Home / Berita / Internasional / Asia / Apa di Balik Kedekatan Hamas dengan Mesir?

Apa di Balik Kedekatan Hamas dengan Mesir?

Pertemuan Hamas dam Faksi Perjuangan Palestina di Gaza. (aljazeera.net)

dakwatuna.com – Gaza. Fase baru hubungan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dengan Mesir, memasuki fase baru. Hal ini tampak setelah Hamas menyambut upaya Mesir yang mendukung kemajuan proses rekonsiliasi Palestina. Hamas juga tidak menghentikan pujian atas upaya tersebut. Bahkan, mereka menyebut keberhasilan rekonsiliasi ada pada sponsor dan bergabungnya Mesir dalam prosesnya.

Sikap media dan politik Hamas juga mencerminkan hal itu. Mereka menilai visi prioritas dan peran Mesir sangat penting dalam menyelesaikan seluruh permasalahan Palestina. Sikap politik Hamas yang dimaksud mencakup pemahaman mereka dalam menyerahkan kontrol atas Gaza, membentuk kerangka kepemimpinan pembebasan Palestina, dan kesepakatan agenda politik termasuk pertukaran tawanan dengan penjajah Israel.

Kepada Aljazeera.net, Jubir Hamas Fawzy Barhoum, mengklaim Mesir sangat puas dengan manuver organisasinya akhir-akhir ini. Hal itu akan memberikan kontribusi dalam peningkatan dan penguatan hubungan semua pihak. Ia menambahkan, Hamas berusaha mengambil keuntungan dari peran Mesir baik skala regional maupun internasional. Keuntungan dimaksud untuk kepentingan rakyat Palestina, tidak hanya Gaza saja.

Hubungan Hamas dan Kairo, lanjut Barhoum, mengalami kemajuan besar dan pesat dari segi bilateral. Ia juga menegaskan, Mesir sangat mampu mengadopsi dan mengelola permasalahan Palestina. Hal itu sudah terbukti di masa lalu, dan akan dicoba untuk diulang kembali skenario yang sama.

Hamza Abu Shanab, pengamat Palestina menyebutkan, pembicaraan terkait pertukaran tahanan tampaknya sudah lebih awal. Hal ini karena otoritas penjajah belum mampu mewujudkan syarat-syarat yang diajukan Hamas. Meskipun di sisi lain, Mesir masih paling mampu mengintervensi dan mempengaruhi penanganan masalah Palestina.

Menjawab Tuntutan

Abu Shanab menegaskan, kepemimpinan baru Hamas sangat berperan dalam mengembangkan hubungan dengan Mesir. Menurutnya, hal itu berdasarkan pada keputusan Hamas yang mau memenuhi tuntutan keamanan dan politik Kairo. Inilah yang memengaruhi hubungan kedua belah pihak dari yang awalnya saling diam dan berselisih, menjadi saling berteman seperti saat ini.

Namun, Abu Shanab enggan mengonfirmasi hubungan Hamas dan Mesir itu sampai pada kesepahaman strategi. Mengingat ada perbedaan pandangan yang jelas antara keduanya terkait penyelesaian politik dengan otoritas penjajah. Meski begitu, Abu Shanab meyakini bahwa lembaran baru antara kedua pihak telah terbuka. Sedangkan halaman-halaman ketegangan telah ditutup.

Sementara itu, pengamat Hany el-Akkad meyakini, hubungan Hamas dan pemerintah Mesir akan meningkat hingga pembukaan kantor perwakilan di Kairo. Hal ini karena sikap Hamas yang menjamin netralitasnya dari Jamaah Ikhwanul Muslimin, serta upayanya yang tidak keluar dari haluan yang digariskan Mesir.

Menekan Pengaruh

Selain itu, el-Akkad juga mengungkapkan hal-hal yang akan meningkatkan hubungan kedua belah pihak. Menurutnya, ada indikasi bahwa Mesir mendesak Hamas untuk mengurangi pengaruh dari negara-negara yang memusuhi Kairo. Kesepahaman kedua pihak, tambahnya, akan membawa kedekatan ke arah fase berikutnya dari sisi keamanan hingga politik.

Ia melanjutkan, para pemimpin baru Hamas menjadikan Mesir sebagai prioritas untuk menjadi jembatan kerja sama dengan negara-negara Arab yang memiliki hubungan dengan Kairo. Khususnya setelah ada fakta ketidakseimbangan dalam aliansi Hamas sebelumnya. Hamas tampaknya akan bergantung pada Mesir dalam kaitannya dengan penanganan isu-isu panas, baik internal Palestina atau hubungannya dengan Israel.

El-Akkad tidak menafikan kemungkinan adanya paket terpadu yang telah disiapkan. Mulai dari rekonsiliasi, hingga kesepakatan pertukaran tahanan dan gencatan senjata jangka panjang dengan zionis. Atau bahkan hingga mencuatnya sebuah kesepakatan politik yang lebih luas lagi antara Palestina dan Zionis Israel. (whc/dakwatuna)

Sumber: Al-Jazeera

Advertisements

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra

William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma’had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.

Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma’had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Respon Keputusan Trump, Ikatan Ulama Palestina Seru Rakyat Palestina Gelar Intifadha