Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta Adalah Memberi

Cinta Adalah Memberi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Love, cinta...dakwatuna.com – Menjadi puitis tak serta merta terjadi tanpa proses yang panjang, menjadi romantis juga bukan melalui perjalanan yang sangat singkat, perubahan itu sebuah keniscayaan, namun bukan berarti perubahan tersebut terjadi begitu saja, begitu mudah, dan begitu singkat. Namun Tahukah kita, Bahwa ada energi yang mampu memicu perubahan, energi tersebut ibarat badai, ibarat angin, ibarat air, ibarat api. Ibarat badai yang mampu merusak tatanan kota yang begitu indah, mampu meluluh lantahkan pepohonan, mampu membuat suasana menjadi mencekam, begitu besar energinya. Ibarat angin yang mampu menggerakkan, mampu meng-erosi gunung, mengantarkan bibit tetumbuhan dan bunga-bunga sehingga berkembang biak, mampu menyejukkan, begitu dahsyat energinya. Ibarat air yang mampu menghancurkan batu karang, mampu menenggelamkan seisi bumi di Zaman Nabi kecuali hamba yang dipilihnya Nuh ‘alaihissalam, dan selalu mencari tempat ter-rendah, begitu menakjubkan energinya. Ibarat api yang mampu membuat benda padat hancur lebur menjadi butiran debu, mampu menghantarkan panas kepada sesuatu yang dijilati nya, mampu menghanguskan apa saja kecuali air, begitu luar biasa energinya. Inilah energi cinta, cinta yang mendalam, cinta yang menderu, cinta yang merubah, cinta yang menumbuhkan, cinta yang akan membuatmu menjadi puitis meski engkau bukan pujangga, cinta yang membuatmu menjadi romantis meski engkau bukan pangeran ataupun permaisuri.

Selanjutnya cinta, melalui proses yang begitu rumit dan pelik, akan menghantarkanmu menuju kepahaman yang paripurna. Pemahaman yang paripurna ini adalah pemahaman tentang hidup, hidup ini untuk apa, hidup hendak di bawa kemana, dan esensi hidup berupa orientasi hidup seutuhnya. Semuanya bermula dari cinta, lalu jiwa dihardik oleh kondisi sekitar ketika pikiran membuncah karena kepahaman, cinta memulainya lalu menggerakkannya. Mencintai seseorang adalah salah satu dari sekian banyak bentuk cinta tersebut. Tetapi untuk cinta yang satu ini engkau harus waspada, engkau harus berhati-hati, sebab cinta ini menyangkut jalan kehidupanmu, sebab orang yang engkau cintai mungkin akan jadi pendamping hidupmu, mungkin juga tidak. Cinta yang satu ini harus benar-benar engkau seriusi, sebab mencintai seseorang konsekuensi logisnya dan untuk memuliakannya adalah pelaminan. Kapan cinta ini tidak berujung pada pelaminan, maka jangan berani coba-coba mempermainkan cinta ini, karena cinta sejati hanya dapat dibuktikan dengan pernikahan. Berani mencintai maka berani bertanggungjawab, berani mencintai maka berani melayani, berani mencintai maka berani berjuang, berani mencintai maka berani memimpin. Maka cinta kepada seseorang yang dilakukan dengan pacaran sebelum pernikahan, ini jelas-jelas perilaku yang merendahkan cinta, melakukan sesuatu yang di larang agama, ingin menikmati sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah akad, maka apa jadinya orang-orang semacam ini, terus menerus merendahkan cinta tanpa mau memperjuangkan cinta sejati, cinta sejati di pelaminan, cinta seutuhnya di mahligai pernikahan.

Mencintai itu akan mengubahmu, percayalah, ini bukan soal siapa yang di cintai dan siapa yang mencintai, juga bukan soal siapa yang memilih dan siapa yang dipilih, tetapi ini adalah persoalan pembuktian cinta dan perjuangan cinta, karena seberapa daya pun usaha dan perjuangan kita, Allah jua yang menentukan siapa jodoh kita meskipun kita ingin atau tak ingin, mau atau tak mau. Maka berjuanglah untuk cinta, bila ia memang pantas untuk di perjuangkan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berpesan bahwa wujud cinta kepada Allah adalah dengan mencintai orang yang juga mencintai Allah, mungkin ini bisa menjadi referensimu dalam memilih cinta. Maka tak heran bila di beberapa organisasi dakwah atau organisasi keislaman juga turut memfasilitasi perjodohan, karena ingin berikhtiar agar cinta yang diperjuangkan mengundang keberkahan dari Allah SWT. Cinta sesuatu yang tulus, murni, dan baik, sungguh sayang bila dicemari dengan perbuatan maksiat, karena percayalah cinta kepada seseorang yang tidak bervisi menuju mahligai pernikahan harus disudahi, harus segera diakhiri.

