Home / Narasi Islam / Ekonomi / Tapal Batas Zaman

Tapal Batas Zaman

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (10wallpaper.com)
Ilustrasi. (10wallpaper.com)

dakwatuna.com – Perjalanan waktu yang terus menapak tentu berbanding lurus dengan perkembangan pengetahuan. Zeitgeist pun berubah dengan pola dan tata laku teknologi yang mewarnai, akhirnya dunia berada dalam lipatan layar handphone dan terkendali pada sentuhan jari. Batas-batas negara yang  begitu luas dan jauh terbuka pada ruang tanpa sekat pada lintasan maya. Sehingga disadari atau tidak, perubahan menjadi sebuah siklus yang harus dilayani dengan tidak mengecualikan satu sisi sedikitpun.

Demonstrasi sopir taksi konvensional terhadap kebijakan pemerintah yang membolehkan moda trasportasi berbasis on-line adalah hal yang tidak dapat dihindari. Jika pemerintah lamban di dalam menyikapi regulasi yang mengatur mekanisme angkutan. Maka kita hanya akan menunggu menyalanya bara yang tersimpan di dalam sekam. Karena akan banyak inovasi kehidupan lain yang akan mampu menggantikan peran-peran manusia dan mempermudah aktifitas kehidupan.

Perubahan zaman yang begitu cepat tidak dapat kita pungkiri bahwa dunia dalam dekade ini mengalami sebuah dinamika. Kegagalan Nokia hendaknya menjadi pelajaran pada arus percepatan tersebut, yang semakin meyakinkan bahwa tidak ada kesempatan lagi untuk tidak berkembang dan mengalir. Ketidaksiapan kita dalam menyiapkan sebuah ledakan momentum akan menjadi masalah di keesokan hari. Piranti-piranti pendukung seperti hal nya teknologi hendaknya dijadikan sebagai sebuah batu lompatan yang menjadi jalan untuk dapat mensiasati keadaan.

Logika yang hendaknya terbangun adalah kita wajib menjadi bagian yang menyiapkan sebuah jalan tengah untuk berdamai dengan keadaan. Selanjutnya kita harus menjadi yang terlibat di dalam persiapan momentum untuk sampai pada perubahan sebuah peradaban. Bukan hal yang tidak mustahil ketika kita sampai pada era post-modern yang tantangan zamannya tentu akan jauh berbeda dengan era-era lalu. Kita dituntut untuk siap dan mampu berkompetisi dengan kondisi dimana batas-batas negara itu nyata tetapi sekat-sekat itu hilang ditembus oleh teknologi.

Regulasi

Percepatan teknologi yang tidak direstui regulasi akan berdampak pada stagnasi. Pertanyaannya adalah apakah teknologi yang harus menyesuaikan regulasi, atau regulasi yang dibuat secara umum sehingga inovasi dapat mewarnai. Kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlarut karena kita harus peka dan mampu membaca zaman dengan komperhensif. Inovasi dan kekuatan ide adalah harga mati dalam dunia post-modern saat ini. Mereka yang konservatif dan tidak mampu berkreasi dengan segala aktifitas kehidupannya, hanya akan menjadi bagian usang yang ada dalam catatan sejarah kehidupan manusia.

Kita tidak perlu berkoloni membangun sebuah company atau market yang besar dalam sebuah wilayah dengan dana yang melangit. Karena transaksi jual beli yang berjalan cukup dapat diaktifasi secara on-line yang dapat diakses cukup di kamar dengan layar komputer. Azas efisiensi dan efektif adalah daya tarik yang tidak dapat dipungkiri, selanjutnya dampak ekonomi menjadi sebuah variabel pokok dalam sebuah mekanisme pasar. Bahwa siapa yang mampu menawarkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, itulah yang akan dipilih.

Ekonomi Kreatif

Pola ekonomi pada kerangka kekinian akan mendobrak mekanisme pasar yang diatur dalam regulasi. Perilaku warga yang mengedepankan kemudahan akan terus diburu dan inovasi bermula dari sebuah ide yang tumbuh dari kebiasaan. Berkembangnya teknologi yang terus ke depan akan terus berbenturan dengan aturan. Maka, pertanyaan kedua yang sama kembali muncul adalah apakah regulasi dibuat dengan gambaran general atau sampai pada hal yang rigit.

Iklim ekonomi tentu harus ditumbuhkan dengan cara yang elegan. Para pelaku ekonomi hendaknya tidak terjebak pada aturan pasar yang membuat perjalanan ekonomi justru menurun. Semisal berkaitan dengan perizinan, pajak, badan hukum dan lainnya. Semua harus dibangun dengan cara yang sistemik dan kekinian. Semua regulasi dapat multi fungsi terhadap tumbuh kembangnya inovasi baru. Sehingga tidak ada lagi istilah kriminal pada sebuah pasar yang terus mengalami perubahan karena menumbur sebuah aturan tertentu.

Kita ingin menumbuhkan kondisi dimana bangsa ini mampu berdikari dalam ekonomi tentu tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat untuk berkembang secara mandiri. Keberadaan kelompok-kelompok kreatif dan profesional harus terus didorong sebagai bagian dari upaya perbaikan. Serapan ekonomi warga dengan keberadaan aplikasi angkutan on-line ini tidak dapat kita hiraukan. Bahwa ada yang menjadi berdaya dan tertolong secara ekonomi adalah bentuk dari upaya pengentasan kemiskinan. Hanya saja fenomena yang terjadi saat ini belum mampu ditangkap secara positif, sehingga keberadaan produk buah inovasi ini menjadi ancaman pada sebagian kalangan.

Epilog

Animo masyarakat yang terbangun pada tingkatan bawah dalam merespon masalah ini menjadi bola liar yang akan terus menggelinding. Hal ini tidak dapat berakhir pada sebuah regulasi dan disematkan pada kesalahan pemerintah. Premis utama yang dapat dijadikan sebagai sebuah konklusi bahwa, realitas zaman menuntut kita melakukan percepatan. Ruang-ruang dimana kreator dapat masuk dan menangkap minat pasar lalu diolah dan menjadi sesuatu adalah prestasi yang harus kita hargai. Bahwa ternyata ada aturan yang ditabrak adalah hal yang wajar dalam sebuah percobaan dan fungsi dari sebuah aturan adalah membangun role play yang sehat, iklim yang kondusif, bukan justru membatasi sebuah kreatifitas.

Selanjutnya kita harus mampu menangkap tanda-tanda zaman yang berkembang dan terus mengalir. Realitas yang terlihat pada lapisan masyarakat pada umumnya sudah siap dan mampu mengikuti trend perkembangan. Namun yang disesalkan adalah pola prilaku sebagian oknum yang terlibas dalam pertarungan pasar sehingga mengalami kerugian. Lalu berupaya untuk mencari delik masalah dan menuntutnya pada ranah hukum. Di sinilah negara harus mampu hadir dan menjembatani disparitas yang ada. Bahwa ada masyarakat, elit, pengusaha, pelaku ekonomi dan semua yang terlibat di dalamnya untuk mendapatkan sentuhan keadilan dan kesejahteraan yang sama. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa Program Doktoral (S3) PPs UNJ. Peneliti dan (CEO) di Orbit Indonesia. Analis di Indonesia Indicator.

Lihat Juga

Netanyahu Rayakan ‘Rekonsiliasi Arab’ dengan Rampas Rumah Palestina dan Tutup Masjidil Aqsha

Organization