Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / The real Kelas Internasional

The real Kelas Internasional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Fitriani)

dakwatuna.comSuatu ketika saat ada seseorang menonton sebuah program di salah satu televisi, ia tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan acara tersebut.

Di acara tersebut disajikan sebuah situasi komedi dimana ada seorang guru yang mengajarkan bahasa kepada murid-murid yang berasal dari beberapa negara. Banyaknya perbedaan dari setiap background murid di sekolah tersebut menyebabkan banyak hal-hal yang salah paham yang akhirnya berujung membuat gelak tawa penonton.

Hal inilah yang dirasakan oleh beberapa relawan yang ditugaskan mengajar anak-anak pengungsi dari luar negeri. Setelah menyelesaikan pengabdiannya di luar kota Jawa, kini ada amanah baru yang diemban oleh relawan-relawan ini. Dahulu murid mereka adalah anak-anak dhuafa Indonesia yang bersekolah di sekolah formal pemerintah.

Kini kondisi itu berbeda, saat diwawancarai oleh salah satu manajemen sebelum menerima amanah ini, bagaimana caranya mengajari anak-anak yang tidak bisa bahasa Indonesia? Jawab saya adalah dengan bahasa tubuh. Dulu hal itu hanya saya anggap solusi teoritis, tapi kini jawaban itu benar-benar terjadi real di dalam kelas.

Inilah saya, Fitriani Wahyu Setyaningrum, dahulu saya adalah relawan pendidikan di daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Kini setelah usai program tersebut, saya mendapatkan tawaran baru untuk mengajar di Jakarta. Saya pikir murid saya nantinya adalah orang kota yang lebih modern, ternyata justru murid yang sangat berbeda.

Murid-murid di dalam kelas berasal dari beberapa negara, ada Somalia, Ethiopia, Afghanistan. Mereka adalah orang-orang yang mencari perlindungan sebab kondisi di negaranya yang tidak aman. Dalam suatu keluarga terkadang terdapat beberapa anak yang masih usia sekolah, dan saat mencari suaka mereka tidak bisa bersekolah.

Begitu panjang perjalanan mereka dari negara asalnya hingga sampai ke Indonesia. Meski Indonesia bukan menjadi tujuan mereka, hanya sebagai Negara transit, namun tidak ada satu keluarga yang tahu kapan mereka menetap di Indonesia sampai mereka mendapatkan kewarganegaraan dari Negara yang ditujunya. Bisa satu tahun, dua tahun bahkan sampai bertahun-tahun.

Tak ada satu pun manusia yang mau memilih hidupnya sebagai pengungsi, tapi inilah takdir Ilahi. Meski demikian mereka sama seperti warga lainnya, memiliki hak yang sama. Salah satunya adalah hak asasi budaya yaitu hak yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat salah satu di antaranya adalah hak mendapat pendidikan. Inilah yang menjadi motivasi saya terjun dalam dunia kerelawanan.

Bulan Maret 2016, dimulailah kelas untuk pengungsi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa dengan bekerja sama dengan UNHCR. Ada tiga jenjang yang diselenggarakan, yakni kelas A jenjang usia 4 sampai 6 tahun, kelas B jenjang usia 7 sampai 12 tahun dan jenjang kelas C usia 13 sampai 15 tahun. Di awal masuk kelas A, saya berhadapan dengan anak-anak pengungsi yang berasal dari Somalia, Afghanistan, dan Ethiopia.

Awal dari pembukaan salam semua masih baik-baik saja, setelah itu perkenalan diri, mulailah terjadi kebingungan karena bahasa yang mereka gunakan masih bahasa ibu mereka, alhasil mulailah dipakai jurus seribu tubuh, yakni menggunakan bahasa tubuh agar mereka mengerti.

Dari sini lah mulai terjadi hal – hal yang menyenangkan, dimana saya harus mempraktekkan bagaimana orang mandi untuk dapat tahu apakah mereka sudah mandi sebelum belajar, lalu saya juga mempraktekkan salam itu seperti apa agar mereka bisa terbiasa salim, cium tangan gurunya sebelum masuk.

Inilah yang membuat saya banyak belajar bahwa ini kelas istimewa, the real international class di mana saya harus banyak ide dan bersabar dengan segala tingkah laku anak-anak dengan berbagai latar belakang yang berbeda baik adat maupun budaya. (fitriani/dakwatuna.com)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fitriani Wahyu Setyningrum
Anak tunggal yang gemar melakukan petualangan. Keterbatasan yang ada, tak membuat dirinya patah arang dalam mewujudkan cita-citanya. Kini dengan misi kemanusiaan, ia semangat untuk menjadi seorang pribadi yang bisa menebarkan kebaikan di sekitarnya

Lihat Juga

Menlu Siap Resmikan Sekolah PKPU-Indonesia untuk Rohingya