Home / Berita / Opini / Erdogan dan Kudeta

Erdogan dan Kudeta

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (aljazeera.net)
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (aljazeera.net)

dakwatuna.com – Kudeta militer selalu punya dua sisi. Sukses dan mengambil alih kekuasaan, atau gagal dan siap-siap dihukum gantung. Para perwira dan tentara Turki tampaknya harus bersiap diri dihukum gantung sebab kudeta yang mereka lancarkan ternyata gagal.

Negara-negara Islam punya pengalaman buruk soal kudeta. Di Sudan, Jenderal Umar al-Bashir mengambil alih kekuasaan dari Presiden Sadiq al-Mahdi, tahun 1989. Sejak itu sampai hari ini, Umar al-Bashir menjadi presiden tanpa ada yang berani menentang. Uniknya, Bashir termasuk kepala Negara yang pertama kali mengucapkan selamat pada Erdogan. Basi!

Pakistan berkali-kali diambil alih militer; Ayub Khan, Zia-ul-Haq dan Perweez Musharraf. Semua berdalih untuk menyelamatkan negara, namun ujungnya adalah kekuasaan yang panjang. Kudeta paling monumental adalah yang dilakukan oleh Muamar Qadhafi di Libya. Dia mengambil alih kekuasaan dari Raja Muhammad Idris bin Muhammad al-Mahdi As-Sanusi. Ketika itu, Qadhafi baru berpangkat Kolonel dan masih sangat muda. Konon, mengingat dia hanya berpangkat Kolonel, seluruh pangkat militer di atasnya dihapus. Maka, untuk beberapa waktu lamanya, Libya tidak punya Jenderal.

Sementara itu, kudeta yang gagal di Turki menyisakan banyak hal menarik. Bagi Erdogan, kini dia paham betul siapa saja loyalis dan siapa pula musuhnya. Sejauh ini, sudah lebih dari 6000 tentara yang ditahan; termasuk dua orang Jenderal. Tercatat pula 160 orang sipil meninggal dan ratusan lainnya luka-luka. Sebagian yang meninggal karena berhadapan dengan tentara. Secara terbuka Erdogan menyebut Fethullah Gulen, tokoh oposisi yang kini bermukim di Amerika, bertanggung jawab atas kudeta yang gagal itu. “Mr. Presiden” teriak Erdogan di hadapan pendukungnya menirukan ucapannya pada Barack Obama, “I told you myself, either deport or hand over to us this person who lives in 400 acres of land in Pennsylvania.”

Apapun ucapan Erdogan kini menyihir rakyatnya meskipun sebenarnya, tokoh paling berjasa dalam memperkenalkan Islam dalam politik Turki modern bukan Erdogan. Dia adalah Necmettin Erbakan (1926-2011). Erbakan adalah Perdana Menteri pertama Turki yang membawa angin perubahan Islam, lewat gerakan ideologisnya, Millî Görüş. Erbakan terpilih sebagai PM pada pemilu 1996. Namun karena pandangannya yang sangat konservatif, dia kemudian “dikudeta” secara konstitusional oleh militer. Kesalahan utama Erbakan adalah sikapnya yang terlalu tegas (bahkan cenderung keras) dalam Islamisasi Turki. Berdasarkan konstitusi, Presiden Turki ketika itu, Sulayman Demiral, kemudian menunjuk Mesut Yilmaz menggantikan Erbakan. Mesut Yilmaz adalah mitra koalisi Erbakan dari partai Doğru Yol Partisi.

Erdogan justru antitesis Erbakan. Mula-mula dia adalah walikota di wilayah Istanbul, lalu menjadi Perdana Menteri. Dia merangkul seluruh elemen kekuatan negara dalam wadah partai AKP. Erdogan membangun partai dengan (ideologi) terbuka. Ia meninggalkan politik puritan, warisan Erbakan.

Adalat Ve Kalkimna Partisi (Partai Keadilan dan Pembangunan), partai yang didirikan, antara lain, oleh Abdullah Gul dan Erdogan, memenangi pemilu terakhir pada 1 November 2015 lalu. Partai itu meraup 49,5 % suara atau setara dengan 317 kursi DPR. Sisanya dibagi kelompok oposisi. CHP: 25 % suara atau 134 kursi DPR dan partai lainnya.

Pemilu November 2015 sebenarnya adalah pemilu yang dipercepat berdasarkan amanat konstitusi. Seperti diketahui, pada pemilu bulan Juni 2015, AKP gagal meraih suara mayoritas. Konsekuensinya, parlemen mengalami “dead-lock”. Secara konstitusi, partai pemenang pemilu berhak membentuk kabinet dalam 45 hari. Namun, Ahmed Davutoglu, pemimpin AKP, gagal membentuk pemerintahan karena partai oposisi (antara lain, Kurdistan Workers Party) tak berniat bergabung. Sebagai konsekuensi, selaku presiden, Erdogan berhak mengeluarkan dekrit yang pada pokoknya membatalkan hasil pemilu Juni 2015 dan memerintahkan pemilu dipercepat.