Wujud cinta adalah memberi, maka memberi adalah pemuliaan seseorang kepada yang di cintainya. Ibnu Qayyim juga pernah menyampaikan bahwa cinta adalah orbit sang pencinta kepada yang di cintainya. Memberi kepada yang di cintai adalah sebentuk perjuangan, sebentuk keseriusan dalam mencintai. Ibarat kubah langit yang tak berhenti memberi kepada dataran bumi, langit menjaga, langit memupuk, langit mencurahkan air, lalu bumi tumbuh dengan subur, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, makhluk yang ada di dataran bumi hidup dengan udara yang begitu nyaman. Tanpa pamrih langit terus memberi dan merawat bumi, energi ini terus hadir, energi memberi ini terus deras mengalir, sumber energi yang besar berasal dari cinta. Memberi dan terus memberi, yang bersumber dari ketulusan cinta, menjadikan orang yang di cintai terus berkembang, terus bertumbuh, terus menguat. Maka pastikan cinta yang engkau miliki seperti ini, cinta secara positif akan menumbuhkan, akan mengembangkan, akan menguatkan, orang yang di cintai akan terus bergerak, akan terus berubah ke arah yang postif, karena terus menerus di beri perhatian, terus menerus di beri kasih sayang, terus menerus di beri ilmu, terus menerus di bimbing, terus menerus di supply secara materi, hingga jiwa orang yang di cintai akan merasa membutuhkan, lalu yang terjadi selanjutnya adalah feedback cinta kepada orang yang mencintai yaitu juga dalam wujud memberi.

Seorang pemuda kurus dan berkulit gelap tidak pernah menyangka dalam perjalanannya mengarungi arus, dalam perjalanan perantauannya, bahwa dalam perjalanan tersebut akhirnya ia menemukan cinta. Tentu ini bukan perkara mudah, karena cinta adalah memberi, maka seorang lelaki harus berani berjuang, bukan lelaki namanya bila ia tak berjuang, bukan sang pencinta sejati namanya bila dalam perjuangan cintanya ia tak mampu berjuang untuk yang di cintainya. Bukan lelaki namanya bila berjuang untuk uang panaik (dalam adat Bugis Makassar) saja ia harus perhitungan dan tak mau berkorban, bukan sang pencinta sejati bila ia tak mau berjuang untuk memenuhi takaran mayam (dalam adat Aceh), sebab cinta sejati patut diperjuangkan, cinta yang tulus akan menarik akar kaki dan otakmu untuk berjuang diluar batas kemampuanmu, hingga ikhtiar maksimal dari sang pemuda kurus dan berkulit gelap ini di jawab oleh Yang Maha Cinta, bahwa sekeras dan sekuat apapun manusia berusaha, Allah lah yang menentukan hasilnya.

Sang pemuda kemudian bertemu dengan seorang bidadari penyuka ungu, bidadari bercahaya penuh cinta, siap memperjuangkan orang yang tulus mencintainya, siap memberikan apa saja kepada pemuda yang ditakdirkan Allah untuk menjadi pendamping hidupnya. Bidadari berwajah manis dari Kerajaan Sabah Melayu ternyata adalah jodoh dari pemuda kurus dan berkulit gelap tadi, namun pemuda ini mempunyai tekad yang kuat. Sajak-sajak dan narasi visioner yang sering di tuliskan oleh pemuda bertekad kuat ini sedikit terwarnai dengan nuansa romantisme, cita rasa sastra dan puisi yang padat makna, memang benar cinta itu mengubah seseorang. Kini dengan bersandingnya pemuda bertekad kuat dan bidadari penyuka ungu ini, kedua keluarga besar dari bumi tadulako dan bumi Arung Palakka bersinergi dan bersatu dalam ikatan keluarga. Perjuangan cinta tidak hanya sampai disini, karena setelah pernikahan fase perjuangan selanjutnya akan dimulai. Sungguh mulia Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Risalah nya menuliskan bahwa perjuangan setelah keluarga adalah masyarakat. Perjuangan ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman, maka beruntunglah mereka yang mengejawantahkan cintanya dalam pernikahan suci, sebuah perjanjian kokoh. Maka beruntunglah keluarga yang terus berjuang menegakkan kalimat Allah di masyarakat, bangsa, dan negara. Cinta adalah memberi, teruslah memberi, sumber energi memberi adalah cinta, maka teruslah berjuang, panjang jalannya memang, tetapi bagi para pejuang cinta, tidak lain dan tidak bukan ini adalah kesempatan untuk memberi. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing