Home / Berita / Opini / Apakah Erdogan Bersalah?

Apakah Erdogan Bersalah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (aljazeera.net)
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (aljazeera.net)

dakwatuna.com – Ada yang pura-pura bijak. “Kami apresiasi prestasi dan kinerja Erdogan. Tapi kami tetap kritisi kebijakan politiknya yang salah. Sebab ia manusia biasa.” Mirip perkataan Khawarij kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Ujung-ujungnya, ada udang di balik batu.

Semua tahu. Erdogan manusia. Tidak makshum. Tapi menyoroti kesalahannya di tengah serbuan musuh dari 8 penjuru, sama dengan menggelar karpet merah bagi musuh.

Mengapa Erdogan yang menjadi target? Tentu. Sebab ia adalah the iron man dengan segala maknanya. Ia bukan sekadar presiden. Tapi ia pemikul beban seluruh masalah di Asia-Afrika-Timur Tengah-hingga Eropa.

Jika Al-Fatih tersohor dengan petuahnya; “Perahu yang berlayar di perbukitan.” Maka Erdogan tidak sekedar membawa pasukan tempur. Namun membawa 90 juta rakyat Turki mengarungi pegunungan.

Erdogan awalnya didikte para pemilik modal dan konglomerat. Namun saat Erdogan menghentikan hutang ke IMF dengan melunasinya. Ternyata kedok konglomerat hanya mengeksploitasi politik demi korporasi.

Erdogan awalnya didukung elemen gerakan Islam. Kini mereka membencinya. Sebab Erdogan membuka tabir mereka. “Jargonnya memang ibadah. Tapi lebih menonjol bisnisnya. Lalu korupsi di balik jubah ibadah.”

Erdogan pun dibenci kalangan akademisi. Sebab Erdogan mencium gelagat anomali di balik gemerlap pamor mereka yang tak lebih menjadi budak kepentingan Barat. Mereka kini putus asa dan mencoba mempengaruhi opini publik, demokrasi bisa lahir dengan kudeta.

Erdogan pun dibenci kalangan nasionalis dan komunis Turki sekaligus. Sebab Erdogan menghapuskan aturan rasisme era Atatruk, dimana seorang Kurdi harus sumpah setia dan mengulang baiat, “Aku bangga jadi orang Turki.” Bagi Erdogan, rasisme atas nama apapun tertolak..

Namun Erdogan pun dibenci kalangan nasionalis Kurdi. Sebab Erdogan berusaha menjaga stabilitas pangan dan sumber daya yang menjadi logistik warga Kurdi. Erdogan yang merintis aturan sistem demokrasi yang menjamin persaudaraan antara Kurdi dan Turki.

Jangan lupakan. Erdogan pula yang berhasil mencegah perang saudara. Lalu membuka jaringan provokator yang bekerja siang malam, untuk menekan Kurdi memberontak kepada Turki.

Jadi, jika demikian, adakah kesalahan Erdogan? Jelas ada. Sebab ia bukan pribadi yang makshum. Hanya saja. Musuh-musuh Erdogan selalu menganggap salah hal-hal baik yang dilakukan Erdogan.

Jadi. Erdogan divonis negatif, bukan karena ia salah. Tapi memang. Musuh-musuhnya menerapkan standar ganda. Hal-hal yang dianggap salah, justru sebenarnya prestasi luarbiasa yang dicapai Turki di masa Erdogan.

Maka jangan aneh. Bila nanti ada yang share foto-foto aneh, tanpa pernah meneliti kapan dan apa latarbelakang Erdogan berfoto. Mengapa? Sebab sangat sulit mengkritisi Erdogan dari segi kemampuan ekonomi, persenjataan, obat-obatan, pangan, dan hajat publik yang makin melejit.

Ada yang komen. “Ngebet banget belain Erdogan!” Saya jawab enteng. “Yang belain pembohong saja gak ada matinya.” “Sono pindah ke Turki”. “Mosok beda pendapat saja langsung diusir.” Selamat hari Raya Idul Fitri. Semoga kembali kepada fitrah. Cinta kebenaran dan tak kenal lelah memperjuangkannya. (nandang/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Lihat Juga

Dua Warga Palestina Gugur dalam Serangan Udara Israel

Organization