Kecuali pada pemilu Juni 2015 itu, AKP selalu memenangi pemilu secara meyakinkan: 2002, 2007, 2011 dan November 2015. Lalu, mengapa simpati publik sangat kuat? Ada dua hal menarik.

Pertama: AKP tidak terjebak pada perjuangan simbolisme agama. Sejak berkuasa, kabinet Erdogan (dulu saat jadi Perdana Menteri) sangat fokus pada kerja-kerja nyata yang menyentuh hajat hidup masyarakat banyak. Pembangunan digenjot, korupsi diperangi, dan – seperti diakui majalah berpengaruh, The Economist – “the most successful in Turkey in decades to negate the inflation rate!” Erdogan berhasil menekan angka inflasi yang sempat menyentuh 8 digit.

Turki memang negeri ajaib. Dulu, di Istanbul, sekedar minum kopi di pinggir jalan orang harus siap-siap merogoh kocek lima juta Lira! Maklum, satu dolar Amerika setara dengan 1.650.000,- Lira. Pelan-pelan, Erdogan melakukan redenominasi mata uang. Ia membuang enam digit angka di belakang dan memperkenalkan mata uang Lira baru, Yeni Turk Lirasi.

Usaha menekan inflasi ini, ternyata, berhasil. Turki pelan-pelan masuk ke negara dengan PDB (Produk Domestik Bruto) terbesar di Eropa. Bahkan ketika sejumlah negara di Eropa dilanda krisis akut seperti Yunani dan Spanyol, Turki justru mengalami surplus. Kuncinya, Erdogan memainkan “koneksi Timur Tengah” untuk mempertahankan pasar dan kekuatan ekonominya. Bahkan, secara politik, Istanbul pelan-pelan menggeser peran Teheran dan Washington dalam pentas politik Timur Tengah.

Di lain sisi, Erdogan terus menjaga komitmen Turki sebagai anggota NATO. Politik “dua kaki” Erdogan ini menaikkan nilai tawar (bargaining position) Turki di hadapan para tetangganya di Uni Eropa. Di satu sisi, ia sangat akrab dengan politik Islam dan Timur Tengah, dan di sisi lain ia menjadi katalisator NATO untuk mempertahankan kawasan bebas nuklir (non-nuclear zone).

Kedua: Erdogan berhasil membawa keluar AKP dari stigma partai politik Islam bergaris keras. Model Islam yang ditawarkannya bukan “talibanisasi” atau “wahabisasi” tetapi penyerapan tradisi-tradisi lokal dalam kehidupan politik. Emine dan Sumaya, istri dan anak Erdogan, misalnya, tidak menggunakan burqah. Mereka terlihat modis dengan jilbab motif bunga khas Turki. Ketika mengunjungi para pengungsi etnis Rohingya di Myanmar, Emine tampil bak bintang, bahkan mengalahkan pamor Julia Robert, aktris Hollywood di kesempatan yang sama.

Di sisi lain, secara legal formal, AKP melakukan tiga pekerjaan besar sekaligus; mereformasi konstitusi, mengintrodusir hak-hak sipil, dan mengembalikan peran militer sebagai pengayom kedaulatan. Ketiga pekerjaan itu dilakukan secara simultan untuk menjamin kelangsungan demokratisasi di Turki. Hasilnya, dua yang pertama berhasil, namun jalan untuk mengembalikan militer ke barak masih panjang. Peran militer yang semakin dikurangi membuat mereka jengkel. Maka, dari sini kita mengerti mengapa para tentara itu melakukan percobaan kudeta pada pekan lalu.

Mengembalikan militer ke barak memang bukan pekerjaan mudah. Karena itu pula, hari-hari terakhir ini Erdogan masih memerintahkan massa pendukungnya tetap waspada. Saya sendiri berpendapat, para pelaku percobaan kudeta harus segera diadili dan dihukum sesuai aturan yang berlaku. Dengan demikian, tentara tak mudah tergiur merebut hak-hak demokrasi yang dimiliki rakyat.

Dalam perang, tentara memang cuma punya dua pilihan: menembak atau ditembak. Mereka telah gagal menambak (dalam kudeta), maka bersiap-siaplah untuk ditembak (di muka peradilan).

Wallahua’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...
Menyelesaikan pendidikan dasar di Pondok Pesantren Attaqwa, Bekasi. Lalu melanjutkan studi ke International Islamic University, Pakistan. Kini, dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda, Bogor. Email: [email protected] Salam Inayatullah Hasyim

Lihat Juga

Seluruh Provinsi Turki Menggelar Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Organization