun dari pemahaman terhadap halaqah yang salah. Karena liqa tidak seperti kajian umum. Ia adalah laboratorium hijrah kecil, small Islamic environment, bukan ta’lim dengan peserta ramai diisi oleh ustadz yang ahli dalam bidang tertentu. Liqa’ juga adalah komunitas tempat saling menjaga semangat menjalankan Islam.

Kegiatan dalam halaqah biasanya setoran hafalan quran, evaluasi implementasi sunnah dalam keseharian, tahsin, tak jarang juga ada sharing berupa kultum bergilir, dan agenda kebaikan yang disepakati bersama. Memang disampaikan juga materi keislaman dasar, tapi sang murabbi tentu sudah pernah mendapatkannya dari liqaat yang dia ikuti di kelompok lain.

Maka yang dibutuhkan sebenarnya adalah seorang manajer yang baik untuk sebagai murabbi, yang bisa mengkoordinir agenda-agenda itu. Yang terpenting ia bisa memberi keteladanan dalam kesungguhannya menghafal quran, hadits, menjalankan sunnah, berakhlak baik, dan mengikuti ta’lim-ta’lim ilmu. Ia jug bisa memotivasi anggotanya melawan rasa futur dan terus meningkatkan kapasitas diri.

Selain itu murabbi adalah mentor hijrah bagi para new comer dalam dunia perhijrahan. Layaknya pebisnis mula memerlukan seorang mentor yang membimbingnya dalam dunia bisnis, begitu juga para muhajirin, mereka memerlukan senior yang sudah lebih dulu hijrah yang mengarahkannya agar konsisten dan berada di jalan yang benar.

Ada cerita seorang yang baru bergeliat gairah belajar islamnya, tapi tak punya pembimbing. Akhirnya bahan bacaan yang ia tekuni sehari-hari adalah tentang freemasonry dan dunia teori konspirasi. Sayang sekali, tak terarahkan. Kalau dia tergabung dalam halaqah yang dibina seorang murabbi, tentu ada yang melatihnya dengan sunnah-sunnah yang dimulai dari yang ringan, merekomendasikannya bacaan-bacaan yang dibutuhkan, dsb.

Mentor hijrah ini tentu lebih berkesan bila ia adalah seorang senior yang sudah berpengalaman memperbaiki diri (dulunya juga pernah nakal). Dibanding seorang ustadz yang dari kecil terliput dalam lingkungan yang baik di pesantren, senior dalam dunia hijrah punya lebih banyak cerita dan pengalaman serta lebih nyambung diajak curhat oleh juniornya.

Tapi tetap lebih banyak sisi positifnya bila seorang ustadz yang menjadi murabbi. Karena lebih kecil kemungkinan ia berbicara di luar ilmunya. Dibanding senior di kampus umum yang terbatas hafalan quran, hadits, serta bahasa Arab. Masing-masing ada kelebihan.

Soal larangan berbicara tanpa ilmu, itu adalah hal yang diwanti-wanti benar ketika seorang masuk ke dalam halaqah. Karena muhajirin new comer sering terjebak euphoria atas ilmu yang baru ia dapat. Ia bisa terjebak dalam sikap merasa lebih baik dari yang lain, lalu memamerkan ilmunya yang tak jarang ditambah-tambahkan sendiri.

Tapi kondisi begitu tidak cuma berpeluang terjadi dalam halaqah yang dibina senior di kampus. Di media sosial malah mudah kita dapati fenomena ini. Pun, asatidz banyak juga tergelincir dalam kesalahan perkataan. Misalnya menganggap densus seperti mujtahid, atau menganggap walisongo tak ada bukti otentik, mencela surban pahlawan nasional, dll.

Entahlah, saya rasa bukan soal liqa itu diisi senior di kampus atau tidak. Andai ustadz Adi Hidayat yang menjadi murabbinya, rasanya tetap saja tak kan memuaskan kelompok pengkritik itu. Tahu kan kenapa!? (zico/dakwatuna.com)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Ayah dari 2 anak yang tinggal di Depok. Minat dengan diskusi keilmuan soal keislaman. Menumpahkan pikirannya pada blog: http://zicoofficial.wordpress.com serta http://muslimpolitan.com

  • masudi surabaya

    awal tulisannya bagus..tetapi sayang diakhiri dengan semangat kurang positif..alangkah lebih bagus diakhiri dengan semangat membangun meskipun hanya dalam tulisan. semangat untuk ber liqo’ sangat bagus membantu untuk kita memahami ISLAM secara baik dalam tataran teori..sering kali praktek di lapangan menemui kendala karena hubungan antara sang guru dengan sang anak didik belum di terjemahkan dalam hubungan saling memikul beban…liqo’ sering kali hanya pertemuan formal yang sibuk dengan catatan dan kajian yg kering akan pelaksanaan di lapangan (setidaknya ini yg saya rasaakan)…mohon maaf untuk tulisan saya..

Lihat Juga

Deklarasi Balfour, Cara Inggris Rebut Tanah Palestina untuk Yahudi