Home / Berita / Opini / Mengeja Jati Diri Erdogan

Mengeja Jati Diri Erdogan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (aljazeera.net)
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (aljazeera.net)

 

dakwatuna.com – Saya cermati pelbagai press release soal kegagalan kudeta di Turki. Yang paling cepat menolak kudeta hanya Qatar. Saudi sendiri nampak wait and see. Sedang UAE, Yordania, Palestina versi Mahmud Abbas, Suriah, menjadi negara yang “tersedak” kaget, karena sudah memberitakan suksesnya kudeta.

Semua negara berada di satu kubu dengan AS. Saat gagal. Langsung “mengutuk” kudeta, termasuk ormas-ormas Islam yang siang malam “nyinyir” dan sinis. Semua berlomba mengubah warna kulit. Mirip bunglon yang tetiba menjadi alim. “Kamilah yang selama ini dizhalimi.”

Setelah pasang muka manis. Tipe-tipe ahlul klaim wal kalam lalu menambahkan bumbu racun sianida. “Kudeta di Turki persaingan dua antek AS.” “Kudeta hanyalah kamuflase dan sandiwara.” Padahal sebelumnya koar-koar, “Militer Turki mengembalikan HAM dan demokrasi.” He he…

Alhamdulillah, Erdogan adalah tipe pemimpin. Saya menyebutnya Sultan. Toch ada yang marah-marah dari barisan HaTi Tersakiti. “Erdogan hasil demokrasi. Bloon bener disebut Sultan.” Lupa, yang hanya update status saja disebut amir.

“Kami bukan tipe manusia pembalas dendam. Mari terus menatap masa depan dengan ilmu, nalar, pengalaman, dan iman. Hanya Allah saja yang Maha Membalas amal hamba-Nya.” (Sultan Erdogan)

Bagi saya, Erdogan adalah fenomenal. Anda boleh menolaknya. Ia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh siapa pun yang jargon-jargonnya membumbung ke langit, ditolak. Sebab tak pernah hadir karyanya di bumi, selain caci maki.

Jadi diri Erdogan, menyeimbangkan antara asyiddaa’u ‘alal kuffar dan ruhamaau bainahum. Namun Erdogan memiliki bashirah plus kepiawaian taktik strategi, yang jarang dimiliki pemimpin muslim hingga dari kalangan Islamis sekelas Ikhwanul Muslimin.

Erdogan membaca sinyal sejak lama. Kudeta atas dirinya, akan terjadi menjiplak sukses kudeta di Mesir terhadap Mursi. Jika Mursi didominasi husnuzhan berlebihan. Kalangan Ikhwan di Mesir pun cenderung tidak bisa mengkanalisasi masalah. Maka kejeniusan startegi Erdogan, nampak pada penguatan kepolisian (Kemendagri) dan intelejen.

Erdogan waspada 100% terhadap militer. Namun sebagai PM beberapa periode. Erdogan mampu melakukan “cuci gudang” di kepolisian dan dinas intelejen dengan memilih orang-orang loyalis yang memiliki integritas dan kapasitas mumpuni.

Jati diri Erdogan murni sebagai khadimul ummah. Pelayan umat dengan kebangkitan ekonomi, keutuhan budi pekerti, keunggulan pendidikan moral dan sains teknologi, lalu mengembalikan kejayaan Turki Utsmani secara terstruktur dan massif. Hasilnya? Wajar jika panah-panah beracun. Mulai dari Palangis-Zionis-Liberalis-Sekularis-Syi’is-hingga yang jargonnya paling Islamis.

Haqqul yaqiin. Bila Erdogan sukses dikudeta. Kalangan yang pura-pura kampiun demokrasi akan berujar, “Erdogan sudah tamat.. Erdogan masa lalu…” Ketika itu. Suara antidemokrasi di kalangan umat Islam akan berhenti dengan sendirinya. Cukup Mesir jadi pelajaran! Kalla qad ballaghtu..fasyhad! (nandang/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Lihat Juga

Enggan Serahkan Gulen, Trump Malah Desak Erdogan Bebaskan Pendeta AS

Organization